Mas Hasan dan Becak Jahitnya


Menyambut pagi di Kota Jogja, Ahad (21/9). Tepat pukul 07.45 Wib. Bus Sumber Alam masuk Terminal Giwangan Jogja. Hampir 12 jam perjalanan Bekasi-Jogja. Berhenti 2 kali, yang pertama di rumah makan daerah Nagrek Jawa Barat. Pemberhentian ke-2 di Kutoarjo. Cukup melelahkan juga ternyata. Perjalanan malam tak membuat saya bisa terpejam lama. Sebab setiap tikungan curam, saya pasti terbangun.

Untunglah bus berangkat dari Pondok Ungu dengan penumpang tak penuh. Sehingga saya dapat sedikit menyelonjorkan kaki. Tapi kali ini saya tak bercerita tentang bagaimana perjalanan itu. Cerita pagi itu saya buka dengan celana. Lha, kok cerita celana?

Sebenarnya, setiba di Jogja, saya berencana untuk pulang Prambanan dulu. Namun berhubung waktu sudah siang, saya putuskan untuk agenda lain. Kebetulan teman-teman Komunitas Blogger Jogja dapat undangan makan-makan. Selain gratis, ada hadianya juga lho. Tentu saja hadiahnya harus diraih lewat perjuangan dulu. Yang ini, akan saya ceritakan nanti saja deh.

Lanjut ke kisah celana. Saat di Serpong kemarin, kebetulan celana jins kesayangan saya robek. Harap maklum saja deh. Celana jins merek Cardinal ini saya beli tahun 1999 yang lalu. Tepatnya 6 bulan pasca menikah. Jadi kalau dihitung-hitung, usianya sudah memasuki tahun ke-15. Hampir sama dengan usia putri pertama saya. He….7x.

Di depan Warung Doel Serpong - Tangsel.
Di depan Warung Doel Serpong – Tangsel.

Robeknya pun sebenarnya cukup mengenaskan. Terkena pojokkan meja makan di Warung Doel, miliknya H. Rano Karno. Itu tuh, aktor yang sekarang jadi Pjb. Gubernur Banten. Tapi, saya tak bisa salahkan mejanya dong. Faktor ‘U’ celana rupanya cukup berpengaruh. He….7x (lagi).

Robekan cukup lebar tepat di bagian paha.Kalau dulu di tahun 80-an mungkin sih tak malu pakai celana model begitu. Tapi ini tahun 2014 pren…. Bayangkan jika istri atau mertua melihat. Bisa salting berat pastinya.

Alhamdulillah, rupanya Allah masih menolong saya. Pas ngopi di angkringan mas Sunar depan gerbang barat, eh, ada penjahit keliling datang. Kata orang Jawa, “Untung isih ana sing nulung”. Penjahit itu datang tepat di tempat yang tepat. Saya pas lagi butuh njahit celana. Meski sudah terkena musibah, masih saja tetap untung.

“Njahit, Mas,” tanyaku pendek, setengah basa-basi.

“Nembe mangkat napa?” masih dengan basa-basi.

“Nggih, Mas. Rade kesiangan niki wau,” dengan ramah dia membalas.

“Njahit celana jins saget, Mas.”

“Lha nggih saget. Lha wong biasane kula menika njahit celana jins og.”

“Weisss, alhamdulillah, pas ini,” sorakku dalam hati.

“Celana suwek ngaten pinten, Mas?” tanyaku sambil menunjuk robekan di bagian paha.

“Mang ewu kemawon, Mas. Kagem penglaris.” Nah, urusan penglaris ini memang sangat dipercaya oleh para pedagang Jawa. Indonesia pada umumnya deh. Pembeli atau pelanggan pertama, seringkali mendapatkan harga yang miring. Ini sebagai bentuk penghargaan atas kesediaannya berbelanja untuk pertama kali di hari Β itu.

“Lha yen motong celana, pira Mas?” sambil saya tunjukkan lekukan celana jins saya.

“Mang (limang) ewu og, Mas. Mboten napa-napa.”

“Dadi, njahit kabeh mung sepuluh ewu ngunu to?” tanyaku meyakinkan. Plus heran tentu saja. Sebab untuk motong jins pada umumnya 10-20 ribu rupiah.

“Lha inggih, Mas. Monggo…,” sambil mempersilahkan saya untuk menyerahkan celana.

Berganti dengan pakaian 'kebesaran', sarung.
Berganti dengan pakaian ‘kebesaran’, sarung.

“Yo mengko sik to. Aku tak ganti sarung sikik,” lalu dengan sigap segera saya keluarkan sarung dari backpack. Kemudian menyerahkan celana ‘kuno’ itu untuk ‘direnovasi’. Inilah kegunaan sarung yang kemana pun pasti saya bawa. Kebiasaan sejak di pondok pesantren dulu.

Dengan sigap mas Hasan, demikian namanya, segera memvermak celana saya. Sangat cekatan dan profesional. Sementara saya melanjutkan nyruput kopi dulu. Untuk lebih jelasnya, inilah beberapa adegan saat mas Hasan merenovasi jins saya itu.

Mulai dengan adegan memotong celana.
Mulai dengan adegan memotong celana.
Sudah mulai dengan menjahit potongan tadi.
Sudah mulai dengan menjahit potongan tadi.
Berikutnya adalah mengutak-atik bagian paha.
Nah, tinggal finishing saja.
Terakhir adalah renovasi bagian 'paha'.
Terakhir adalah renovasi bagian ‘paha’.

Mas Hasan demikian dia memperkenalkan namanya. Asalnya dari Comal, Pekalongan. Keluarganya ditinggalkan di kampung. Untuk menghemat biaya, demikian tuturnya. Pernah beberapa tahun di Jakarta. Namun hampir 5 tahun ini cocok di Jogja. Langganannya cukup banyak dibandingkan di Jakarta. Dapat dimaklumi, mahasiswa banyak bertaburan di seluruh tlatah Jogja. Saya yakin, mereka pasti punya celana jins. Inilah konsumen yang dibidik oleh mas Hasan.

Becak jahit dipilih sebagai sarana kerjanya. Sebab dengan begitu, langsung bisa jemput bola ke konsumen. Tempat kos-kosan atau Pasar Giwangan biasanya menjadi tempat mangkalnya. Sesekali juga di RSUD Wirosaban dan di depan beberapa kampus. Sudah cukup lumayan jumlah pelanggannya.

Selfie bergaya luweh....
Selfie bergaya luweh….

Rupanya tak sampai seperempat jam, kelar sudah. Waktu saya lihat hasilnya….wouwww…. Sangat rapi dan halus jahitannya. Lalu segera saya ulurkan ongkos kerjanya. Ditambah ucapan terima kasih plus senyum bahagia. Tak lupa, dia pun saya ajak selfie. Sambil saya janjikan kalau ‘tongkrongannya’ akan muncul di blog saya.

Untuk mendedikasikan janji dan ungkapan terima kasih atas pertolongannya, artikel ini saya buat. Semoga sampeyan tetap diberi kesehatan ya mas Hasan. Jangan lupa untuk tetap menjadi manusia yang ‘hasan’. Semoga tetap diberikan rezeki yang halal dan barokah. Aamiin….

Iklan

6 thoughts on “Mas Hasan dan Becak Jahitnya

  1. Di jogja selatan di daerah Imogiri Bantul ada juga mas penjahit di pasar yang motongin celana juga murah dibanding dengan penjahit pro yang bisa bikin baju celana. Kalau cuma motong saja saya ndak perlu yang pro mas, cukup datang kepasar. Mesin jahit yang dipasar digerakkan/diontel dengan tangan mas, jadi itu mesin jahit duduk. Mereka laris mas, banyak yang nunggu jahitan, baik potong celana baru atau vermak celana dan baju yang robek. Jahitannya juga rapi dan tidak kalah dengan yang pro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s