Penerbit Indie Fenomena Baru Dunia Penerbitan


Buku sebagai ‘teman hidup’ meski mendapatkan ‘perlakuan khusus’. Hal yang sederhana yang perlu dilakukan diantaranya dengan secara cermat  memilih buku apa yang kita butuhkan saat itu. Selain harga, tema yang sesuai dengan kebutuhan kita itu akan menjadi daya tarik sehingga kita benar-benar akan membacanya. Sebab pilihan buku yang tak cermat akan membuat kita malas untuk ‘menyentuhnya.

Pengecualiannya adalah ketika kita memperoleh buku hadiah. Dalam artian hadiah di mana kita tidak bisa memilih judul atau tema apa yang akan kita terima. Namun beangkat dari pengalaman saya, justru buku hadiah seperti ini malah akan lebih duluan dibaca dibandingkan dengan buku yang kita beli. Alhamdulillah, sejak mulai rajin ngeblog dan membuat review, rezeki buku gratis dan hadiah buku sering saya terima.

Harga, tema atau judul itu penting. Tak kalah penting prioritas kita untuk memilih buku yang akan kita beli adalah nama penulis atau pengarang. Penulis yang memiliki kualitas tulisan bagus tentu menjadi pilihan kita. Meski tidak terkenal, jika memang konten yang ditampilkannya bagus, kenapa tidak? Berikutnya adalah tampilan cover dan kualitas kertas serta jilidan. Hal ini erat hubungannya dengan daya tahan buku jika dibaca berulang kali dan disimpan dalam jangka waktu lama.

Masalah Penerbitan Buku

Nah, hulu dari buku adalah bagaimana sebuah organisasi atau perusahaan menerbitkannya. IKAPI sebagai wadah profesional penerbit sebenarnya tinggal memberikan dorongan dan tindakan persuasif kepada pembaca. Sedangkan penerbit sendiri tentu akan secara masif memberikan dorongan kepada para penulis untuk membuat satu karya berkualitas sesuai dengan genre yang disukai oleh pembaca. Tak lupa media promosi mau tak mau harus digunakan untuk mendorong pembaca dapat memiliki buku tersebut.

Saat ini pasar cukup menerima hadirnya buku-buku baru yang sudah mulai banyak bermunculan. Penerbit lama mencoba tetap eksis dengan ‘memecah’ unit usaha sesuai segmentasi pasar. Pasar buku anak dan remaja saat ini sedang menjadi tren pembaca. Hal ini menunjukkan bahwa minta baca remaja dan anak sudah mulai membaik. Ini terjadi karena, para orang tua mulai sadar bahwa anak-anak mereka butuh bahan bacaan yang berkualitas.

Munculnya penerbit baru dan penerbitan indie paling tidak telah memberikan kontribusi positif terhadap buku terbit baru. Indikasi positif ini sudah seharusnya didorong bahkan diberikan stimulus bagi penerbit baru yang aktif memproduksi karya. Sebab mereka itu yang kadang begitu kreatif untuk mengenalkan buku kepada pembaca. Event tradisional seperti pameran buku dan bedah buku pasti ditempuh. Namun dengan adanya lomba review atau kuis-kuis berhadiah buku merupakan terobosan baru yang cukup efektif untuk mengenalkan buku-buku baru tersebut.

Itu menunjukkan bahwa permasalahan serius yang dihadapi oleh penerbitan mulai bergeser. Sekarang cenderung untuk bagaimana mendapatkan penulis (baru) yang berkualitas. Minat baca yang tinggi mendorong juga untuk minat tulis yang tinggi. Sehingga penerbit saat ini mulai kebanjiran dengan naskah-naskah dari penulis baru tersebut.

Penerbit Indie sebagai Nafas Baru

Penerbitan indie yang marak, paling tidak bisa menjadi kompetitor alami dari penerbit mayor. Sebab penerbit indie cenderung lebih gencar untuk melakukan penetrasi pasar. Maka fenomena penerbit mayor yang mulai merangkul penerbit indie yang biasanya berasal dari komunitas penulis amatir menjadi sesuatu yang menggembirkan. Sebab dengan seperti itu, mereka akan tetap bisa eksis mempertahanka jaringan penerbitannya. Toh, penerbit mapan ini biasanya memiliki toko buku sendiri. Tentu tokonya ini perlu isi yang bisa berganti terus setiap waktu tertentu.

Simbiosis mutualisma inilah yang tiga  tahun terakhir begitu marak. Tak pelak, masyarakat baca dan penulis semakin bersemangat untuk menyebarkan ‘virus baca’ di masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s