Tak Percaya


Burning Giraffes and Telephone by Salvador  Dali
Burning Giraffes and Telephone by Salvador Dali

Semua berlarian. Para penghuni belantara keajaiban itu nampaknya mulai panik. Seolah tak ada lagi harapan. Sebagaimana harapan itu sendiri yang biasanya selalu menjadi kenyataan.

“Kamu salah teman,” demikian gumam sang Dewa Api.

“Keajaiban itu ada kalanya lelah. Ada kalanya muak melihat kepicikanmu.”

Gunung yang seharusnya berapi pun enggan keluarkan asapnya. Kembali kepada kebisuan dan siap menjadi saksi sejarah. Bahwa kepongahan itu selayaknya dihukum dengan harga yang setimpal. Pun dengan segala mahluk yang menyerupakan dengan kepongahan itu sendiri.

Tak terkecuali sosok Andini. Perempuan borjuis yang dikaruniai wajah bak Cleopatra. Sejak kemarin rupanya sudah merasakan hawa tak nyaman itu. Meskipun para punggawa yang siap mengawal kemana saja dia mau pergi.

“Mengapa dengan hari ini, Anjalus?” Raut muka tak senang nampak begitu kentara.

“Maafkan saya, Putri. Saya juga tak begitu tahu, mengapa bisa demikian?” Jawab Anjalus, salah satu pengawal setia yang berperawakan tinggi besar.

“Mengapa kamu hanya diam? Cepat cari tahu!”

“Baiklah, Putri. Segera saya dan sebagian punggawa akan mencari kabar.”

Lalu dengan cekatan, Anjalus pun segera mengumpulkan pengawal lain yang memiliki kecakapan intelejen. Dapat dimaklumi jika Andini memiliki sepasukan pengawal. Dia adalah putri tunggal seorang konglomerat dengan timbunan harta yang melimpah ruah. Karena kecantikan serta kekayaannya itu pulal lah sehingga para lelaki pun menjadi ciut nyali untuk melamarnya. Ditambah lagi satu sikap yang tak elok di mata semua manusia. Karena kecantikan dan harta itu juga membuat Andini begitu congkak dan suka meremehkan orang lain.

“Kring….kring….kring…,” terdengar dering telepon dari ruang tengah. Bergegas Lome, sang tukang kebun menjangkaunya dengan agak tergopoh-gopoh.

“Halo, selamat siang,” sapa halus Lome membuka percakapan.

“Kamu, Lome? Ini aku. Aku…aku…, Anjalus…,” terdengar suara terbata dari ujung telepon di seberang sana.

“Ada apa Tuan Anjalus?” Lome pun penasaran.

“Cepat paggil Tuan Putri. Penting! Cepat!” Suara itu pun begitu keras hingga membuat sakit gendang telingan Lome.

“Ba-baik, Tuan.”

Bergegas Lome menghampiri Andini yang sedang menghitung uang yang diperoleh dari hasil perdagangan sejak pagi tadi.

“Maaf Tuan. Ada telepon dari Tuan Anjalus untuk Tuan Putri…,” dengan terbata Lome menyampaikan.

Masih dengan ekspresi biasa, Andini segera beranjak menuju ruang tengah.

Segera gagang telepon diangkat,”Ada apa Anjalus?”

“Maaf Tuan Putri. Habislah kita… Habislah kita…,” dengan suara tergagap Anjalus menyapa.

“Kamu biacara apa, Anjalus?” Tiba-tiba saja raut muka Andini berubah.

“Dewa Api yang sedang marah sedang menuju ke istana Tuan Putri.”

“Kamu jangan bercanda, Anjalus!” Setengah menghardik Andini berkata.

“Benar Tuanku. Ini sebagian punggung saya pun sudah terbakar. Dia mengancam akan membakar seluruh harta Tuan Putri.” Suara di ujung telepon itu semakin melemah.

“Kamu jangan berbohong!” Kembali Andini berteriak.

“Untuk apa saya berbohong Tuan Putri? Lihatlah para punggawa di luar. Mereka juga pasti sedang berlarian dengan punggung terbakar untuk mencari air.”

Seegera Andini menengok dari jendela besar yang ada di sampingnya.

“Anjalus…Anjalus…,” tiba-tiba Andini merasakan ketakutan yang luar biasa. Tubuhnya bergetar dan gemetaran.

Lalu dengan masih memegang gagang telepon erat-erat, tubuhnya pun duduk tejatuh. Lunglai….

—- Kestalan, 25 Agustus 2014 —

[MFF Prompt Quiz #5: Burning Giraffes and Telephone.]

Iklan

10 thoughts on “Tak Percaya

  1. Aku suka dengan ide absurd semacam ini. Aneh dan melambungkan imajinasi. Tapi sayang, aku nggak ngerti ceritanya. Apa sebabnya Dewa Api marah ke pada Andini? Kalimat pertama Dewa Api juga tidak jelas. Siapa yang dimaksud dengan ‘teman’ dalam kalimatnya?

    Kisah ini juga bisa diringkaskan dengan memotong bagian Lome ketika menerima telepon. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s