Inilah Hidup


IMG_20160304_180608
Tubuh tergeletak, lelah, nyeri, dan terbadaya di IGD RSML.

Alhamdulillah. Entah berapa laksa kata itu muncul dari mulut dan hati saya. Sejuta kali pun rasanya tak cukup. Untuk ungkapkan rasa syukur saya atas kemuliaan yang diberikan kepada kami, saya dan Ana putri kami. Allah Ta’ala selamatkan kami dari malaikat maut yang telah berdiri di atas dada saya.

4 Maret 2016, jam 16.50 wib menjadi sejarah yang tak mungkin kami lupakan. Ketika di Jalan Raya Surabaya – Lamongan tepat di atas rel KA Deket, tubuh saya terseret sebuah dump truck. Kejadian yang teramat cepat. Ketika tubuh kami, jatuh ke atas aspal basah. Ana putri bungsu kami menggelinding menjauhi tubuh saya. Sementara saya sendiri tak mampu menahan laju dump truck yang mengangkut 20 ton kayu.

SubhanAllah. Maha Suci Allah yang memberikan segala. Putri kami selamat tanpa sebuah goresan pun di tubuhnya. Sementara tubuh saya yang sempat terseret sejauh 5 meter, akhirnya selamat. Meski sempat tak berdaya karena luka yang lumayan parah di betis hingga telapak kaki kanan. Tapi Allah telah menyelamatkan saya dari maut itu. Kecelakaan lalu lintas yang rasanya tak mungkin lolos dari maut, jika menggunakan logika.

Masih jelas jeritan Ana putri kami saat baru keluar dari kolong dump truck. Jeritan yang seolah memberi ‘kekuatan lebih’ untuk tetap hidup.

“Abi masih hidup anakku. Abi tidak apa-apa sayangku. Sabar ya…,” hiburku kepadanya di saat roda kanan depan dump truck masih ‘nangkring’ di atas kaki kanan.

Tak lama berselang setelah truk tersebut mundur ‘melepaskan’ beban pada kaki saya, terasa badan ini dibopong oleh beberapa orang ke pinggir jalan. Sementara masih saja tangisan Ana mengiringi saya.

“Lihat, abi tidak apa-apa bukan?” Saya coba yakinkan padanya bahwa memang saya tidak begitu mengkhawatirkan.

Sekitar 10 menit kemudian sebuah ambulans datang. Segera tubuh saya dipindahkan ke brankar. Sementara Ana tak ketinggalan masuk ke dalam ambulans, yang ternyata membawa kami ke RS Muhammadiyah Lamongan. Ana mulai bisa mengontrol diri. Meski sesekali terdengar isak tertahan dari mulut mungilnya.

“Maafkan abi ya, Na.” Lirih aku berujar sambil ku dekap dan kuciumi tangan mungilnya.

Malaikat kecil ini mungkin yang telah menjadi perantara belas kasih Allah kepada saya. Belasan tahun lalu lalang Mojokerto – Lamongan – Gresik, akhirnya terhempas juga di jalanan itu. C’est la vie. Inilah hidup. Kadang masih saja memberi yang terbaik dalam sebuah orkestra kehidupan yang muram.

Gusti Allah mboten sare. Yups, doa-doa panjang yang biasa kami lantunkan itulah seolah menjadi nafas panjang kami. Matur nuwun Ya Allah. Masih Kau berikan ‘perpanjangan hidup’ kepada saya. Untuk lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan. Lebih menyayangi isteri saya, serta anak-anak kami.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s