Di RSUD Sragen Diriku Terdampar


Jumat, 14 November 2014

Pukul 03.45 Wib, saat ku lihat tanda waktu di hp-ku. Syukurlah, hp Nokia jadulku masih berfungsi normal. Sambil menahan nyeri yang luar biasa, aku masih berbaring tak berdaya di bed ruang isolasi IGD RSUD Kab. Sragen. Efek kecelakaan bus Mira yang barusa aku alami ternyata cukup ‘lumayan’.

Alhamdulillah, jari-jari tanganku masih bisa aku gerakkan. Kemudian kaki kananku pun aku coba angkat. Masih bisa. Namun abses (bengkak) di bagian otot belikat dan dada sebelah kanan nyeri menyerang.

“Mbak, boleh minta kompres es?” demikian aku mencoba meminta kompres dingin ke salah seorang perawat IGD.

“Tidak ada, Mas,” demikian jawabnya pendek, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Saya abses, Mbak,” masih saja aku memohon.

“Ya, tidak ada, Mas,” jawabnya meyakinkan sambil segera berlalu di hadapanku.

“Astaghfirullah…,” aku merintih perlahan.

IGD rumah sakit daerah tak memiliki stok es batu untuk kompres. Bagaimana jika banyak pasien mengalami trauma seperti aku? Apakah akan dibiarkan saja sampai bengkaknya melembung tak tertahan.

“Aduh, ada yang tak benar ini,” gumamku dalam hati.

Ke Instalasi Radiologi

Mengingat keluhanku adalah nyeri dan abses (yang sudah nampak), maka aku pun minta segera untuk foto X-Ray. Setelah menunggu sekitar 15 menitan, akhirnya aku pun ‘digelandang’ ke kamar foto Rontgen. Nyeri pundakku bertambah saat melewati beberapa bagian koridor yang berundak. Hentakkan brankar saat anjlok (turun) atau naik membuatku meringis kesakitan.

“Mas, koridornya kok masih ada yang berundak sih, Mas?” tanyaku penasaran kepada perawat yang ‘menggelandangku’ tersebut. Tapi dia hanya diam saja.

Tak lama kemudian, sampailah saya ke ruang foto. Petugas di kamar foto cukup ramah. Menempatkan posisi badanku agar tepat pada ‘sasaran’ foto. Tak lebih dari 10 menit beres sudah. Kembali aku ‘digelandang’ ke IGD dengan melewati beberapa bagian berundak tadi. Duh, sakitnya tuh di sini… (sambil aku dekap erat-erat pundak kananku).

Kembali ke IGD

Sambil menunggu hasil bacaan foto Rontgen, aku istirahat. Tentu saja sambil menahan nyeri yang luar biasa dari pundak kanan. Apalagi jika sedikit saja aku gerakkan tanganku. Sambil aku minta istriku untuk mencarikan es batu. Entah itu ke warung atau kantin rumah sakit.

“Kantin bukanya jam tujuh, Bi. Terus es yand di warung depan pada habis,” istriku mengabarkan berita yang kurang mengenakkan itu.

Tak berapa lama, dokter jaga IGD memberitahukan hasil fotoku. Shoulder joint normal, tapi sedikit ada robek di otot belikatku. Syukurlah, yang aku khawatirkan tidak terjadi. Membayangkan jika ada dislokasi pada tulang tersebut, berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk pulih.

2 jam kemudian, berbarengan dengan istriku, seorang perawat memberiku sebuah kantung es. Yang ku sadari kemudian, ternyata kantung tersebut adalah kantung infus. Lha, ini kok ada? Apa karena aku minta akhirnya mereka masukkan kantung infus ke freizer? Ah, entahlah. Masih saja aku tak habis pikir. IGD rumah sakit yang menjadi rujukan PPK I tak memliki persediaan kantung kompres (dingin).

Kompres dingin dengan es yang beli di kantin.
Kompres dingin dengan es yang beli di kantin.

Istriku segera mengulurkan sekantong es batu yang dibeli dari kantin rumah sakit. Langsung saja aku dekapkan di dadaku. Sementara es (cairan infus) aku bantalkan di pundak kananku. Sekitar 15 menit bengkakku terasa mulai berkurang. Rasa nyeri yang kurasa juga berangsur berkurang. Coba seandainya kompres dingin dilakukan sejak 3 jam sebelumnya, mungkin bengkaknya tak akan begitu parah.

Terapi di Ruang Rehab Medik

Menunggu waktu untuk tindakan medis selanjutnya adalah pekerjaan membosankan. Tapi inilah yang harus pasien lakukan, bersabar. Bersiap menerima perlakuan apapun dari kru medis, paramedis dan penunjang medis. Berharap agar diberikan tindakan yang tepat dan cepat. Sehingga tidak semakin memperparah kondisi pasien.

Setelah ‘operan pagi’ (demikian kru rumah sakit menyebut pergantian waktu jaga), aku pun diantar menuju instalasi rehabilitasi medik. Alhamdulillah, memasuki ruang rehab medik suasana nyaman terasa. Selain faktor berpendingin, ruangan juga ditata sedemikian rupa sehingga membuat suasana nyaman. Apalagi iringan suara lirih Opick yang mengalun lembut, begitu nyaman di hati.

Segera saya diantar oleh fisioterpis menuju salah satu bed yang sedang kosong. Setelah ditanya sana-sini, segera alat-alat untuk menyetrum (SWD) diletakkan di pundak dan pinggangku. Dengan telaten, fisioterapis tersebut menaikkan level kejut mulai dari terendah hingga level yang membuat aku nyaman. Paling tidak, selama 2 x 15 menit terapi yang aku lakukan, beberapa bagian ototku pun terasa lebih nyaman.

Kemudian aku pun segera meninggalkan ruangan rehab medik. Ternyata di luar telah dipenuhi pasien yang antre. Apalagi hari itu adalah Jumat. Dimana untuk hari Sabtu dan Ahad layanan fisioterapi libur. Maklumlah, namanya juga rumah sakit negeri. Layanan pun tak bisa optimal disebabkan dibatasi hari aktif dan jam aktif kerja. Utamanya untuk layanan fasilitas penunjang medis.

Selamat Tinggal IGD

Waktu menunjukkan pukul 11.10 Wib, ketika semua urusan administrasiku beres. Dengan saran fisioterapis di ruang rehab medik tadi, aku bisa melakukan rawat mandiri. Ini juga yang aku harapkan. Tentu saja tetap dengan memperhatikan perawatan medis yang seharusnya.

Dengan diantar oleh Pak Joko, kru dari bus Mira, aku dan istriku pun diantarkan kembali menuju Mojokerto. Sambil tak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada Kepala Ruangan (Karu) IGD RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Kab. Sragen dan krunya yang simpatik. Sekaligus yang amat berkesan adalah ketika kami mau tinggalkan oleh-oleh untuk mereka. Spontan mereka menolak dengan halus. Meski aku sangat memaksa, mereka tetap menolak.

Mungkin hal itu untuk menghindari adanya gratifikasi dalam bentuk apapun. Salut deh untuk penolakan itu. Hal tersebut sekaligus menjadi pengobat rasa kecewaku saat pertama kali diterima masuk di IGD sebelumnya. Tapi paling tidak, itu menjadi catatan untuk RSUD Sragen yang rupanya sedang giat berbenah.

Jangan pernah tinggalkan Standar Prosedur Operasional (SPO) penanganan pasien kegawatdaruratan. Apalagi sampai meninggalkan meja jaga dengan kondisi tanpa petugas/perawat jaga. 

Iklan

4 thoughts on “Di RSUD Sragen Diriku Terdampar

    1. Alhamdulillah sudah baikan.
      Belum normal sepenuhnya sih, Mas. Naik motor beberapa kilometer, lengan atas masih nyeri hebat. Ngangkat benda berat juga belum bisa.
      Step by step but be enjoying… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s