Membangun Dunia Baru Tanpa Diskriminasi


inklusi1
Sepabola Tim Difabel vs Tim Blogger. (Foto kolpri)

“Priiiiittt…..!” peluit panjang ditiup oleh sang wasit. Pertandingan sepakbola antara Tim Diffabel dari SAPDA melawan Tim Blogger dari Sleman pun dimulai. Satu tim masing-masing terdiri dari 6 orang, 1 kiper dan 5 pemain. Pertandingan dibagi menjadi 2 babak dengan durasi 15 menit per babaknya. Ditambah dengan 5 menit untuk waktu istirahat.  “Cring…cring…cring…! Gubrak! Aduuhh….!” terdengar suara gemrincing bola. Disusul adegan ‘ciuman’ kaki yang berakhir dengan terkaparnya seorang blogger. Adegan jatuh bangun dalam memperebutkan bola sungguh menarik. Miris sekaligus menggelikan. Para penonton dari awam maupun difabel begitu menikmati suguhan yang sangat langka ini. Teriakan aduh diselingi derai tawa serta sorak-sorai penontong mengalahkan kemeriahan lomba-lomba lainnya. Permainan yang mungkin cukup mudah bagi Tim Difabel. Namun tidak bagi Tim Blogger Sleman.

Teks gerakan kpd kiper Tim Blogger. (Foto kolpri)
Teks gerakan kpd kiper Tim Blogger. (Foto kolpri)

Hal tersebut seperti diakui oleh Lutfi, penjaga gawang dari Tim Blogger Sleman, “Sulit, Mas. Asli sulit. Mungkin karena belum terbiasa, saya sulit menebak arah larinya bola. Belum lagi karena tabrakan dengan tim sendiri atau tim lawan.” Demikianlah gambaran serunya pertandingan sepakbola dalam rangka Temu Blogger Nusantara 2013 (#BN2013) sekaligus peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional di Desa Tembi Yogyakarta (1/12/2013). Acara yang dikemas dalam tema ‘Membaur Bersama dalam Membangun Inklusi’ berlangsung cukup meriah. Kekalahan Tim Blogger dengan skor 4-2 itu pun sebenarnya sudah bisa diprediksi. Difabel Bukanlah Suatu Kecacatan Ada satu sikap yang selama seolah terpatri di pikiran awam, bahwa kaum difabel adalah kaum cacat. Padahal hal itu adalah salah besar. Contoh pertandingan sepakbola di atas menjadi pelajaran. ‘Kaum normal’ menjadi mati kutu saat diposisikan sebagaimana tim difabel (tuna netra). Di sinilah Tuhan menunjukkan KekuasaanNya. Bahwa dibalik kekurangan tersebut, terdapat kelebihan yang tak dimiliki oleh non-difabel.

M. Joni Yulianto, Ketua SIGAP memberi sambutan. (Foto koleksi pribadi)
M. Joni Yulianto, Ketua SIGAP memberi sambutan pada #BN2013 yang lalu. (Foto koleksi pribadi)

Pun demikian dengan apa saja raihan prestasi yang dintunjukkan oleh M. Joni Yuliantono. Direktur Eksekutif SIGAP (Sasanan Integrasi dan Advokasi Divabel) ini berhasil menorehkan prestasi akademik yang luar biasa. Menyandang gelar MA (Master in Disability Studies) dari Inggris dan MPA (Master in Public Administration) dari Singapura mungkin hal yang sulit juga diraih oleh non-difabel. Hal tersebut penjadi pemicu semangat bagi rekan-rekan difabel yang lain. Sekaligus menjadi cermin bagi non-difabel bahwa tak ada perbedaan untuk mewujudkan cita-cita bagi setiap anak manusia. Keterbatasan fisik maupun non-fisik tak akan menjadi sandungan berarti jika semua mau bekerja keras untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan cita-citanya.

Name
Sugeng (52) pembuat kaki palsu inovatif. (Foto koleksi Indonesiahebat Org.)

Betapa banyak saat ini kaum difabel lainnya yang memiliki prestasi mendunia. Bahkan dengan beberapa ketrampilan khusus mampu membuat inovasi yang berpaten internasional. Hal ini ditunjukkan oleh Cak Sugeng (Sugeng Siswoyudono) dimana kaki palsu buatannya sampai saat ini telah dibuat dengan 7 model/versi sesuai dengan tingkat difabilitas kakinya. Pria yang berdomisili di Mojosari Mojokerto ini telah membuktikan bahwa kaki palsu buatannya tak kalah kualitasnya dengan kaki palsu impor. Semangat Inklusi Membangun Dunia Baru Tanpa DiskriminasiSaya sama seperti Anda, tapi Anda berbeda seperti saya“. Sebuah kalimat yang begitu dalam maknanya. Dimana ungkapan itu menjadi awal membangun semangat inklusi. Kita kaum awam seringkali berpikir ‘Anda berbeda dibandingkan saya’, saat melihat ada ‘satu kecacatan’. Dimana kecacatan itu sendiri sebenarnya tak akan diinginkan oleh kaum difabel itu sendiri. Cara berpikir demikian itulah yang seolah membuat kaum difabel menjadi terpinggirkan, termarjinalkan. Baik itu disengaja atau tidak disengaja. Banyak hak-hak mereka yang akhirnya terampas, sebab kaum non-difabel merasa hak-hak tersebut bukanlah menjadi kewajiban mereka untuk memenuhinya. Sebagaimana banyaknya fasilitas umum yang dibangun tanpa memperhatikan kemudahan untuk kaum difabel menjalankan aktifitas. Di sinilah yang seharusnya menjadi titik balik, bahwa ada kewajiban bagi kita untuk menyediakan hak-hak kaum difabel. Demikian juga sebaliknya, ada kewajiban kaum difabel untuk tetap menyuarakan haknya sebagai ‘Saya sama seperti Anda’. Yang berhak memperoleh kemudahan yang sama sebagaimana non-difabel peroleh. Misalkan mudahnya memperoleh/ mendapatkan fasilitas transportasi umum yang memadai. Jangan pernah merasa ‘minder’ dengan apa yang Anda alami sebab ‘Saya sama seperti Anda’.

Mas Joni sedang menyampaikan sambutan di tengah para Blogger Nusantara. (Foto kolpri)
Mas Joni sedang menyampaikan sambutan di tengah para Blogger Nusantara. (Foto kolpri)

Semanggat inklusi ini telah menginspirasi sahabat difabel dan blogger yang berkumpul bersama dalam forum Temu Blogger Nusantara 2013. Tema ‘Blogger Nusantara, Blogger Istimewa‘ yang diusung dalam #BN2013 menjadi begitu istimewa. Sebab bisa menyatukan diri antara ribuan blogger se-Indonesia bersama dengan sahabat difabel dalam satu kegiatan bersama. Desa Tembi Bantul menjadi saksi keakraban yang bertepatan dengan peringatan Hari Penyandang Difabilitas Internasional tepat setahun yang lalu. Ada rasa haru, kagum, dan kebersamaan yang begitu lekat. Seolah memang tak ada lagi sekat batas atau pembatas sebagaimana tema Break Barriers, Open Doors: for an incklusive society and development for all (Retas batas, Buka Pintu: membaur bersama untuk membangun masyarakat inklusi). Ada rasa kangen untuk kembali hadir pada kegiatan serupa di tahun ini.

Pameran hasil karya penyandang difabel pada #BN2013. (Foto kolpri)
Pameran hasil karya penyandang difabel pada #BN2013. (Foto kolpri)

Semangat dari Desa Tembi itu tentu diharpkan bisa menjadi virus positif. Cepat dan tepat menyebar di hati kita. Bahwa kita hidup berdampingan antara sesama manusia ini dengan karakteristik diri masing-masing yang unik. Keunikan inilah yang akan pembangunan lingkungan. Superman, Batman, Hulk atau Megaloman hanyalah kisah khayalan dan imajinatif.

Diskusi, Mas Joni dan Mbak Ipung. (Foto koleksi pribadi)
Diskusi malam, dengan Mas Joni dan Mbak Ipung. (Foto koleksi pribadi)

Imajinasi sebenarnya yang harus kita wujudkan sebenanarnya adalah tak ada lagi cap difabel, termarjinal atau apapun pada sesama manusia. Diskrimatif hanyalah perbuatan manusia-manusia bodoh yang tak menyadari bahwa dia ‘hanyalah’ salah satu ciptaan Sang Maha Hidup. Tak ada haknya sama sekali untuk meminggirkan nasib seseorang. Atau memandang lebih rendah derajat manusia lain hanya karena kekayaannya, jabatannya atau hanya karena kekurangan fisiknya.

Tak terasa, dua hari lagi (3/11) kembali kita akan peringati Hari Penyandang Disabilitas Internasional. Semoga 22 tahun perjuangan kita untuk membangun dunia baru tersebut semakin dekat dengan kenyataan. Sehingga di tahun-tahun yang akan datang, tak akan perlu lagi kita peringati sebagai Hari Penyandang Disabilitas Internasional. Sebab negeri ini, dunia ini telah menjadi negeri dan dunia baru yang tanpa batas, tanpa sekat dan tanpa diskrimasi. 

logo inklusi

Iklan

3 thoughts on “Membangun Dunia Baru Tanpa Diskriminasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s