Air Asia, Antara Musibah dan Kambing Hitam


3

Menutup tahun 2014, Indonesia lagi-lagi diberi cobaan berupa bencana. Mulai bencana alam, bencana ekonomi hingga bencana politik. Belum usai dengan ketiga bencana tersebut, kecelakaan Pesawat Air Asia Rute Surabaya – Singapura dengan nomor penerbangan QZ8501 menambah duka bangsa ini. Ahad (28/12/2014) akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi para keluarga penumpang dan kru pesawat tersebut. Setelah lepas landas dari Bandara Juanda Surabaya, beberapa menit kemudian dilaporkan kehilangan kontak.

Pesawat Air Asia tersebut dinyatakan hilang kontak dengan ATC Bandara Soekarno-Hatta pukul 06.12 Wib. Membawa sejumlah 162 orang yang terdiri dari 155 orang penumpang dan 7 kru awak kabin. Pesawat berjenis Airbus 320-200 ini masuk di jajaran maskapai Air Asia sejak tahun 2008. Total memiliki 23.000 jam terbang dengan 13.600 kali penerbangan menurut Airbus. Pesawat yang menjalani perawatan terakhir pada 16/11/2014 tersebut digunakan hanya untuk rute pendek.

Kemudian sebagaimana berita yang sudah banyak diulas, sampai hari ini Kamis (08/01) belum semua korban yang berjumlah 162 orang ditemukan. Baru 41 jenazah yang diketemukan dan 24 jenazah sudah berhasil diidentivikasi oleh Tim DVI (Disaster Victims Identification) Mabes Polri. Segala daya dan upaya seluruh jajaran Basarnas yang dibantu oleh berbagai pihak dalam dan luar negeri dikerahkan. Semua bertujuan agar dapat memperoleh hasil yang optimal dalam mencari korban sekaligus menemukan black box.

Belum usai dengan urusan pencarian, masyarakat sudah dihebohkan berita-berita yang tidak simpatik. Diawali dengan kemarahan Menhub Ignatius Jonan di Kantor Air Asia Cengkareng (02/01). Disusul kemudian dengan berita hari terbang Air Asia QZ8501 yang ilegal. Akibatnya adalah dibekukannya rute penerbangan Air Asia Surabaya – Singapura. Ditambah lagi dengan ancaman akan ditiadakannya penerbangan low price yang merupakan trade mark dari Air Asia.

Lengkap sudah musibah yang menerpa perusahaan penerbangan ini. Perusahaan yang memperoleh anugerah Asia’s Leading Low Cost Airline dalam ajang World Travel Awards 2014 ini tentu tak berharap kejadian buruk ini terjadi. Namun rupanya Tuhan berkehendak lain. Musibah pun tak dapat dielakkan. Selat Karimata menjadi saksi sejarah yang menutup tahun 2014 dengan catatan kelabu penerbangan Air Asia di Indonesia.

Lepas dari kondisi di atas, lewat Air Asia ini pula saya pernah merasakan penerbangan yang benar-benar murah dan nyaman ke luar negeri. Bayangkan, cukup dengan merogoh kocek tak lebih dari 250 ribu untuk terbang Jakarta – Singapura pulang pergi. Penerbangan di tahun 2013 itu semoga tak menjadi penerbangan murah terakhir saya. Sebab jika pemerintah benar-benar menutup pintu bagi penerbangan bertarif murah, tentu menjadi ‘bencana kecil’ bagi backpacker seperti saya.

Rupanya musibah yang menimpa Air Asia QZ8501 seolah hendak dijadikan ‘kambing hitam’ oleh pemerintah. Seolah pemerintah dalam hal ini Departemen Perhubungan RI menutup mata tentang bobroknya manajemen internal. Kalau toh penerbangan tersebut ilegal, maka akan aneh sekali jika pihak bandar udara Changi Singapore City ‘membolehkan’ untuk landing. Pikiran orang awam seperti saya pun pasti mengatakan tak masuk akal.

Sudah seharusnya semua introspeksi terlebih dahulu. Tak usah marah-marah dan mencak-mencak dengan pasang wajah sangar. Ini Indonesia, bung! Bobroknya birokrasi sudah amat parah. Jangan buru-buru nunjuk hidung orang lain dulu deh. Coba untuk periksa badan dulu. Siapa tahu bau itu asal muasalnya dari badan kita sendiri. Kenapa harus tunjuk hidung orang lain dulu jika kita mencium bau tengik.

Seperti kata pepatah: ala bisa karena biasa. Pihak maskapai bisa melanggar tentu karena biasa ‘diberi jalan’. Ini yang seharusnya menjadi pintu masuk untuk perbaikan. Bukan malah serta merta membekukan atau memberangus. Jangan lagi rakyat disuguhi dengan adegan-adegan konyol yang bodoh. Hendaklah musibah dijadikan muhasabah. Bukan malah mencari kambing hitam.

[Artikel Pekan Pertama #LB2015 Tema Bebas]

Iklan

9 thoughts on “Air Asia, Antara Musibah dan Kambing Hitam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s