Indahnya Puasa Senin dan Kamis


Antre dengan tertib. Pembina pun harus antre lho...
Antre dengan tertib. Pembina pun harus antre lho…

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah sallallahu ‘alaiyhi wa sallam bersabda, “Seluruh amal disetor pada hari Senin dan Kamis, maka aku lebih menyukai saat mencatatkan amal tersebut dalam keadaan berpuasa.” [HR. Turmudzi]

Dari ‘Aisyah radhiyalluhu ‘anha berkata, “Rasulullah sallallahu ‘alaiyhi wa sallam selalu memilih puasa Senin dan Kamis.” [HR. Turmudzi]

Semua pasti kebagian kok.
Semua pasti kebagian kok.

Demikianlah dua hadis Rasulullah sallallahu ‘alaiyhi wa sallam yang begitu masyhur. Disamping masih ada beberapa hadis lain yang menyatakan pentingnya puasa sunnah Senin dan Kamis. Begitu pentingnya puasa sunnah tersebut, sampai-sampai belum ada ditemukan kisah yang kuat tentang Rasulullah meninggalkan puasa tersebut. Padahal sebagaimana janji Allah Ta’ala bahwa Rasulullah Muhammad dijamin untuk masuk surga. Begitu pentingkah kedudukan puasa bukan wajib itu sehingga Rasulullah merutinkannya?

Telah banyak tulisan tentang manfaat dan faedah disunnahkannya puasa Senin dan Kamis. Diantaranya adalah mempertebal keimanan kita, proses melatih diri dan hati untuk menahan hawa dan nafsu, menumbuhkan semangat solidaritas dan masih banyak lagi. Di sini sedikit saya akan bercerita bagaimana semangat menghidupkan sunnah Rasulullah itu bukan hanya pada urusan ‘malam Jumat’. Istilah yang telah dipelintir jauh dari makna sebenarnya.

Lauk plus sayur yang sederhana.
Lauk plus sayur yang sederhana.

Cerita berawal dari sekitar akhir bulan Ramadhan lima tahun yang lalu. Membayangkan suasana pasca Ramadhan yang biasanya kembali sepi. Tak banyak lagi hiruk-pikuk jelang buka puasa. Tak ada lagi kajian-kajian rutin jelang buka puasa. Maka digagaslah oleh takmir untuk tetap ‘menghidupkan’ semangat Ramadhan itu dalam kegiatan buka puasa Senin dan Kamis. Gayung pun bersambut. Para jamaah masjid Al-Muqorrobin di tempat kami begitu antusias.

Dua tahun pertama, agendanya ‘hanya’ kajian jelang puasa Senin dan Kamis serta takjil. Selanjutnya di tahun ke-tiga, mulai ada kemajuan. Para jamaah, terkadang menyiapkan juga buka (makan besar) setelah melaksanakan jamaah shalat Maghrib. Alhamdulillah, di tahun ke-empat dan ke-lima ini, makan besar telah menjadi agenda tambahan wajib.

Nasi melimpah dan sambel yang tak akan tertinggal.
Nasi melimpah dan sambel yang tak akan tertinggal.

Meski hanya menu-menu sederhana yang disajikan, namun tak mengurangi kenikmatannya. Bisa kembali merasakan nuansa Ramadhan seolah merupakan hal yang mahal. Hal tersebut sekaligus semakin mengokohkan tali ikatan silaturrahim diantara jamaah. Sehingga saya sendiri, saat dua minggu saja tidak berbuka puasa bersama, terasa ada sesuatu yang mengganjal.

Selain itu, dengan adanya kegiatan tersebut, banyak para musafir yang akhirnya tertarik. Selanjutnya, jika pas berada di masjid kami, tak sungkan lagi untuk bergabung pada rangkaian buka puasa Senin dan Kamis. Hal ini sekaligus menjadi daya tarik yang cukup dikenal di daerah kami. Sebab baru masjid Al-Muqorrobin ini lah yang mencoba untuk menghidupkan sunnah Rasulullah yang begitu agung dan luar biasa manfaatnya. Lalu, bagaimana dengan masjid di tempat Anda?

#SelamatMalam #SmangatPagi

[Artikel pertama Pekan Ke-delapan #LBI2015 Tema Bebas.]

Iklan

6 thoughts on “Indahnya Puasa Senin dan Kamis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s