Begal Dibakar, Ada yang Salah?


Operasi yg digelar untuk mempersempit ruang gerak begal. (dok. Kompascom)
Operasi yg digelar untuk mempersempit ruang gerak begal. (dok. Kompascom)

Berita tentang pembakaran begal, mewarnai berita oflen dan onlen dua minggu terakhir. Astaghfirullah, mungkin hanya kata itu yang bisa saya ucapkan. Diawali dengan kasus pembakaran Hn (23/2), seorang pemuda tanggung yang tertangkap basah saat gagal melakukan aksinya. Malang baginya, warga Pondok Aren Tangerang Selatan,  tanpa ampun membakarnya hidup-hidup. Ketika bersama tiga orang kawanannya gagal melakukan aksi pembegalan terhadap dua orang pengendara motor.

Begal, kata yang di tahun 1970-1980-an sempat ‘berjaya’ namanya sempat ‘meredup’. Begal yang melakukan aksinya dengan menyamun atau merampas sesuatu di jalan, termasuk kejahatan yang sangat meresahkan. Sempat ‘senyap’ aksinya sejak ‘Operasi Kopkamtib’ di medio hingga akhir tahun 80-an. Operasi yang kemudian lebih dikenal masyarakat dengan sebutan ‘Petrus’ (penembakan misterius). Pelaku aksi-aksi kejahatan, termasuk residivis kambuhan, bergelimpangan dengan luka bacok bekas clurit. Termasuk para penjahat yang mayatnya kemudian dimasukkan ke dalam karung (baca: glangsing. Jw). Sehingga di Jawa Timur serta Jawa Tengah mengenal pula istilah ‘glangsingan’.

Sebuah shock therapy yang saat itu membuat ribuan, bahkan disinyalir malah puluhan ribu korbannya bergelimpangan. Saat itu, Kapolda Metro Jaya merasa begitu resah dengan tingkat kejahatan yang begitu tinggi. Sehingga kemudian muncul inisiatif untuk menembak mati, semua pelaku kejahatan jalanan yang tertangkap tangan. Bahkan selanjutnya Pak Harto, selaku Presiden RI, sangat mendukung langkah-langkah model seperti itu. Sebagaimana ungkapan beliau di dalam bukunya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989), yang ditulis Ramadhan K.H., yang bunyinya seperti di bawah ini.

Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan.. dor.. dor.. begitu saja, bukan! Yang melawan, mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak. Lalu, ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu. Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu.

Banyak akademis maupun mantan pejabat saat itu mengkritik. Tindakan yang terkesan main hakim sendiri dari aparat keamanan. Namun kenyataan di lapangan secara signifikan kejahatan jalanan menjadi turun drastis. Masyarakat pun merasa lebih tenang untuk melakukan aktivitas, utamanya aktivitas bisnis. Tak ada lagi kekhawatiran untuk aktivitas bisnis malam hari, atau melewati jalan nan sunyi. Ya, meski ada tuduhan di kemudian hari bahwa terjadi ‘pelanggaran HAM’, tapi itu lah resiko yang diambil oleh Pak Harto sebagai pemimpin negara.

Nah, begal rupanya saat ini menemukan momennya. Saat aparat keamanan disibukkan dengan hingar-bingar perebutan jabatan pemimpinya, pelaku kejahatan seolah menemukan ‘waktunya’. Mereka begitu berani, sebab berpikir bahwa aparat pasti sedang ‘lesuh darah’. Tapi satu hal yang tak diperhitungkan, bahwa masyarakat pun kini mulai berani untuk ‘melawan’ kejahatan tersebut. Mungkin rasa frustasi akibat lemahnya penegakkan kemanan dan ketertiban masyarakat, membuat mereka harus berinisiatif.

Membakar begal menjadi jalan pintas untuk memberikan shock therapy. Memberi peringatan kepada komplotan lain agar ‘kapok’. Masyarakat merasa dengan cara demikian lah hukum dapat ‘ditegakkan’. Sebab ada kekhawatiran jika mereka diserahkan ke polisi, maka mereka akan bebas dengan mudah. Selanjunta akan dengan mudah untuk menegulangi lagi perbuatannya setelah ‘lulus’ dari LP. Cara berpikir pragmatis akibat gagalnya aparat kemanan memberikan kepastian hukum kepada masayarakat.

Salahkah Perbuatan Mereka?

Jika pertanyaan itu diajukan, maka pihak pembakar itu pun pasti mengatakan salah. Namun alasan dari paragraf sebelumnya yang akan menjadi ‘pembenar’ dari tindakan mereka. Sejauh mana aparat kemanan bisa menjamin mereka tak melakukan kejahatan kembali? Sebab tindakan jalanan seolah sudah menjadi merek abadi bagi penjahat kambuhan. Belum lagi kesadisan mereka untuk melukai, bahkan menghilangkan nyawa korbannya. Hanya demi motor, uang atau benda berharga lain, membunuh seolah menjadi hal biasa.

Lalu, bagaimana menurut pendapat Anda? Bagaimana pendapat hati kecil Anda, jika Anda lah yang menjadi korban dari kejahatan para pembegal tersebut?

#SelamatSiang #SmangatPagi

[Artikel pertama Pekan Ke-sembilan #LBI2015 Tema Bebas.]

Iklan

4 thoughts on “Begal Dibakar, Ada yang Salah?

  1. entah kenapa saya ingin petrus diadakan kembali apalagi aksi para begal dan geng motor yang bener-bener bikin ngeri, cuma ya pasti ada yang berkoar-koar soal ham padahal yang dibela juga ngelanggar ham duh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s