Eksotisme Pasar Tradisional


Pasar tradisional. Pikiran kita pasti muncul gambaran yang sesuatu banget. Lebih kurang kayak begini mungkin: kumuh, penuh kubangan, semrawut, dan sulit diatur. Apalagi bagi saya yang sejak tahun 70-an sudah begitu akrab dengan pasar tradisional. Maklumlah, rumah berjarak cuma 100-an meter dari Pasar Wonokromo, Surabaya.

Ternyata, sampai saat ini pun wajah pasar tradisional (lama) tak begitu banyak berubah. Apalagi beberapa pasar tradisional besar di Surabaya dibangun sejak zaman Belanda. Hanya beberapa puluh pasar besar saja yang sudah disentuh dengan penataan gaya moderen. Meski butuh puluhan tahun untuk membuat sosialisasi bagi para pedagang agar bisa tertib. Sesuatu yang Indonesia sekali jika berbicara masalah ‘tertib’ pada pasar tradisional.

Demikian lah gambaran yang ada saat ini. Namun demikian, dibalik segala sesuatu yang berhubungan dengan pasar tradisional, ada 2 catatan menarik. Catatan pertama, tentu saja tentang semangat kewirausahaan. Bagaimana seorang pedagang yang hanya bermodal beberapa puluh unting (ikatan, Jawa.) kacang panjang atau kangkung sudah berani buka lapak. Tak perlu modal besar jika mau berusaha. Semangat dan keberanian untuk berusaha, itu lah yang utama.

Catatan ke-dua, ini adalah sebuah sudut pandang yang cukup menarik bagi seorang fotografer atau penulis (blogger). Banyak sisi menarik yang bisa kita tangkap. Mulai dari segi eksotisme dari para pelaku di dalam pasar. Hingga ‘menangkap’ semangat untuk berjibaku menaklukan keengganan hidup. Ada begitu banyak semangat yang kita tangkap. Dibalik letih dan lelahnya mereka dalam menjalankan aktivitas rutinnya.

Berikut ini beberapa gambar yang tertangkap kamera sahabat Rachmad Yuliantono, seorang fotografer asli Surabaya. Pengalaman bertahun mengembara di ‘Kota Gudeg’, berhasil mengasah batinnya untuk bisa menyatu dengan kamera. Tentu saja, dengan ‘restu’-nya saya mencoba merangkaikan gambar-gambar ciamik tersebut dalam satu untaian cerita.

Meluber di jalan.
‘Teretan dhibik’ meluber di jalan.
Bersiap menggelar lapak.
Bersiap menggelar lapak.

Para pedagang yang seringkali harus berjibaku dengan Satpol PP Kota Surabaya. Areal pasar ‘resmi’ yang sempit, membuat mereka nekat. Mereka berdagang turun-temurun. Meski akhirnya harus menyerah untuk ‘memakan jalan’. Sebab tak mampu untuk membayar sewa lapak resmi.

Sejalan berdua, mengayuh harapan.
Sejalan berdua, mengayuh harapan.

Becak motor menjadi pilihan alternatif untuk menghemat ongkos. Meski rawan sekali menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas.

Kanan, kiri, atas pun OK.
Kanan, kiri, atas pun OK.

Apapun dilakukan agar dagangan bisa terangkut. Butuh keterampilan dan latihan.

Awas, jangan sampai #GagalFokus!
Awas, jangan sampai #GagalFokus!

Bermodal sekeranjang kelapa, jadilah membuka lapak. Tak perlu modal jutaan atau milyaran untuk bisa memaknai hidup.

Sepedas harganya...
Sepedas harganya…

Harga cabe yang melangit, tak menuyurutkan pedagang untuk tetap menyiapkan dagangannya. Meski terkadang resiko besar untuk membusuk akibat sepinya pembeli. Ini lah hidup. Kadang tak selamanya manis. Pedas pun harus dirasakan, sebagaimana dagangan yang digelar.

Sayang anak...sayang anak...
Sayang anak…sayang anak…

Seperti kata pepatah: Sambil menyelam minum air. Sambil belanjan, bisa juga disambi momong anak. Tak peduli bahaya di jalan mengintai.

Beberapa set timbangan, siap disewakan. Profesi lagka.
Beberapa set timbangan, siap disewakan. Profesi lagka.

Profesi yang amat langka. Biasa ditemui di pasar besar di Surabaya, termasuk di Pasar Keputran.

Upss... awas jatuh!
Upss… awas jatuh!

Peran kuli angkut yang cukup vital. Mulai dari anak usia SD, hingga kakek-nenek pun ada.

Halo... saya 'no comment' saja ya.
Halo… saya ‘no comment’ saja ya.

Nah, salah satu eksotisme pasar tradisional juga nampak pada foto di atas. Monggo… belanja di pasar tradisional harga tak harus pas. Jika beruntung, membeli tomat bisa mendapatkan bonus durian. Opo tumon? (Apa mungkin? Jawa). Hehehe

[Artikel ke-dua Pekan Ke-tiga #LBI2015 Tema Bebas]

Iklan

9 thoughts on “Eksotisme Pasar Tradisional

  1. saya msh srg ke pasar tradisional. Dan pengen juga melakukan candid…banyak ekspresi yg bikin kita bisa lebh bersyukur dan menghargai orang lain

  2. Pasar tradisional masih tetap menjadi pilihan.Sampai-sampai ibu saya mempunyai langganan penjual dipasar tradisional daerah kami dan tentu saja akan memberi harga lebih murah. Membaca ttulisan ini membuat saya kangen dgn pasar tradisional dikampung halaman, kangen dengan aneka jajan pasar yang enak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s