Semalam Bersama Agnes Monica


15 meter sebelum pintu ke luar selatan Stasiun Hall Bandung. (dok. pribadi)
15 meter sebelum pintu ke luar selatan Stasiun Hall Bandung. (dok. pribadi)

Pagi itu, angka penunjuk waktu di gadgetku menunjukkan angka 08:49 Wib. Perlahan-lahan aku susuri koridur pintu ke luar selatan. Segera aku beranjak, saat aku temukan deretan bangku kosong. Tak berapa lama kemudian, sorak-sorai suara lugu bersahutan. Serombongan bocah lucu lewat di depanku.

Maskot Mister Loko punya PT. KAI Daop Bandung. (dok pribadi)
Maskot Mister Loko punya PT. KAI Daop Bandung. (dok pribadi)

Ah, bahagia sekali mereka. Seolah mengembalikan ingatanku pagi ini, bahwa aku pun harus bahagia. Melupakan rasa yang tak terkira sejak keberangkatan ku dari Yogya kemarin malam. Sempat menelan rasa sedih saat ketinggalan kereta. Judul film ‘Arini Masih Ada Kereta yang Lewat’ pun seolah mengejek ketakberdayaanku. Yah, hanya 5 menit berselang. Kereta yang seharusnya membawaku ke Bandung malam itu, beranjak pergi tanpa bisa aku cegah.

Alhamdulillah, masih ada ‘tangan ajaib’ yang mengentaskanku dari ketakberdayaan. Seorang petugas ticketing yang beranjak pulang menegurku pelan, “Maaf, Bapak hendak ke mana?”

“Ke Bandung dengan Turangga, Mas,” jawabku lirih.
“Aduh, jadinya Bapak ketinggalan ya?” tatapan sedihnya mengarah ke arahku. Lekat.
“Maaf, Bapak. Kalau bersedia, masih ada kereta malam ini ke Bandung?”
“Apa?” sergahku setengah tak percaya.
“Ya, Bapak. Kereta Mutiara Selatan, dua jam setengahan lagi akan berangkat dari Jogja,” lanjutnya meyakinkanku.
“Sungguh, Mas?” masih saja aku tak percaya. Sebab setahuku, kereta Mutiara Selatan Malam berangkatnya lebih sore dibandingkan kereta api Turangga.
“Coba saya cek dulu ya, Pak. Bapak boleh kembali ke depan loket,” tangannya berayun mempersilaku untuk ke luar menuju loket pembelian tiket.

Aku lihat tirai biru yang tadinya tertutup kini terbuka.
“Bagaimana, Mas? Masih ada kursi tersisa?” tanyaku penuh harap.
“Alhamdulillah, Pak. Masih ada. Mau yang eksekutif atau bisnis?”
“Bisnis paling murah ada kan?” langsung saja aku putuskan. Sebab isi kantongku sepertinya hanya sanggup untuk membeli tiket kelas itu.
“Ada Bapak. 290 ribu dan 255 ribu,” sang petugas baik hati itu menawarkan.
“Yang 255 ribu saja ya, Mas. Tolong dekat jenedela saja,” sambil segera aku buka dompet yang ternyata tinggal tersisa beberapa lembar uang puluhan ribu saja.

Sambil aku berputar otak, bagaimana caranya agar aku bisa menambah isi dompetku. Aha…aku ingat. Uang tagihan barang yang di Solo ternyata belum ku ambil. Seharusnya Ahad kemarin bisa aku ambil. Lalu tanpa berlama-lama, aku segera kontak ke Solo. Syukurlah, uang tersebut malam ini siap diambil. Sekalian mengantarkan barang pesanan, aku putuskan untuk ‘menunggu’ kereta di stasiun Solo Balapan saja.

Maka meluncurlah petang itu aku menuju Solo. Cuaca yang mendung basah rupanya tahu kondisiku. Sepanjang perjalanan aku lihat bekas hujan tipis telah mengguyur. Beruntunglah aku sama sekali tak dicicipi rinai petang itu. Sehingga galau ku pun menjadi tak terlalu. Hanya satu jam jarak Jogja – Kestalan Solo aku tempuh.

Urusan lancar segera meluncur ke stasiun Balapan Solo. Tak beberapa lama kemudian, kereta yang aku tunggu hadir di depanku. Ku tengok lagi nomor gerbong dan nomor kursi yang tertera di tiketku.Setelah ketemu, syukurlah ternyata aku ‘sorangan wae’ (senderian saja. Jw.). Maka segera aku lemparkan diri dan kepenatanku di kursi yang lumayan empuk itu.

Rasa lelah dan setengah kecewa yang menumpuk seolah sirna. Saat memandang wajah di depanku yang penuh pesona. Ah, kamu cantik. Agnes Monica ya? Gumam parau di dalam hatiku. Maklum suaraku pun kini menjadi tercekat. Memandang wajah hitam manisnya seolah menggerus lelah dan kecewaku itu.

Agnes Monica kan? Tanyaku setengah ragu di dalam batinku. Lalu ku amati tanda tangan itu. Yups, dirimu memang Agnes Monica. Sebab yang ku tahu, saat ini dirimu sedang berada di Amrik. Entahlah, mau kuliah, mau kerja, mau nyanyanyi atau mo nikah, aku tak begitu peduli. Yang penting, aku pastikan semalaman ini kamu akan temani perjalananku menuju Bandung.

Tepat seperti dugaanku, kamu begitu setia. Mengantar tidur panjang malamku tanpa keluh kesah. Senyum manismu menjadi obat penat dan lelahku. Mengantarkan ku menuju Bandung. Untuk segera bertemu para blogger #SahabatJKN dalam workshop seri ke-tiga. Kali ini bekerja-sama dengan KNCV yang bertajuk #LawanTB.

Bobo nyenyak bersama Agnes Monica. (dok. pribadi)
Bobo nyenyak bersama Agnes Monica. (dok. pribadi)

Terima kasih Agnes. Tak perlu tiket mahal untuk bertemu denganmu. Cukup dengan 255 ribu, senyummu hadir utuh bersamaku. Meski senyumanmu adalah senyum dua dimensi. Tak apalah, siapa tahu bulan depan bisa bertemu kamu seutuhnya. Dengan senyum tiga dimensimu.

#SelamatSiang #SmangatPagi

[Artikel pertama Pekan Ke-10 #LBI2015 Tema Bebas.]

Iklan

10 thoughts on “Semalam Bersama Agnes Monica

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s