Ketika Musibah Itu Datang


Mojokerto, 13 November 2014

Aku lihat jam dinding kamarku menunjukkan pukul 22.30 Wib. Sementara tugas titipan dari salah seorang kolega masih saja belum usai. Padahal tugas tersebut harus dipresentasikan minggu depan di Manado. Tapi seperti biasanya, aku masih berhitung dengan kemungkinan. Masih ada tersisa waktu empat hari untuk aku selesaikan di Jogja. Demikian pikirku saat itu.

Keberangkatanku ke Jogja malam itu sebenarnya terlambat sehari. Harusnya Rabu aku harus sudah di Jogja. Sebab ada sebuah festival budaya yang harus aku liput. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya seorang kawan yang menggantikan posisiku. Ditambah lagi, istriku yang mau berangkat juga untuk menjenguk anak-anak di pondok. Jadilah aku putuskan untuk berangkat bersama.

Tepat pukul 23.00 Wib, kami sudah menunggu bus umum yang berangkat menuju Jogja. Kebetulan rumah kami di Mojokerto berjarak hanya 100 meter dari jalan raya Surabaya-Jogja. Sehingga kalau mau pulang Jogja atau ke Surabaya bisa sewaktu-waktu.

Akhirnya setelah kurang lebih 25 menit menunggu, muncullah bus Mira. Bergegas kami menghentikannya. Dengan 2 buah tentengan oleh-oleh untuk anak-anak, kami bergegas naik. Penumpang lumayan penuh. Tapi kami beruntung masih ada kursi kosong di bagian belakang. bus Mira ini memang biasanya dipilih oleh umminya anak-anak. Sebab jika naik bus Patas Eka, dia tak tahan dengan dinginnya. Selain itu, tarif bus ekonomi ini pun lumayan ekonomis. Hampir separoh dibandingkan dengan bus patas.

Sragen, 14 November 2014

Memasuki wilayah Sragen selepas hutang Mantingan, saya rasakan kantuk menyerang. Maklumlah, sepanjang perjalanan hampir 4 jam, saya tetap terjaga. Bukan karena tidak mengantuk, namun laju bus yang saya rasakan tidak stabil. Selain sopir selalu tancap gas, jalannya pun meliuk-liuk, meski di jalan yang lurus.

Entahlah, perasaanku sepertinya tak nyaman.

“Mi, jubah mbak yang dua itu dibawa tidak?” tiba-tiba aku teringat sama pesanan putriku.

“Aduh, maaf ya Bi, lupa,” jawab istriku dengan raut muka ngantuknya.

“Piye to, Mi? Itu kan sudah aku pesan sejak dua minggu yang lalu seh,” sedikit kaget aku mendengar jawaban istriku.

Lalu kami pun terdiam. “Abi salah juga sih. Harusnya sebelum berangkat tadi aku ingatkan,” aku mencoba menetralkan suasana.

Kembali kami dilanda rasa kantuk yang tak bisa ditahan.

“Dhuaaarrr…. dhuaaarr….dhuaaarr….!!!”

Tiba-tiba aku rasakan tubuhku seolah di lempar ke atap bus. Setelah aku setengah menyadari, ternyata bus yang kutumpangi mengalami kecelakaan. Nampak penumpang di bangku depanku berhamburan menuju pintu ke luar bagian belakang. Sementara aku diantara rasa pusing dan ngilu kakiku mencoba untuk berdiri.

“Brukk…!” aku kembali terjatuh telentang. Sementara tas punggung yang aku taruh di depanku dadaku pun sudah terlempar di sampingku.

Masih saja penumpang panik sambil berteriak histeris. Mencoba membuka pintu, namun tak kunjung terbuka. Akhirnya salah seorang penumpang berinisitif untuk membuka pintu darurat. Sayang, pintu tersebut juga rupanya begitu sulit dibuka.

Dengan meringis menahan kesakitan di tubuh bagian kananku aku berteriak,”Dobrak saja, Mas! Tendang saja!”

Kemudian beberapa kaki terlihat terjulur untuk mendobrak. Brak! Brak! Cukup dengan dua kali tendangan bersama-sama, pintu pun terbuka. Maka berhamburanlah seluruh penumpang untuk ke luar menyelamatkan diri. Sementara aku hanya bisa duduk menggelosoh. Sesekali aku bicara kepada istriku yang beruntung tak cidera serius.

“Mi, abi tidak bisa berdiri. Tolong panggilkan kru bus,” pelang aku bisikkan pada istriku.

“Sebentar ya, Bi…”

Tak lama kemudia dua orang kru mendekatiku sambil menanyakan kondisiku. Kemudian segera aku minta untuk dipanggilkan ambulans. Sebab aku rasakan tubuh bagian kananku tak dapat digerakkan. Rasa ngilu dan nyeri begitu hebat menyerang.

“Astaghfirullah….,” istighfar pun meluncur berkali-kali dari bibirku untuk menahan sakit itu.

Untunglah, tak lama kemudian mobil patroli Polsek setempat segera datang. Dengan dipapah, perlahan aku turun dari bus. Cukup cekatan dan sigap petugas kepolisian tersebut menolongku bersama kondektur bus. Lalu aku pun masuk kursi deretan belakang rantis Polsek tersebut. Ternyata di dalam nampak olehku seorang ibu dengan luka di wajah yang cukup serius.

Maka meluncurlah kami dengan mobil patroli tersebut menuju RSUD Sragen. Baru aku ketahui pula bahwa lokasi kecelakaan bus Mira itu di barat pom bensin Masaran. Dengan lincah dan sigap, polisi berpangkat Brigadir Polisi itu melintasi kendaraan di depannya. Memecah keheningan pagi dengan raungan sirine yang tak putus-putus. Salut untuk petugas polisi yang ramah dan membuat nyaman kami.

Tak berapa lama kemudian, sampailah kami di depan Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Kab. Sragen. Tetap dengan kesigapannya, sang Brigpol tersebut masuk ke ruangan IGD untuk mencari petugas/perawat jaga. Nah, sayangnya perawat jaga sedang tidak berada di tempat semuanya. Sehingga hampir 10 menit kami masih menunggu di dalam mobil rantis Polsek.

abi rumah sakit
Terkapar tak berdaya di IGD RSUD Sragen.

Setengah mengantuk, seorang perawat pria dan kru bus menurunkanku dan menaikkan ke brankar. Tak lupa ucapan terima kasihku untuk polisi yang mengantarku ke rumah sakit. Beliau pun membalas dengan senyum.

(bersambung….)

Iklan

8 thoughts on “Ketika Musibah Itu Datang

  1. Musibah memang datang tanpa diduga, alhamdulillah ALLAH masih memberikan perlindungan dan keselamatan kepada mas Nuzulul……
    keep happy blogging always…semoga cepat sehat kembali….salam dari Makassar 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s