Sulitnya Menjadi Pemimpin yang Tak Plin Plan


logo GA Om NH

Bu Risma sedang memimpin stafnya memperbaiki Taman Bungkul. (Foto koleksi R. Yuliantono)

‘A Self Reflection: Lomba Tengok-Tengok Blog Sendiri Berhadiah’, demikian judul lomba blog yang dihealt oleh Om NH. Sangat menarik, baru dan cerdas tentu saja dengan tema yang dipilih. Sebab baru kali ada sebuah lomba yang menilai artikel di blog sendiri. Ini yang saya tahu lho.

Diantara ratusan artikel yang saya tulis di beberapa blog, ada sebuah tulisan yang begitu berkesan bagi saya. Kisah seorang pemimpin perempuan yang begitu inspiratif dan aspiratif. Tri Rismaharini, demikian nama beliau. Walikota Surabaya perempuan pertama di Surabaya yang begitu gigih mempertahankan idealismenya. Di tengah kehidupan perpolitikan yang begitu keras, beliau berhasil memberikan contoh yang baik, bagaimana seharusnya pemimpin itu bersikap.

Balada Setusuk Es Krim‘ menjadi artikel yang cukup mengundang komentar. Komentar positif dan negatif bermunculan. Apalagi di tengah konstelasi politik saat itu menjelang PEMILU Legislatif dan PILPRES. Risma menjadi sesosok ‘mahluk’ langka yang saat itu patut disejajarkan dengan sosok seorang calon presiden. Dengan idealismenya, beliau berkomitmen tak mau ‘menelikung’ sumpah jabatannya sebagai Walikota Surabaya. Meski jabatan menteri sudah digadang-gadang akan disandangkan jika beliau mau ‘habis-habisan’ mendukung calon presiden partai pengusungnya.

Alhamdulillah, ternyata kata-kata beliau dapat dipegang. Artikel yang saya tulis sehari pasca tragedi es krim itu, begitu menggugah perasaan saya. Hingga tak sadar, ada kalimat yang cukup kasar sebenarnya untuk membalas kritikan terhadap beliau. Lengkap bunyi kalimatnya adalah seperti di bawah ini:

Lha saya saja yang lihat dan tak memberi kontribusi apa-apa saja menangis. Apalagi yang hampir tiap waktu bergelut untuk merawatnya. “Wis ta cak, sampeyan menengo ae. Babahno ta ibumencak-mencak. Wong masiyo ta ibu macul, sampeyan yo meneng ae. Gak usah kakean cangkem!” [“Sudahlah, Cak, kamu diam saja. Biarkan Bu Risma marah-marah. Meskipun ibu mencangkul, kamu juga diam saja. Tidak usah terlalu banyak komentar. Terj.Ind.]

Saya menulis artikel tersebut sekitar beberapa jam saja dari kejadian yang ada di dalam foto di atas. Saya menulis karena terdorong oleh beberapa komentar miring di sebuah kanal radio FM Surabaya. Ada sesuatu yang harus saya jelaskan pada khalayak, bahwa itu bukanlah pencitraan. Toh, tanpa diliput media, beliau juga sudah terbiasa seperti itu. Aktivitas yang dilakoni sejak beliau menjadi PNS di Dinas Tata Kota. Bahkan, 4 empat bulan sebelumnya, tulang betis kanan beliau sempat retak karena terserempet motor. Menunggu petugas yang sedang memperbaiki saluran air di Jalan Darmo tanpa didampingi ajudan atau pengawal.

Mengingat hanya 25 menitan saja menulis saat di kantor Surabaya, maka ada beberapa kalimat yang sulit dipahami. Sebab saya tulis dalam Bahasa Jawa (dialek Suroboyoan) tanpa terjemahan Bahasa Indonesia. Maklum, hasrat sebagai ‘Arek Suroboyo’ menjadi terusik saat ibunya dihujat ‘sok alay’ dan ‘sok pencitraan’. Padahal saat ini sebenarnya sudah terbukti. Siapa yang sebenarnya yang ‘sok alay’ dan ‘sok pencitraan’, dan siapakah pemimpin yang plin-plan.

“Postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”

Iklan

6 thoughts on “Sulitnya Menjadi Pemimpin yang Tak Plin Plan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s