Kisah #sahabatJKN dan Penjual Gorengan


Para peserta workshop bersama Dirjen BUK Kemkes RI. (Foto: kolpri)
Para peserta workshop bersama Dirjen BUK Kemkes RI. (Foto: kolpri)

Empat hari sudah acara Workshop Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional untuk Blogger/Netizen terlewati. Ada banyak pengalaman yang bisa diperoleh. Pengalaman indah sampai ‘kurang indah’ pun didapatkan. Tak luput juga dengan yang saya alami. Sebuah pengalaman yang sempat bikin sumpek. He…7x

Ceritanya nih, pas bubaran acara dari kunjungan ke Kantor Kementerian Kesehatan RI. Semula saya yang hendak balik ke Bekasi, tiba-tiba merubah acara. Ini disebabkan ajakan 2 orang #sahabatJKN, Mbak Nita dan Mbak Devi yang kebetulan satu tujuan. Mbak Nita ke Harapan Indah, sedangkan saya ke Pondok Ungu. Kebetulan jaraknya kan cuma beberapa ratus meter saja.

Alhasil, kami tidak balik lagi ke Hotel Harris sebagaimana kawan lainnya. Kami langsung cari bus Kopaja jurusan Blok M. Pikir saya, kendaraan yang akan saya tumpangi itu lebih nyaman dan lebih cepat nyampai. Begitu kalo tidak salah keterangan Mbak Devi. Ditambah dengan naluri backpacker yang ingin mencari transportasi alternatif. Karena komuter sudah mainstream banget sih. Biasanya kalau tidak naik komuter, saya naik busway yang jurusan Harapan Indah.

Nah, setelah turun dari Kopaja, kami menyeberang lewat jembatan penyeberangan. Rencananya, kami akan menumpang bus Mayasari Patas 55 A arah Bekasi. Maka dengan ‘pede’ kami menunggu kedatangan bus tersebut. Menit demi menit berlalu. Jam demi jam terlewat sudah. Sejak pukul 11.15 Wib hingga pukul 14.40 tidak ada tanda-tanda bus akan lewat.

3 jam man.…nongkrong di halte bus dengan 2 mahluk cantik. Hingga tak terasa, kulit kami pun mengering. Hi….7x. Maklumlah, namanya juga Jakarta. Saat itu matahari memang bersinar dengan begitu teriknya. Hingga sebotol besar minuman pun habis tandas. Tinggal 2 botol kecil persediaan dari hotel.

Balada Penjual Gorengan di Halte Bus

Seperti biasanya jika para blogger bertemu. Demikian juga kami bertiga. Selama menunggu kehadiran Patas 55 A kami pun saling melempar jok. Dari yang paling halus, sampai yang paling kasar. Ha…7x

Dari cerita tempat kerja hingga kebiasaan-kebiasaan gokil kami. Pokoknya asyik deh. Hingga terik matahari pun tak mampu lekangkan tawa riuh kami. Jadi ingat cerita semalaman di tepi kolam renang Hotel Harris yang belum usai.

Sangking semangatnya kami berbagi cerita, jadi membayangkan kalau bisa menjadi penjual gorengan. Melihat lalu lalang orang di halte ini, inisiatif wirausaha pun muncul dari saya. Menunggu bus, sambil menjual gorengan, mengapa tidak? Kami pun berhaha-hihi dengan ide saya yang cukup ‘brilian’ tersebut.

Entahlah, topik jualan gorengan itu kita bahas berapa menit. Ketika secara tak sengaja, saya tengok ke belakang, ampun dah…. Ternyata seorang emak-emak yang lagi mengaduk-aduk bahan kulit gorengan. Alamaaakk…..

Jadi salah tingkah juga sayanya. Padahal sejak tadi saya perhatikan di belakang halte tersebut tak ada orang. Menurut Mbak Nita sih, mungkin baru beberapa menit saja emak-emak itu hadir di situ. Dengan wajah ditekuk-tekuk, emak gorengan itu melihat ke arah saya.

“Aduh, maaf lho, Bu. Nggak tahu deh kalo ada ibu di belakang,” saya mencoba untuk meminta maaf. Karena guyonan kami tadi benar-benar hanya untuk membunuh waktu. Tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun.

Tapi konyolnya, di Jakarta ini, halte bus pun sukses digunakan sebagai tempat usaha. Penjual gorengan itu salah satunya. Tak pelak, privasi calon penumpang pun pasti terganggu. Apalagi yang berangan-angan menjadi penjual gorengan part time.

Singkat cerita, ketika ada Patas 55 arah Bekasi segera kami naik. Maklumlah, saya sudah janjian dengan seseorang yang menunggu hingga pukul 16.00 Wib. Tapi sayang, rupanya Mbak Devi tertinggal di belakang. Hanya saya dan Mbak Nita saja yang naik. Dengan perasaan yang ‘tidak enak’, kami segera menghubungi Mbak Devi. Agak repot juga sih, sebab 2 handphone saya drop baterenya.

Semoga kenangan kami bersama penjual gorengan itu menjadi cerita yang berguna. Ternyata di Jakarta, dimana pun tempat bisa menjadi lapak. Entah lapak penjual gorengan atau apa saja yang bisa dijual. Makanya, hati-hati jika berkelakar.

Iklan

8 thoughts on “Kisah #sahabatJKN dan Penjual Gorengan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s