Ibu Tangguh Tanpa Mengeluh


09
Pernikahan adik ipar, anak ke-6 dari 10 bersaudara.

Tak terasa, sudah lima tahun ayah mertua tinggalkan kami semua. Meninggalkan lima orang anak yang masih yatim. Sementara baru empat orang anak diantara 10 anak yang sudah menikah. Termasuk istri saya yang merupakan anak tertua dari 10 bersaudara tersebut. Dan tentu saja, ibu mertua saya, ibu Zahroh demikian kami memanggilnya.

Hingga tak terasa, Alhamdulillah Kamis (24/12) kemarin anak ke-enam ibu menikah. Tepat dua hari setelah Hari Ibu.Peristiwa tersebut mungkin tidak terlalu istimewa di mata orang lain. Namun tidak demikian bagi saya. Ada sesuatu yang luar biasa yang membuat saya begitu kagum kepada beliau. Membesarkan 10 orang anak hingga menjadikan lima orang anaknya menjadi sarjana. Seorang diantaranya kini menjadi kandidat doktor di sebuah universitas Islam negeri ternama.

Menghidupi keluarga dari berdagang di warung kopi warisan dari bapak mertua, bukanlah perkara yang mudah. Di usia yang sudah memasuki 62 tahun, tenaga tentu saja sudah jauh berkurang. Hal tersebut membuat adik ipar ke-empat saya pun turun tangan. Ibu sama sekali tidak boleh ‘turun gelanggang’. Meski untuk hal tersebut mendapat penolakan yang cukup keras dari ibu. Maklumlah, masih ada 2 orang adik ipar saya yang masih menempuh kuliah. Sementara anak bungsu, baru kelas 6 SD.

“Saya bekerja itu untuk ibadah. Ibu ingin kalian semua tak sampai putus sekolah. Biarlah ibu seperti ini, asal kalian mampu menjadi orang yang berilmu. Menjadi orang yang berguna bagi agama, keluarga, bangsa, dan negara,” demikian pesan ibu kepada kami, para anak dan menantunya.

Demikian beliau selalu berpesan. Meski kini tak lagi menjenguk warung kopi yang dikelola adik, tapi beliau tetap saja tak bisa tinggal diam. Masih saja ibu Zahroh menyiapkan kopi yang ditumbuk secara manual. Diiringi dengan lantunan zikir panjang sampai dengan tugasnya selesai. Bukan main-main tentu saja. Sebanyak satu hingga dua kilo gram setiap hari kopi hitam bubuk disiapkan.

Terus terang, satu kilo gram saja saya sudah ‘klenger’ saat harus menumbuk secara manual. Zikir dan ikhlas tersebut mungkin yang menjadi kunci kekuatan ibu Zahroh. Pun demikian dengan cita rasa kopi yang disuguhkan. Hingga tak heran, meski warung kopi ibu mertua kami di kota Gresik, pelanggannya datang dari berbagai kota sekitar.

 

Berbagi Peran

10
Ibu mertua, ditengah-tengah kedua mempelai dan para adik ipar saya.

Dua kata yang menjadi kunci kedamaian di keluarga istri saya. Meski dapat dikatakan hidup dalam kondisi pas-pasan, kami tetap bersyukur. Allah memberikan kami sesuatu yang ‘berlebih’. Hampir seluruh putra-putri yang bersekolah atau kuliah mendapatkan beasiswa. Kondisi ekonomi membuat istri serta adik-adik ipar saya untuk memacu kemampuannya.

Dukungan dari anak-anak tertua kepada adik-adiknya juga menjadi pendukungnya. Saling berbagi peran menjadi sesuatu yang alami. Apalagi empat tahun bapak mengalami stroke, hingga wafat di tahun 2010 yang lalu. Tanpa banyak bicara, ibu Zahroh memberikan contoh kepada kami. Kesabaran serta ketelatenan merawat bapak membuat adik-adik ipar kami berbagi peran.

Adik-adik yatim kami tentu menjadi tanggung-jawab yang besar bagi kakak-kakaknya. Kami diajarkan untuk tidak mudah untuk mengeluh. Apalagi sampai berputus asa. Dari ibu Zahroh pula kami banyak belajar untuk selalu mensyukuri hidup dalam arti sebenarnya. Membumikan makna ayat bahwa Allah tak akan menguji hambaNya melebihi kemampuannya.

Seperti halnya keajaiban itu hadir. Tiga diantara 10 anak-anak ibu lulus sarjana saat ayah sudah tiada. Sementara saat ini masih ada dua orang yang masih menempuh jenjang sarjana. Seorang janda yang ‘hanya’ berjualan di warung kopi. Bukan di cafe atau  restoran mewah.

Di mata saya, ibu Zahroh adalah seorang sutradara handal bagi anak-anaknya. Hampir tak pernah sekalipun terselip keluhan saat bercerita tentang anaknya. Meski keluarga mertua kami bukanlah keluarga yang sempurna, tapi ada terselip kebanggaan. Bahwa anak-anak kami mempunyai teladan bagi kehidupannya kelak.

Dari neneknya, mereka banyak mendapatkan pelajaran hidup. Tak niat yang sia-sia, jika diiringi usaha keras dan tak lupa untuk selalu ingat kepadaNya. Banyak anak, banyak rezeki bukan menjadi motto hidup yang sekedar menempel pada tulisan lama. Atau menjadi bahan olok-olokan ‘kaum cerdik cendikia’.

Hidup berkeluarga adalah berbagi peran. Merasakan setiap bagian dari keluarga adalah bagian dari jiwanya juga. Jarak bukanlah menjadi halangan untuk selalu bersilaturrahim. Waktu tak perlu disiasati jika kita niatkan untuk berbakti. Sebab jarak dan waktu akan selalu memberi ruang bagi kita untuk bersimpuh memohon doa kepada orang yang kita cintai. Utamanya kepada ibu.

Saat ini pun saya yakin, masih cukup banyak sosok ibu seperti ibu Zahroh. Sosok ibu yang amat dibangga-banggakan oleh anak-anaknya. Sosok ibu yang menginspirasi hidup bagi anaknya, atau anak-anak yang lain. Sosok ibu yang selalu riang gembira meski beban hidup begitu berat menggelayut di pundaknya.

Seandainya bisa persembahkan bumi dan isinya untuk ibu, saya yakin hal itu tak akan bisa menggantikannya. Sebab ibu Zahroh, ibu saya, atau ibu yang lain pasti hanya berharap satu saja. Anak-anaknya dapat mencintai dan mengasihinya dengan sepenuh hati. Apalagi jika mampu menemani di usia senja mereka. Pasti mereka akan merasa bahagia.

Cukup sederhana bukan? Tapi saat ini seringkali anak-anak melupakan hal yang sederhana itu.

 

Iklan

6 thoughts on “Ibu Tangguh Tanpa Mengeluh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s