Menumbuhkan Minat Baca dengan Keluarga Membaca


Ilustrasi sebuah stand pameran. (Foto koleksi Pemprov Jabar)
Ilustrasi sebuah stand pameran. (Foto koleksi Pemprov Jabar)

Pameran buku? Ingatan saya pun segera meluncur ke tahun 1990-an. Tahun pertama saya mengenal sebuah pameran buku kolosal ‘beneran’. Lho, kok ada kata ‘beneran’? Benar, pameran buku yang saya kenal biasanya yang diadakan pada bazaaar sekolah saja.

Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Jogjakarta sebagai tempat penyelenggaraannya. Tempat yang begitu luas, stand pamer dari penerbit yang banyak ditambah buku murah dan buku diskon membuat saya. betah. Bahkan dari semingguan acara berlangsung, hampir tiap hari saya mendatanginya. Kebetulan tempat kos saya bejarak ‘cuma’ sekitar 2 kilometeran saja dari lokasi.

Pertama kali melihat pameran buku itu pula saya mengenal IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia). Dulu saya pikir, IKAPI adalah semacam event organizer. Dimana pameran buku penyelenggaranya ya IKAPI itu. Namun lambat laun mulai paham bahwa IKAPI itu adalah organisasi yang mewadahi para penerbit buku se-tanah air. Organisasi yang berdiri jauh sebelum saya lahir, tepatnya 17 Mei 1950. Didirikan oleh seoran sastrawan besar Indonesia, STA (Sutan Takdir Alisjahbana), M. Jusuf Ahmad dan Nyonya A. Notosoetardjo.

Peran IKAPI dalam Mencerdaskan Bangsa

‘Membaca adalah jendela dunia’ demikian sebuah ungkapan yang menyebutkan begitu pentingnya membaca. Nah, untuk urusan yang satu tersebut, posisi Indonesia sangatlah memprihatinkan. Dengan nilai indeks baca hanya 0,01 menempatkan Indonesia pada peringkat 124 dari 187 negara di dunia dalam penilaian IPM (Indeks Pembangunan Manusia) (Sindonews, 19/9/201). Jumlah penduduk 200 juta lebih namun dengan hanya menerbitkan sekitar 50 juta buku per-tahun, bukanlah angka menggembirakan.

Rendahnya daya baca dan daya beli buku di Indonesia tersebut memang tidak bisa dilepaskan dari banyak penyebab, diantaranya adalah:

  1. Rendahnya budaya membaca. Hal ini tak bisa dilepaskan dari aktivitas membaca yang belum menjadi suatu budaya. Bagaimana tradisi membaca ini tidak ditularkan oleh orang tua dalam keluarga. Budaya dongeng dan bahasa tutur masih mendominasi kebiasaan dalam keluarga. Bandingkan dengan negara Jepang, dimana buku sudah menjadi ‘santapan’ harian generasi tuanya. Ini secara langsung dan tak langsung generasi mudanya untuk menduplikasi kebiasaan tersebut.
  2. Lingkungan yang tidak mendukung. Lingkungan bermain, kantor dan pergaulan di sekitar rumah kita yang tidak menyukai kegiatan membaca. Imbasnya tentu kepada subjek yang ada di lingkungan itu juga. Coba seandainya di kantor misalnya, tiap sudut ruang kosong disediakan referensi bacaan. Paling tidak ada fasilitas yang mendorong penghuninya untuk membaca. Apalagi jika saat waktu rehat atau senggang.
  3. Sistem pembelajaran dan penerapan kurikulum. Kurikulum sekolah yang ada saat ini mendorong siswa dan guru untuk memenuhi ‘target’ kurikulum. Sehingga penugasan-penugasan yang ada sifatnya adalah menjawab soal. Bukan bagaimana mendapatkan referensi melalui buku bacaan untuk memecahkan suatu masalah. Tak ayal, membaca seolah menjadi ‘beban’ yang begitu berat untuk ditunaikan.
  4. Minimnya fasum perpustakaan. Tentu hal ini sudah menjadi rahasia umum. Perpustakaan sekolah yang hanya jadi tempat ‘rapat’. Perpustakaan daerah/kota yang berdebu karena jarang disinggahi pembaca. Hingga perpustakaan keliling yang berjalan hanya satu atau dua bulan setelah program dicanangkan. Akses terhadap berbagai perpustakaan itu juga terbatas. Baik dari posisi tempat maupun jam buka. Belum lagi jumlahnya yang bisa dihitung dengan jari, katakanlah jumlah perpustakaan umum dalam satu kecamatan.
  5. Bertebarannya sarana hiburan. Game online menjadi penyakit baru yang cukup berbahaya. Apalagi mudahnya akses penggunaan gadget dan rendahnya pengawasan orang tua terhadap anak.

Melihat kendala yang cukup beragam dan serius tersebut, maka menjadi suatu keharusan IKAPI untuk mengambil peran yang lebih besar lagi. Sebagai satu-satunya organisasi profesi wadah penerbit di Indonesia diharapkan mampu untuk merubah cara pikir dan cara pandang masyarakat Indonesa terhadap buku. Bagaimana buku bisa menjadi kebutuhan pokok selain dari sandang, pangan dan papan. Sebab pernah jadi guyonan diantara mahasiswa saya, bahwa lebih mudah mendapatkan rokok dibandingkan mendapatkan buku di kampus.

Kebiasaan membaca mencerminkan dari tingkat kemajuan bangsa. Bagaimana kebiasaan membaca ini menjadi sarana efektif untuk mencerdaskan bangsa? Tak lepas dari dukungan semua pihak untuk dapat menjadi percepatan budaya tersebut. Munculnya ratusan penerbitan indie dua tahun terakhir diharapkan akan mampu mendongkrak ketertinggalan. Sekaligus mendekatkan fasilitator dengan stakeholder (pembacanya).

Fenomena ini juga seharusnya dapat dibaca oleh IKAPI dengan lebih banyak lebih memberikan akses fasilitasi pembinaan terhadap penerbit baru, penerbit indie dan penulis baru. Sebab pergeseran fenomena dari ngeblog untuk memnelorkan karya buku sudah menjadi tren baru. Blogger yang selama ini dipandang ‘hanya sebelah mata’, ternyata memiliki kemampuan yang lebih. Kehandalan menulis online jika diberikan dorongan dan fasilitas ternyata mampu melahirkan banyak buku baru yang berkualitas.

IKAPI Mendorong Minat Baca dari Rumah

Biasakan membaca sejak usia dini.
Biasakan membaca sejak usia dini.

Budaya baca yang masih rendah. Rumah lah awal dari segalanya. Membayangkan diri jika saya menjadi pengurus IKAPI adalah menciptakan kebiasaan baru di rumah. Dengan cara sederhana dan tak perlu waktu yang panjang sebenarnya. Urusan membaca juga urusan pemerintah. Maka sudah selayaknya jika pemerintah pun harus mau bergandengan tangan dengan IKAPI. Sebab urusan program nasional, mau tidak mau pemerintah jika harus ikut serta.

Jika program Keluarga Berencana adalah program yang penting, mengapa tidak menciptakan program Keluarga Membaca? Merencanakan untuk memiliki anak apakah lebih penting dibandingkan dengan cara cerdas membangun keluarga? Padahal untuk menjadi cerdas salah satunya adalah dengan membaca. Satu hal sederhana yang selama ini luput dari pengamatan kita.

Lewat Posyandu, PNPM dan program kemasyarakatan lainnya, program Keluarga Membaca sebenarnya bisa ‘dititipkan’. Kultur masyarakat yang masih kental dengan budaya ‘getok tular’ rasanya dapat dimanfaatkan dengan menebarkan buku murah dan berkualitas. Program ini sebenarnya dulu pernah dilakukan pada zaman Orde Baru. Buku ‘Tanaman Obat Keluarga’ menjadi buku yang masih saya simpan saat ini. Selain ringan dibaca, sekaligus bisa dipraktikkan. Anak-anak (seperti saya) juga menjadi tertarik untuk membaca.

Kebiasaan membaca paling memungkinkan ditumbuhkan dari keluarga. Sebab dari keluarga itu pula pembentukan karakter dan kebiasaan dimulai. Bukan pekerjaan yang mudah memang. Namun bukan berarti pekerjaan yang sulit jika semua komponen masyarakat siap mendukung program tersebut.

[Artikel untuk Lomba Blog #PameranBukuBdg2014.]

Iklan

2 thoughts on “Menumbuhkan Minat Baca dengan Keluarga Membaca

  1. Generasi kita itu udah keduluan dijejali TV pak. Makanya, jadi males baca. Tapi, kalo IKAPI dan para blogger bersinergi, semoga bisa bikin anak2 kecanduan baca. Buku2 yang baik, inspiratif dan membangun, tentunya.

    1. Kedaulatan media eloktronik (tv an gadget) begitu para menjajah generasi muda kita, anak-anak khususnya. Sehingga membaca pun jadi malas. Sudah saatnya kita berbenah diri dan ‘Say No To TV’. Gerakan yang sudah dilaksanakan di AS sejak 6 tahun terakhir. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s