Nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia Untuk Indonesia


 

18
Selamat datang musim hujan, demam berdarah mengundang.

Hore…hujan telah datang. Bersiap mencari pedang untuk berperang. Bukan menyerang musuh atau membunuh teman. Tapi bersiap diri untuk membela diri saat nyamuk Aedes aegypti datang menyerang.

Sebait puisi di atas adalah gambaran suasana hati seorang blogger. Yang harus mengejar setoran (tulisan) di saat jam menunjukkan pukul 07.00 – 10.30 Wib. Waktu ideal untuk ngedraf atau apalah. Waktu ideal untuk duduk manis di depan laptop atau komputer. Waktu ideal yang juga menjadi waktu ideal bagi nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD) untuk menggelar operasi penyerangan.

Demikianlah sebuah gambaran dari pekerjaan seorang blogger di musim hujan. Selain berjibaku dengan kesempatan, speed internet, dan ide, juga harus bersiap menghadapi serangan nyamuk DBD. Maklumlah, nyamuk DBD saat ini sudah cukup kebal dengan obat nyamuk. Kemajuan teknologi informasi mungkin juga sudah mereka pelajari. Sehingga mereka sudah temukan formula khusus untuk hilangkan khasiat obat nyamuk. Hahahaha….

.

Yayasan Tahija dan EDP Yogyakarta

10
Foto pendiri Yayasan Tahija sedang mengunjungi lab. EDP Yogya.

Beruntunglah, wahai blogger dan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Saat ini tengah dikembangkan sebuah metode yang bisa menekan jumlah korban akibat DBD. Metode yang sedang diteliti oleh sahabat Fakultas Kedokteran UGM bersama dengan donatur Yayasan Tahija. Dimana nyamuk Aedes aegypti sebagai perantara bakteri dengue akan dilemahkan fungsinya. Akan ‘diberdayakan’ nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia yang dijamin bisa menggigit tapi tak akan menyebabkan DBD (lagi).

Nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia. Mendengar frasa tersebut, tentu kita menjadi bertanya. Ada jenis nyamuk Aedes aegypty baru lagikah? Atau nyamuk Aedes aegypti atau lebih dikenal dengan nyamuk demam berdarah (DBD) kini ada mutasinya?

Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, mari kita simak pengalaman saya mengunjungi laboratorium penelitian Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta (1/12).

Adalah sebuah Yayasan Tahija yang selama ini sudah cukup dikenal sebagai lembaga donor bagi kegiatan-kegiatan sosial di Indonesia. Yayasan yang didirikan oleh miliarder Indonesia asal Maluku, Paulus dan Jean Tahija, memilih UGM (Fakultas Kedokteran) sebagai mitra pelaksana penelitian di lapangan. Sejarah panjang yayasan dan UGM dalam hal keberhasilan penelitian membuat pilihan tersebut dijatuhkan. Demikian juga dalam proyek pemberantasan demam berdarah dengue di Yogyakarta. Penelitian yang merupakan bagian dari penelitian dunia dalam upaya penanggulangan penyakit melalui nyamuk.

Secara umum EDP ini memiliki tujuan untuk mengembangkan dan mencoba suatu hal yang inovatif, yaitu kontrol biologis berbasis Wolbachia pipientis (Wolbachia) untuk memodifikasi populasi nyamuk, dan selanjutnya untuk mengurangi transmisi dengue ke manusia. Mengingat dengue merupakan penyebab kematian balita hingga mencapai 8%. Sesuai dengan target MDG yang terkait kesehatan dan harus menurunkan angka kematian bayi hingga hanya 24 per 1000 anak.

Prinsip dari metoda penelitian ini adalah memasukkan bakteri Wolbachia kedalam populasi nyamuk Aedes aegypti. Mengapa bakteri ini yang dipilih? Sebab Wolbachia ini adalah bakteri alami yang terdapat 60% pada serangga. Namun bakteri ini tidak terdapat dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti. Diharapkan secara alamiah nyamuk Aedes aegypti ini tidak terinfeksi oleh Wolbachia. Padahal bakteri ini ada pada 76% serangga yang lain termasuk lalat, kupu-kupu, dan nyamuk. Efek dari Wolbachia pada Aedes aegypti adalah memblokir transmisi virus dengue.

Adapun untuk pelaksanaan penelitian sendiri mulai dilakukan pada Oktober 2011 yang akan dilakukan sesuai dengan tahap penelitian (fase). Fase yang diterapkan ada tiga (3) tahap meliputi:

  1. Fase I: Persiapan dan Kelayakan penilaian keamanan (Oktober 2011 – September 2013).
  2. Fase II: Penyebaran skala terbatas nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia (Oktober 2013 – Desember 2015).
  3. Fase III: Penyebaran nyamum Aedes aegypti pada skala luas (2016-2019).
19
Suasana Sidang TKPIPA Kemenristek RI, Des 2011. (dok. ristek.go.id)

Fase I telah diawali pada Desember 2011 yang lalu melalui sidang proposal pada TKPIPA di Kementrian Riset dan Teknologi RI. Setelah melalui uji materi proposal dengan berbagai pihak antara lain: Kemenlu, Imigrasi, BIN, BAIS-TNI, Mabes Polri, LIPI, Kemenhut, BPPT, Kembudpar, Asdep Jaringan Iptek Internasional, dan Asdep Kekayaan Intelektual dan Standardisasi Iptek, Kementerian Ristek. Perjalanan panjang uji materi ini akhirnya mendapatkan izin penelitian pada tahun 2013 yang lalu. Penelitian ini pun sebenarnya sejalan dengan PP 48 tahun 2009 tentang Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

13
Foto KGPA Pakualam IX (alm.) melakukan peletakan perdana ember telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia.

Untuk fase II telah dilakukan penyebaran nyamuk ber-Wolbachia secara terbatas di bebarapa daerah meliputi: Nogotirto, Kronggahan, Triahanggo, dan Kalitirto (Kab. Sleman) serta Singosaren dan Jombalangan (Kab. Bantul). Nogotirto, Kronggahan, Singosaren, Jomblangan dijadikan sebagai daerah penyebaran. Sedangkan Singosaren dan Jomblangan dijadikan daerah kontrol.

14
Foto pemasangan ovitrap di Dusun Jomblangan.

Upaya pelaksanaan pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dewasa di wilayah Nogotirto dan Kronggahan (22 Januari – 18 Juni 2014) menunjukkan hasil yang baik. Dimana tingkat keberhasilannya bervariasi antara 60-80%. Demikian seperti disampaikan oleh Bakti Andari, Manager Humas EDP-Yogyakarta. Tentu hal tersebut menjadi langkah awal yang cukup menggembiran. Dukungan pihak-pihak terkait, terutama pemerintahan dan warga desa menjadi kontribusi positif bagi keberhasilan pelaksanaan penelitian fase ke-2 ini.

.

Laboratorium EDP Yogyakarta

16
Para blogger KBJ berkesampatan ‘ngangsu kawruh’ di EDP Yogya.

Mengenal lebih dekat orang-orang dibalik layar EDP serta cara kerja mereka, tentu menjadi pengalaman tersendiri. Demikian juga saat 20-an blogger dari Komunitas Blogger Jogja diberikan kesempatan yang cukup mahal untuk bisa ‘ngoprek’ laboratorium EDP dengan lebih dekat. Membuat nyamuk Aedes aegypti yang sudah stres tambah klepek-klepek.

1
Mbak Bekti sedang menyampaikan sekilas tentang EDP Yogyakarta.

Dalam sambutannya mewakili EDP Yogyakarta, Bekti Dwi Andari, MA., menyampaikan bahwa EDP Yogya adalah bukanlah upaya pencegahan DBD yang berdiri sendiri. Penelitian sebelumnya telah dilakukan di Australia dan Vietnam. Indonesia menjadi negara ke-tiga sebagai negara pertama dengan karakteristik negara tropis. Dimana negara tropis ini sangat rentan terhadap terjadinya wabah DBD. Sebab kondisi tropis menjadi kondisi ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak.

Keterlibatan para blogger dalam kegiatan sosialisasi ini, akan memberikan dampak yang luas. Informasi yang diberikan tentu dapat ‘digetok-tularkan’ pada jaringan yang lebih luas lagi. Blog maupun sosial media dapat menjadi wahana informatif yang dapat menunjang pemahaman masyarakat terhadap dampak penelitian ini lebih lanjut.

Field Entomology Laboratory

6
Para peneliti sedang memisahkan nyamuk Aedes aegypty dg serangga yg lain.

Di dalam ruangan ini, kita bisa melihat para peniliti sedang melakukan proses pemisahan nyamuk Aedes aegypti dengan nyamuk atau serangga yang lainnya. Selanjutnya, setelah dilakukan proses pemisahan tersebut, nyamuk akan diberi perlakuan selanjutnya yaitu dengan menyuntikkan bakteri Wolbachia.

9
Peta sebaran area penelitian EDP Yogyakarta.

Oh ya, untuk mengambil sampling nyamuk demam berdarah, dilakukan dengan pemetaan khusus. Jadi tidak sembarangan daerah yang diambil untuk samplingnya. Hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan peta sebaran daerah yang menjadi uji coba dari proses selanjutnya. Hal itu dapat diketahui dari peta sebaran pengambilan sampling sebagaimana ditunjukkan gambar di atas.

8
Jangan pernah mencoba ini kalau Anda bukan ahlinya.

Di bagian ini pula dilakukan pemisahan antara nyamuk betina dan nyamuk jantan. Duh, kok bisa ya? Tentu saja bisa. Para ahli yang melakukan penelitian ini harus memperoleh pasangan nyamuk jantan dan betina yang nantinya bisa dikawinkan. Tentu saja nyamuk tersebut sebelum kawin akan terlebih dahulu disuntik bakteri Wolbachia.

Mosquito Rearing Unit

11
Ruangan yg begitu tenang, tiba-tiba diacak-acak oleh rombongan KBJ.

Setelah nyamuk dipisahkan di tahap pertama berdasarkan jenis kelaminnya, maka selanjutnya nyamuk disuntik dengan bakteri Wolbachia. Untuk itu nyamuk akan dikawinkan agar dapat menghasilkan telur yang akan menjadi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. Maka dilakukanlah proses penggemukan di area ini. Sekitar 20 pasang nyamuk akan diletakkan dalam kotak-kotak yang disediakan dengan mendapatkan perlakuan khusus.

Perlakuan tersebut beruba penatalaksanaan pemberian makan. Diharapkan pasangan nyamuk bisa sehat dan menghasilkan jumlah telur yang banyak dan memiliki kualitas yang baik. Diharapkan nantinya telur tersebut menjelma menjadi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dengan usia hidup yang pendek, yaitu 20 hari. Dimana di alam liar yang tanpa perlakuan khusus biasanya bisa hidup sampai dengan 30 hari.

Ruang Penetasan

12
Timba tempat penetasan telur nyamuk yg telah mengandung bakteri Wolbachia.

Nah, setelah ditetaskan di ruang pemeliharaan sebelumnya, maka telur-telur akan dipindahkan ke ruangan ini. Di ruang penetasan, suhu ruangan sangat dijaga. Termasuk tingkat kebisingan yang ada pun disesuaikan dengan kondisi di alam liar. Hal inilah yang cukup rentan untuk telur bisa menetas atau tidak.

20
Larva dari telur yg menetas inilah yg diharapkan menjadi musuh alami nyamuk Aedes aegypti.

Setelah menetas, maka diharapkan nyamuk-nyamuk ini akan dilepaskan kembali ke alam liar. Maka tujuan pelepasan itu sendiri adalah agar nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia ini dapat kawin dengan kawin dengan nyamuk Aedes aegypti biasa. Keturunan dari nyamuk berikutnya sudah mengandung bakteri Wolbachia yang tak akan berbahaya lagi jika menggigit manusia.

Selamat Datang Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia

17
Kantor EDP Yogyakarta. Kecil tapi besar manfaatnya untuk Indonesia.

Metode sederhana yang dikembangkan oleh EDP Yogyakarta ini, diharapkan ke depannya mampu menekan korban akibat DBD. Tentu partisipasi seluruh masyarakat diharapkan dapat membantu misi mulia bagi negeri tercinta ini. Sebagaimana disampaikan Enggal, salah seorang staf EDP Yogyakarta, bahwa penelitian ini tidak akan bisa ‘mulus’ jika tidak ada dukungan dari semua pihak.

Penelitian EDP ini sangat inspiratif. Dengan hanya memberi suntikan vaksin Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti, diharapkan keturunannya akan menjadi nyamuk Aedes aegypti yang tak berdaya. Bakteri Wolbachia akan membuat kekuatan dengue-nya lumpuh total. Satu terobosan di bidang kesehatan yang sederhana, tapi akan memberikan efek yang luar biasa.

Selamat datang nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. Selamat datang Indonesia yang lebih sehat di masa yang akan datang. Indonesia yang bebas dari serangan dan wabah DBD.

 

Iklan

6 thoughts on “Nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia Untuk Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s