Isuk Tempe Sore Dele


Isuk dele, sore tempe.
Isuk dele, sore tempe.

Isuk Tempe Sore Dele‘ sebuah paribasan (peribahasa) Jawa yang sudah kondang. Hampir sebagian masyarakat negeri ini sudah akrab dengan ungkapan tersebut. Kalimat yang singkat tapi cukup mak dueeesss.. Mak jleb, demikian istilah kerennya.

Peribahasa Jawa ini bila diartikan dalam bahasa Indonesia adalah ‘pagi tempe, sore kedelai’. Gambaran sifat seseorang atau kelompok orang yang plin-plan, tak punya pendirian. Sebuah ungkapan singkat tapi memiliki makna yang dalam. Keteguhan pendirian yang mudah diombang-ambingkan dengan berbagai kepentingan. Tentu saja, konotasi negatif yang melekat dengan ungkapan tersebut.

Sebenarnya filosofi Jawa tersebut bisa bermakna positif jika diartikan secara ilmiah. Tapi kalimatnya diubah menjadi positif, ‘isuk dele, sore tempe’. Ini berangkat dari contoh pembuatan tempe. Bayangkan saja, proses pembuatan tempe yang biasanya membutuhkan waktu minimal satu setengah hari, bisa menjadi setengah hari. Mungkin perlakuan kimiawi tertentu bisa membuat jadi demikian. Ini tentu menjadi inovasi yang luar biasa jika bisa terwujud.

Tapi di sini saya mengambil kaidah umum saja yaitu ‘isuk tempe, sore dele’. Dimana sikap plin-plan menunjukkan ketidakkonsistenan sikap. Mudahnya berubah sikap. Bedanya antara omongan dan perbuatan. Itu semua menjadi ciri khasnya.

Para Anggota Dewan Terhormat Menjadi Contoh

Model beginian yang 'isuk tempe sore dele'. (Foto: koleksi FB)
Model beginian yang ‘isuk tempe sore dele’. (Foto: koleksi FB)

Peristiwa voting Rancangan Undang-Undang (RUU) Pilihan Kepala Daerah (Pilkada) kemarin (29/9) menjadi contoh konkritnya. Bagaimana kita lihat sikap para anggota dari partai ‘reformis’, tiba-tiba menjadi oportunis. Mereka yang dulu getol mengusung tuntutan pilkada langsung, kini berbalik haluan.Dalam perhitungan politik, mungkin hal tersebut sah-sah saja. Tapi tidak demikian masyarakat awam melihat realitas politik tersebut.

Di satu sisi, mungkin partai ‘reformis’ tersebut melihat pilkada langsung malah banyak mudharatnya. Banyak kerugian yang ditimbulkan dari sisi ekonomi, politik maupun stabilitas keamanan. Gesekan-gesekan di masyarakat yang begitu besar akibat belum dewasanya cara berpikir saat pilkada langsung digelar.

Oleh karena itu, mengambil sikap untuk (kembali) menggelar pikada tak langsung menjadi solusi. DPRD sebagai representasi dari pemilih (masyarakat). Memberikan mandat sepenuhnya kepada wakilnya untuk melakukan tindakan politik apapun. Nah, rupanya masyarakat yang menolak tak berpikir demikian.

Pilkada langsung menggambarkan salah satu ciri demokrasi sebenarnya. Demikian anggapan mereka. Maka, ketika pilkada langsung diganti dengan pilkada tak langsung, seolah-olah ‘langit demokrasi’ itu runtuh. Mereka menuduh para anggota dewan pendukung pilkada tak langsung dengan sebutan penghianat, munafik atau isuk tempe sore dele.

Tuduhan miring/negatif akibat sikap plin-plan tentu tidak mengenakkan bukan? Tapi seringkali kondisi politik memaksa para politikus bersikap yang bertentangan dengan kepentingan konstituennya. Ada mekanisme partai yang tidak memungkinkan masyarakat tahu. Ada intrik-intrik atas terpenuhinya satu kepentingan yang harus dilakukan. Meskipun kepetingan itu sendiri sebenarnya bertolak belakang dengan kinginan masyarakat banyak.

Gambaran sikap yang dilakukan oleh para anggota dewan yang terhormat itu tentu menyedihkan. Jika memang dengan pilkada langsung banyak timbulkan masalah, mengapa implementasi di lapangan tidak disempurnakan dulu? Memang butuh waktu yang lama untuk mendewasakan masyarakat dalam berpolitik. Satu resiko yang dulu sebenarnya sudah diperhitungkan oleh para reformis. Tapi sekarang apa yang terjadi?

Nah, satu contoh tersebut adalah suatu realitas. Bahwa isuk tempe sore dele bisa diterjemahkan dengan konotasi positif atau negatif. Tapi konotasi negatif sudah terlanjur melekat dalam peribahasa tersebut. Tinggal kepada Anda sekarang. Masihkah Anda bersikap isuk tempe sore dele dalam kehidupan sehari-hari?

Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati

banner

Iklan

7 thoughts on “Isuk Tempe Sore Dele

  1. Kaum reformis dulu menginginkan untuk pilkada langsung karena mereka berharap akan mendapat bagian kekuasaan makanya waktu itu mereka rame rame bikin parpol. Dalam berjalannya waktu ternyata dengan pilkada langsungpun mereka tidak banyak mendapatkan kekuasaan, hanya sebagian kecil daerah mereka bisa berkuasa. Mungkin dari kekecewaan itulah mereka akhirnya mewacanakan system ke jaman orde baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s