Maaf, Saya Juga Manusia Seperti Anda


Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu
tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu
sekilas galau mata ingin berbagi cerita

Kudatang sahabat, bagi jiwa
saat batin merintih
usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku
biar terbagi beban itu
dan tegar dirimu

Di depan sana cah’ya kecil tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan
menghadapinya
Sekali sempat kau mengeluh, kuatkah bertahan?
satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh

Sebut saja namanya mak Acih. Pukul enam pagi harus bersegera berangkat ke Klinik TB DOTS RS. Hasan Sadikin Bandung. Maklumlah, jarak antara rumah dan rumah sakit hampir 30-an km. Itu pun naik angkot harus oper sampai tiga kali.  Diantar oleh putrinya yang terpaksa izin tak masuk sekolah. Berusaha untuk menumbuhkan harapan agar ‘Pak Dokter’ dapat menyebuhkan penyakitnya.

Ya, mak Acih adalah salah satu diantara ribuan pasien Klinik TB DOTS RS. Hasan Sadikin Bandung. Sudah lima bulan berjalan, dirinya harus mondar-mandir ke rumah sakit tiap seminggu sekali. Bukan satu aktivitas yang ringan tentunya. Tubuh renta dan ketakberdayaan ekonomi, membuat dia harus menerima uluran tangan untuk menanggung ongkos transpornya. TB (tuberkulosis) seolah menambah beban hidupnya yang sudah berat.

Berobat dan konsultasi rutin menjadi salah satu kunci kesembuhan pasien TB. (dok. pribadi)
Berobat dan konsultasi rutin menjadi salah satu kunci kesembuhan pasien TB. (dok. pribadi)

Tak ada seorang pun di dunia yang berharap mereka akan sakit. Apalagi sebuah penyakit yang begitu dahsyat efek fisiologis, psikologis, sosiologis hingga ekonomis. Sebagaimana mak Acih yang divonis menderita TB lima tahun lalu. Dunia seolah bertambah sempit baginya. Ada kebahagiaan sederhana yang seolah terenggut.

Namun, cukup beruntunglah beliau. Kerja keras dari petugas pelayanan dan relawan TB berhasil menumbuhkan kembali semangat hidupnya. Keyakinan untuk sembuh serta dukungan dari keluarga menjadi salah satu kuncinya. Sebab tak sedikit dari masyarakat yang mengalami sakit seperti mak Acih mendapat perlakuan yang sangat menyedihkan. Diasingkan, dipinggirkan oleh keluarganya. Bahkan tak sedikit pula yang terpaksa harus bercerai dengan suami atau istrinya. Sungguh sesuatu yang sangat ironis.

Dengan gaya lugunya, beliau menyatakan bahwa percaya saja sama ‘Pak Dokter’. Sebab ‘Pak Dokter’ tak akan membohonginya. Satu pengakuan sederhana bahwa untuk sembuh dari TB memang perlu keyakinan. Sekaligus kerja keras dari pasien, anggota keluarga, masyarakat dan petugas pelayan kesehatan. Sebab sinergi seperti ini lah yang dibutuhkan untuk menumbuhkan semangat dan hararapan hidup mak Acih-mak Acih lainnya.

Syair lagu ‘Usah Lara Kau Sendiri’ seolah menyadarkan kita. Para penderita TB tersebut sangatlah butuh uluran tangan kita. Minimal kita memberikan dukungan semangat dan motivasi bahwa TB dapat disembuhkan. Memberikan edukasi sosial kepada keluarga penderita maupun masyarakat bahwa tak seharusnya penderita TB tersebut diasingkan. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, untuk menjadi ‘cahaya kecil’ itu.

Allah tak akan merubah nasib suatu kaum, jika bukan kaum itu sendiri yang merubahnya.

[TQS Ar-Ra’du (13):11]

#SelamatPagi #SmangatPagi

Iklan

7 thoughts on “Maaf, Saya Juga Manusia Seperti Anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s