Belajar dari Cerita Nusantara


Ilustrasi dongeng nusantara. (Foto kolpri)
Ilustrasi dongeng nusantara. (Foto kolpri)

Belajar Kearifan dari Budaya Lokal

Sahabat, pernahkah mendengar kisah tentang cerdiknya Si Kancil? Sebuah fabel atau dongeng tentang binatang yang bertingkah laku seperti manusia yang bernama Kancil. Dengan segala tingkah pola yang nakal dan pintar, dia berhasil menghidupkan banyak cerita dalam ratusan versi. Mulai dari ‘Kancil Mencuri Ketimun’ hingga ‘Kancil Menipu Buaya’. Ada sebuah karakter kuat dimunculkan dalam kisah-kisah tersebut yaitu cerdik.

Sebagaimana karakter yang ada pada manusia, kecerdikan itu bisa digunakan pada hal yang baik atau sebaliknya. Ini menjadi pembelajaran bagi anak, bahwa kecerdikan yang digunakan untuk kebaikan, pasti akan menimbulkan kemanfaatan. Sebaliknya, kecerdikan yang digunakan untuk kejahilan pasti akan merugikan orang lain. Bahkan kerugian itu pada akhirnya akan menimpa diri sendiri.

‘Si Kancil’ adalah sebuah salah satu kisah nusantara dengan genre fabel. Sementara masih banyak kisah lain yang menitikberatkan pada pendidikan moral. Pembentukan karakter melalui kisah nusantara lain diantara kisah ‘Malin Kundang’, ‘Timun Emas’, ‘Asal-Usul Danau Toba’, ‘Legenda Sungai Jodoh’ dan masih banyak ribuan kisah lainnya. Kisah-kisah yang bisa dinikmati dengan membaca namun bisa juga dengan cara didongengkan.

Tak ketinggalan, epos nusantara tentang perjuangan para pahlawan juga cukup menarik perhatian anak dan para remaja. Siapa sih yang tak kenal dengan Tuanku Imam Bonjol, Cut Nya’ Dien, Panglima Polim hingga kisah fenomenal Pangeran Diponegoro. Bagaimana para penjajah merasa kesulitan saat menghadapi perlawanan para ulama tersebut? Namun sayang, mereka mendapat halangan yang hampir sama jenisnya yaitu keculasan dan penghianatan.

Mencoba Kembali Berkreasi

Sayang, cerita saya itu mungkin hanya terjadi sebelum tahun 1990-an. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan IPTEK, kisah-kisah nusantara ini lambat-laun mulai menghilang. Tema-tema kisah komik Jepang dan film kartun Jepang mulai membanjiri menggantikan peran cerita nusantara tersebut. Sementara ‘kaum dewasa’ sudah mulai kehilangan kemampuan dan semangat untuk mendongeng. Anak-anak zaman ‘millenium’ mulai kehilangan identitas kenusantaraannya.

Rupanya kegalauan ini pun mulai terbaca lima tahunan terakhir ini. Melalui media blog dan media sosial, para orang tua mulai ‘sadar’ bahwa ada salah satu pendidikan karakter yang ‘hilang’. Dimana tokoh-tokoh yang seharusnya menjadi panutan bagi anak-anak tak lagi banyak ditemui di dalam buku. Maka mulailah bermunculan para penulis kisah atau dongeng anak. Demikian juga penulis-penulis anak juga mulai bermunculan.

Mereka hadir lewat berbagai komunitas kepenulisan anak. Berbagai buku untuk anak berbagai tema sudah mulai mudah di dapatkan di toko-toko buku besar, meski untuk toko buku kecil terkadang masih sulit didapatkan. Hal ini erat kaitannya dengan harga buku yang memang masih cukup lumayan. Sehingga tidak semua kalangan bisa menjangkau dengan mudah. Sekolah yang diharapkan bisa menjadi jembatan penghubung tidak begitu bisa diharapkan banyak. Karena begitu padatnya jam pembelajaran anak.

Kembali Membumikan Kisah Nusantara

Cerita di atas, akhirnya mendorong semua pemerhati pendidikan anak untuk pandai-pandai berkreasi. Tema-tema tentang kejujuran, kedermawanan, setia kawan serta semangat cinta tanah air mulai banyak digarap. Meski untuk tema yang terakhir masih sangat minim dijumpai. Tema sejenis dengan mengambil latar sejarah perjuangan Rosululloh, sahabat, para panglima perang Islam cukup banyak dijumpai. Ini ‘agak’ menolong tentunya.

Usaha membumikan kisah nusantara, sebagaimana pernah terjadi sampai dengan tahun 1990-an itu akan lebih mudah diwujudkan, jika para penerbit juga lebih memberikan perhatian. Kompetisi menulis menjadi cara yang cukup efektif untuk menjaring naskah-naskah yang sebenarnya bisa dipilih untuk digaungkan kembali. Hal ini juga memotivasi semangat para penulis buku anak untuk menggali kembali ribuan kisah nusantara itu.

Cerita atau kisah nusantara akan mempertebal semangat cinta tanah air. Ini menjadi bagian penting juga untuk pembentukan karakter anak. Jika tak mulai dari sekarang, tentu akan membutuhkan kerja keras di masa yang akan datang untuk menumbuhkannya. Perkembangan buku bertema anak lima tahun terakhir akan menjadi lebih jika keinginan tersebut dapat diwujudkan,

[Artikel untuk Lomba Blog #PameranBukuBdg2014.]

Iklan

2 thoughts on “Belajar dari Cerita Nusantara

    1. ===Sebaliknya, kecerdikan yang digunakan untuk kejahilan pasti akan merugikan orang lain. Bahkan kerugian itu pada akhirnya akan menimpa diri sendiri.===

      Nah, di situlah orang tua dapat masuk ke dunia mereka. Jelaskan contoh yang tak patut ditiru itu. Maka pada dialog itulah sebenarnya proses penanaman karakter terjadi. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s