Kenangan Itu Masih Ada


20151104_061011

Perlahan kakiku melangkah dengan pasti. Entahlah, tiba-tiba rasa kaget itu semakin membuat tekadku untuk menemuimu. Menepis puluhan tahun kenangan yang mungkin sempat membuatmu membenciku. Atau karena aku terbawa perasaan saja. Justru akulah yang sebenarnya membencimu. Enam tahun bukanlah masa yang pendek untuk saling memendam hati. Meski pada akhirnya semua harus dikatakan apa adanya.

“Iya, Bapak. Ada yang bisa dibantu?” Tiba-tiba saja sekuriti gedung sebuah organisasi sosial kepalangmerahan ini menghampiriku.

“Ehm…maaf ya, Pak. Mau menemui, Kabag. Ketenagaan. Bisa kan?” Tanyaku setengah memohon.

“Oh, Dokter Indah ya? Sepertinya beliau sudah datang barusan. Bapak sudah ada janjian dengan beliau?”

“Belum,” jawabku jujur.

“Tapi kemarin kalau dengan Dokter Andra, pagi-pagi gini pasti langsung bisa ketemu kok, Pak.” Aku coba untuk meyakinkan.

“Eh, sebentar. Sampeyan Mas Andri kan? Maaf, saya agak pelupa sekarang. Maklumlah, sudah mau pensiun.” Lalu beliau segera menyodorkan tangannya ke arahku.

“Pak Syarief?” Tanyaku tak kalah seru. Spontan tangan kami saling berpaut. Bersalam dengan penuh kehangat. Belum lagi pundakku yang ditepuk-tepuk dengan cukup keras.

Ah, tak terasa tiga tahun aku sudah tak pernah injakkan kaki di gedung ini. Bangunan yang penuh sejarah bagiku. Hampir 12 tahun menjadi relawan. 10 tahunnya aku habiskan waktu dengan tinggal di mess belakang gedung utama. Dulu kami biasa menyebut  mess tersebut dengan ‘Sanggar Kere’.

“Wah, Mas Andri sekarang tambah ganteng dan gagah. Gak koyok jaman biyen yo, Mas?” Kerlingan mata lucu ke arahku membuat aku tertawa setengah terbahak.

Mosok seh, Pak? Aku yo pancet ngene ae lho.” Jawabku dengan logat khas Suroboyoan.

“Bener, Mas. Asli. Sampeyan tambah ganteng dan perlente. Tadi tak pikir bos dari mana gitu. Hahahaha….”

“Wis. Terus Dokter Indah itu siapa? Aku kok malah baru dengar namanya, Pak?” Penuh kekepoan aku bertanya.

“Oh, itu pengganti Dokter Andra, Mas. Beliau sekarang ditarik ke markas pusat. Terus diganti sama Dokter Indah yang berasal dari markas pusat. Barter atau apalah namanya kalau gak salah, Mas.”

“Terus…”

“Ya, gitulah. Dokter Indah ini juga ngajar di UNAIR, Mas. Nyambi jadi dosen katanya. Dulu kuliah ahlinya di Jakarta,” lanjut Pak Syarief.

“Cuma ya itu. Sekarang prosedurnya agak gimana gitu kalau bertemu beliau. Harus janjian dulu. Semua sekuriti diinstruksikan begitu. Padahal ketemu kepala markas saja gak seribet itu.” Terlihat Pak Syarief menghela nafas.

“Kok gitu, Pak,” aku jadi tambah penasaran saja.

“Orangnya pendiam dan tertutup, Mas. Mungkin karena janda itu kali. Eh…,” dengan mimik agak lucu, Pak Syarief membekap mulutnya sendiri.

“Maksudnya, beliau mungkin lebih menjaga dirinya agar tidak sembarang ketemu oran.”

“Ketemu orang sembarangan kayak saya gitu maksudnya, Pak?” Tanyaku sembari bergurau.

“Ya mungkin gitu kali. Biar gak ketemu orang sembarangan kayak sampeyan. Hahahaha…” Tawa kami pun segera meledak bersama tak tertahankan.

“Pak Syarief, dipanggil ibu.” Tiba-tiba tawa kami pun terhenti.

“Dokter Ratri? Bukan Pak Syarief, Dokter Indah.” Jawab seorang yang berbaju sekuriti dan baru aku kenal sepertinya.

“Yo wis. Kamu gantikan aku dulu ya, Bud. Ini sekalian aku mengantar Mas Andri yang kebetulan mau ketemu beliau.”

“Siap, Pak!”

“Oh ya, sekalian kamu telepon ke ruangan Dokter Indah. Aku datang sama tamunya yang bernama Mas Andri.”

“Siap!”

*****

“Mas Andri, sampeyan tunggu di sini dulu ya. Nanti saya sampaikan dulu ke Dokter Indah. Sampeyan boleh masuk atau tidak?”

“Siap!” Gayaku menirukan Budi, sang sekuriti mitra Pak Syarief.

“Hehehehehe….sampeyan ini ngledek saya ya?”

Sambil berlalu menuju pintu, beliau geleng-geleng kepala. Ah, Pak Syarief, meski tua masih saja terlihat enerjik dan tak hilang keramahannya itu.

Pintu sedikit terbuka, saat Pak Syarief disila masuk.

Jdaaarrr…! Wajah itu. Ya Allah, wajah yang sangat tidak asing bagiku. Tiba-tiba saja lutut ini terasa lemas. Bulir-bulir keringatdingin mengucur deras di dahiku.

Dokter Indah itu adalah Pramesti. Pramesti Indah Rahayu. Nama yang sangat lekat di hatiku 20 tahun yang lalu. Pramesti yang sempat membuat hatiku teraduk-aduk di ujung akhir masa sekolah SMA-ku. Pramesti yang dari mulutnya pernah aku dengarkan kata-kata cinta. Ah, masa lalu. Mengapa engkau hadir di saat seperti ini.

“Mas Andri. Tunggu 10 menitan dulu ya. Setelah 10 menit baru boleh masuk?”

“Mas Andri!”

“Eh iya, Pak. Kok ngagetin saya?”

“Lho, situnya saya ajak ngomong tapi ngowoh saja. Dengar tidak? 10 menit baru boleh masuk.”

“Eh, ya. Dengar…dengar.” Sedikit gugup saya jawab pertanyaan Pak Syarief.

Kemudian ruang tunggu ini pun aku rasakan hening. Meski di lantai bawah cukup ramai dengan lalu lalang orang.

“Andri? Andri Fahrezi…” Suara yang sangat aku kenal menyadarkan lamunanku.

“Eh, iya. Bu Indah Pramesti. Eh, Dokter Pramesti Indah Rahayu kan?” Tanyaku terbata.

“Andri. Ehmmm…masuk yuk!”

Duh, masih saja aku belum bisa menguasai diri.

“Ya Allah, tolonglah aku.” Pintaku dalam hati.

“Aku sudah sedikit dengar ceritamu dari Pak Syarief. Maafkan aku ya, Ndri.”

“Ehmmm…aku yang minta maaf, Es. Aku yang salah.” Ah, penggalan nama yang 20 tahun juga sudah aku coba untuk lupakan. Esti, atau dikenal dengan Dokter Indah kini.

Kemudian tanpa aku sadari, Esti berlalu saja menuju sofa. Hempaskan tubuhnya dan menangis senggugukan.

Refleks segera aku tutup pintu yang masih terbuka karena aku masih beberapa langkah dari pintu. Segera aku mendekat. Mengambil kursi yang berhadapan dengannya.

Tubuh itu masih terlihat masih seperti 20 tahun yang lalu. Meski sedikit berisi, namun masih terlihat langsing karena tubuhnya yang semampai. Maklumlah, dia adalah kapten tim bola basket SMA kami. Cantik, cerdas, sportif, dan tak pilih pandang bulu dalam berteman.

Hingga tak sedikit cowok-cowok yang klepek-klepek dibuatnya. Apalagi keluarganya termasuk keluarga terpandang. Ayahnya seorang direktur rumah sakit daerah di kota kami. Figur seorang perempuan yang sempurna di mata cowok tentunya. Tak terkecuali aku.

Aku hanyalah berasal dari keluarga sederhana. Tapi alhamdulillah, sejak SMP prestasi sekolah tak jauh-jauh dari diriku. Pun dalam hal olahraga. Hingga puncaknya saat SMA, aku terpilih menjadi kapten tim basket putra SMA kami. Satu cabang olah raga yang cukup keren di mata remaja di pertengahan tahun 90-an.

“Andri, kamu mau maafkan aku kan? Aku begitu tertekan dan kalut saat itu. Sehingga akhirnya aku harus menjauh darimu. Menghilangkan segala jejak dari keinginan tahumu…”

Dan, tangis itu pun meledak. Segera aku ambil tisu. Perlahan aku sorongkan ke arah tangan putih itu. Meski aku sendiri pun akhirnya tak mampu menahan keharuan itu.

“Aku egois, Ndri. Kamu terlalu lugu. Dan aku sangat marah sebenanrnya. Kamu begitu lemah dihadapanku. Kamu tidak mau tahu bagaimana perasaanku. Enam tahun aku pendam rasa itu. Enam tahun, Ndri…”

Tangis itu seolah melemparkan diriku pada sebuah lorong yang amat gelap. Masih saja aku kaku terdiam. Mulutku seolah tercekat. Tak mampu keluarkan suara sedikit pun.

“Es…aku…aku…” Ah, mengapa lidah ini begitu keluh, Ya Allah. Ampuni dosa hambaMu ini.

Kringkring… Suara telepon memecahkan suasana yang entah aku sendiri tak begitu paham.

Perlahan-lahan sambil mengusap wajah, Esti mendekati meja.

“Ya. Beri saya waktu dua jam ya, Mbak. Nanti saya akan hubungi balik.” Suara sengau karena tangis tak lagi bisa disembunyikan mesti sudah ditahan.

Aku pun menunduk. Tak berani tatap wajah merahnya yang seperti menyimpan api.

“Aku sudah berusaha hilangkan jejakku pulahan tahun, Ndri. Namun rupanya Tuhan berkehandak lain. Mungkin inilah saat yang terbaik untukku berterus-terang kepadamu.”

Masih saja aku terdiam seribu. Kata-kata tak lagi mampu aku teruskan.

“Aku ke Australia. Hingga tahun ke-lima, aku temukan papanya anak-anakku. Aku harus memulai dengan sesuatu yang baru. Lupakan kenangan beberapa hari bersamamu. Beberapa hari yang membuat keluargaku menjadi marah luar biasa.”

“Maafkan aku Es.” Ah, akhirnya mampu juga aku berkata-kata.

“Aku sudah dengar semuanya dari Putu. Dia yang ungkapkan sedikit kisahmu, Es. Hingga, dari ratusan kawan dan sahabatmu, hanya dengan dia kamu masih mau berhubungan.”

“Kamu sudah tahu?” Matanya memandang tajam ke arah. Mata yang dulu sempat mengiris-iris hatiku.

“Setelah aku tahu seperti itu. Aku pun putuskan untuk menikah beberapa tahun kemudian. Sebab aku tak mungkin lagi mengharapkan kehadiranmu. Semua begitu jauh Esti.” Entahlah, pedih itu seolah kembali aku rasakan.

“Kamu sudah menjadi milik orang lain. Aku pun harus membangun harapan dari puing-puing hati yang patah dan berserak. Aku coba rekatkan cinta itu untuk istriku. Umminya anak-anakku.”

“Alhamdulillah, perlahan-lahan dengan kehadiran buah kami, aku dapat lupakan kekonyolanku dulu. Karena kebodohanku, aku pernah mencoba bunuh diri. Untunglah, ibu segera membawaku ke rumah sakit.”

“Kamu…?”

“Ya. Aku sempat mencoba bunuh diri saat aku tahu sudah tak bisa kuhubungi lagi.” Lirih ucapanku mengenang kejadian pilu itu.

“Aihh…aku pun demikian, Ndri. Inilah yang membuat keluargaku kalang-kabut. Sebab aku tak pernah mengaku apa yang sebenarnya terjadi. Dua minggu aku di rawat di rumah sakit. Hingga papa putusakan kami anak-anaknya untuk pindah ke Australia.”

*****

Sore ini langit cukup cerah. Meski akhir November biasanya hujan rajin menemani di sore hari. Taman bunga kota kami ini cukup ramai. Apalagi setelah beberapa minggu hujan mengguyur. Bunga-bunga pun nampak segar dan menampakkan warna-warni keindahannya.

Sambil berjalan menyusuri jalan kecil berpaving, kami mengawasi anak-anak Esti yang sedang bermain. Dua putri cantik yang sedang menikmati sore cerah. Sementara si sulung bersekolah di sebuah pondok pesantren yang cukup tersohor di Magetan.

“Sejak papanya anak-anak meninggal, aku putuskan untuk balik ke sini lagi, Ndri. Aku harus berani menatap kenyataan bahwa waktu akan merubah segalanya. Aku harus mampu mandiri untuk besarkan anak-anak. Meski kadang kelelahan itu merambat tanpa bisa aku tahan.”

Aku masih saja dengan setia menyimak ceritanya. Sebuah perjuangan luar biasa dari perempuan yang dulu begitu aku kagumi.

“Termasuk aku harus yakin bahwa akan mampu hadapi orang paling brengsek sedunia.”

“Aku, Esti?” Tanyaku bodoh.

“Hehehehe…kamu yang bilang sendiri kan?” Kami pun terdiam sesaat.

“Oh ya, assalamu’alaikum. Salam dari istriku tercinta. Maaf, tadi masih repot di sekolah. Menyiapkan akreditasi. Makanya tak bisa menemaniku di sini. Gak papa kan?”

“Gak papa, Ndri. Kapan-kapan saja kami yang ke rumah. Pasti anak-anakku senang kalau ada kolam ikan di rumahmu.”

Ah, sore itu pun kami berpisah dengan penuh akrab. Ternyata kesedihan yang dulu kami alami. Justru akhirnya membuat kami bangkit. Membuktikan pada dunia, bahwa hidup tak boleh disia-siakan.

…………..

Nyanyikan alunan lagu.

Yang mampu menyembuhkan lara hati.

Warnai hidupmu kembali.

Menarilah…

Bernyanyilah…

………….

Lamat-lamat aku dengarkan penggalan syair lagu ‘Dan Bernyanyilah’ milik Musikimia yang disetel oleh pedagang VCD di sekiran taman kota ini. Biarlah kenangan itu masih ada. Menemani gundah yang mungkin suatu saat menyapa.

________________________

Kota Pahlawan, 25 November 2015

Catatan:

  • Gak koyok jaman biyen yo = Tidak seperti zaman dulu ya.
  • Mosok seh = Masak sih.
  • Aku yo pancet ngene ae = Saya tetap seperti ini saja.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilahyang diselenggarakan oleh Musikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co

Iklan

4 thoughts on “Kenangan Itu Masih Ada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s