Mata Bening Tanpa Dosa


Menjadi pilihan sebagai asatidzah (ustadz atau ustadzah) adalah sebuah pilihan yang tidak ringan. Apalagi jika suami dan isri memiliki profesi yang sama. Menjadi tenaga pendidik di sebuah lembaga pendidikan. Belum lagi jika telah memiliki momongan yang tumbuh kembangnya harus diperhatikan.

Alasan tersebut di atas, membuat pengelola sebuah ma’had (pondok pesantren) di Prambanan Jogjakarta berpikir keras. Maka pilihan untuk menyediakan baby and children care menjadi alternatif wajib. Mengapa tak menggunakan istilah penitipan bayi atau anak? Nah, ada perbedaan fungsi yang mencolok diantara kedua lembaga tersebut memang.

Jika penitipan bayi atau anak, biasanya orang tua (ibu dan atau bapak) meninggalkan anak sepenuhnya pada jam tertentu. Seperti umumnya penitipan bayi/anak, sang buah hati ditingal atau dititipkan selama jam kerja orang tua. Setelah jam pulang orang tua baru mereka dijemput untuk pulang. Penjaga bayi/anak pun biasanya memiliki latar belakang pendidikan akademik yang (maaf) tak terlalu tinggi. Namun mereka dilatih dengan ketrampilan khusus sebagai baby sitter.

Namun, konsep baby and children care di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Prambanan Jogja ini sangat berbeda. Di sini, tempat pengasuhan bayi/anak terintegrasi dalam satu komplek perguruan pondok pesantren. Menempati sebuah rumah joglo dengan dua kamar istirahat yang cukup nyaman. Tenaga baby sitter rata-rata memiliki latar belakang akademik setara Diploma III. Ditambah dengan kemampuan perawatan bayi/anak, kemampuan baca/tulis Al-Qur’an, kemampuan untuk bercerita serta ketrampilan lain penunjang kepengasuhan.

Orang tua, baik ibu atau bapak sewaktu-waktu tetap bisa bercengkerama selepas jam mengajar usai. Demikian juga bagi bayi yang masih menyusui, sang ibu yang juga ustadzah memiliki waktu untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu). Tentu saja disela-sela waktu mengajarnya. Hal ini sesuai anjuran dari mudzir ma’ahad (pimpinan pesantren) bahwa  setiap ibu wajib menyusui anaknya. Maka di sini jarang dijumpai bayi/anak-anak yang menggunakan susu formula.

Perbandingan pengasuh dan bayi/anak yang ditangani adalah 1 : 4-5. Rata-rata bayi/anak yang dititipkan di sini adalah 14-20 anak per hari. Sehingga minimal ada 4 orang ‘bunda’ (sebutan untuk pengasuh) yang siap untuk mendampingi mereka. Dengan karakter yang berbeda pada diri tiap bayi/anak, maka sangat wajar jika hubungan para bunda dengan para orang tua juga sangat akrab. Apalagi rata-rata usia bunda adalah 30 tahun ke atas. Sementara para guru-guru muda yang mengasuhkan bayi/anaknya berusia rata-rata 25 tahun. Sehingga seringkali orang tua malah bisa menimba pengalaman dalam kepengasuhan kepada para bunda tersebut.

Kebetulan, saya dan istri saya memiliki kesempatan untuk bercengkerama dengan para bunda tersebut. Begitu juga dengan anak-anak asuh yang memang pada dasarnya, kami sangat mencintai anak-anak. Kesempatan itu saya peroleh saat menginap di ma’had saat menjenguk putri kami. Sebagaimana sekolah berbasis kepesantrenan, ma’ahad anak kami memilih Jumat sebagai hari liburnya.

Mengingat kunjungan yang boleh hanya satu kali selama sebulan, maka biasanya kami menginap. Kata istri saya tanggung jika pulang Jumat sorenya. Sebab jarak ratusan kilometer yang harus kami tempuh kadang membuat lelah juga. Pihak ma’had pun memberi kelonggaran kepada orang tua santri bila ingin menginap. Diizinkan untuk Sabtu pagi baru keluar dari komplek ma’ahad.

Karena penginapan kami saat itu juga merupakan salah satu rumah baby and children care, tak pelak, paginya kami pasti bertemu para bunda tersebut. Pun sekaligus bisa meluangkan waktu untuk ‘bercengkerama’ dengan anak-anak. Karena sudah beberapa kali bertemu, beberapa anak malah terlihat cukup akrab dengan saya. Bahkan ketika kami berpamitan untuk pulang, ‘koor’ jeritan tangis mereka pun pecah.

Sorot mata 'kekepoan' terlihat di wajah-wajah mereka. (dok. pribadi)
Sorot mata ‘kekepoan’ terlihat di wajah-wajah mereka. (dok. pribadi)

Sebagaimana terlihat pada foto di atas. Sebenarnya ada beberapa foto lainnya. Namun saya pilih foto tersebut, sebab ekspresi para ‘penggembira’ di belakang saya itu cukup menggemaskan. Mata-mata bening tanpa dosa sedang penuh tanya. Saat saya mencoba untuk selfie, ternyata mereka ‘tidak puas’ hanya dengan sekali jepret saja. Maklum, hasil jepretan selfie saya tunjukkan juga kepada mereka. Sehingga gambar itu membuat mereka penasaran. Ingin lagi, lagi, lagi dan lagi.

Total ada sekitar enam (6) foto selfie bersama mereka. Dan foto di atas adalah salah satunya. Foto saya ambil menggunakan kamera ponsel Smartfren Andromax C3. Meski hanya beresolusi 3.0 MP, namun hasilnya cukup ‘menggairahkan’. Memang perlu ‘ketrampilan khusus’ untuk mengambil foto selfie. Sebab ponsel tersebut tak menyediakan kamera depan. Nah, hloh

Oh ya, Navisa yang pose-nya sedang menengok ke belakang itu juga seorang penghfal Al-Qur’an juga lho. Di usianya yang baru menginjak  tiga (3) tahun, sudah hafal 3 juz terakhir Al-Qur’an (30, 29 dan 28). Maklum, abi dan umminya juga adalah para penghafal Al-Qur’an juga. Pastinya, di tempat ini saat para bayi sedang menangis pun, hiburannya adalah lantunan dzikir dan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari para bunda. Sangat menarik bukan?

.

#SelamatPagi #SmangatPagi

01-3

Iklan

18 thoughts on “Mata Bening Tanpa Dosa

  1. ~°• السلام عليكم •°~
    Mas mau tanya, baby yg bisa dititipkan mulai usia berapa y? Adakah contact person yg bisa dihubungi?
    Trmkasih

    1. Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

      Maaf, ya Mbak. Untuk sementara baby day care di PPM MBS ini hanya menerima putra/putri para asatiz di lingkungan PPM MBS saja.
      Semoga ke depannya, bisa juga menerima dari luar lingkungan pondok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s