Buku Ini Aku Pinjam


……

Di kantin depan kelasku, di sana kenal dirimu.

Yang kini tersimpan di hati, jalani kisah sembunyi.

Di halte itu kutunggu, senyum manismu, kekasih.

Usai dentang bel sekolah, kita nikmati yang ada.

……..

 

Demikianlah sebait lirik lagu ‘Buku Ini Aku Pinjam’ milik Kang Iwan Fals. Terasa begitu nyes dan dheg setiap lagu itu terdengar. Seolah menerbangkan kembali ingatanku pada kenangan 26 tahun yang lalu. Ehg…jadi usia saya berapa nih? 

Tak dapat dipungkiri, setiap lagu pasti punya masanya. Seperti halnya lagu tersebut di atas. Buku Ini Aku Pinjam yang diciptakan awal tahun 1980-an seolah menjadi rajanya pada tahun-tahun. Pun demikian juga sampai saat ini saya rasa. Lirik yang cukup sederhana. Namun menggambarkan kejadian yang (memang) seringkali terjadi diantara pelajar muda.

Jika di era akhir 90-an, teknologi gadget sudah mulai merambah kehidupan kaum muda, tidak demikian dengan tahun 80-an itu. Sehingga kisah asmara atau kisah cinta yang terjalin pun begitu banyak warna. Begitu banyak cara untuk mengungkapkan ‘rasa’. Begitu banyak media untuk menunjukkan ‘hasrat terpendam’ kepada seseorang yang begitu diistimewakan.

Buku Ini Aku Pinjam berhasil memotret secara utuh dinamika kehidupan asmara remaja saat itu. Sebab tak dapat dipungkiri, pinjam meminjam buku dapat menjadi salah satu indikasi diterima atau tidaknya rasa simpati seseorang. Hal itu akan menjadi ‘alat komunikasi’ yang efektif untuk mengungkapkan rasa. Untaian puisi atau rangkaian kata indah seringkali ‘diselipkan’ (seolah) tak sengaja oleh peminjam. Pun demikian sebaliknya.

Karokoean di bus 2.
Karokoean di bus 2. (Courtessy of Tanti A.)

Saat berkaraoke dalam acara #sahabatJKN kemarin, secara tak sengaja, Mas Anjari memutarkan lagu itu. Mak jlebb…!!! Saya pun harus menyanyi, sebab mic sudah di genggaman saya. Genggaman kenangan itu pun seolah nampak hadir begitu nyata di depan mata saya. Ya, dulu kita pernah saling berpinjam buku. Meski tanpa kata, tanpa pesan apapun yang saling kita selipkan di buku itu, kita sama-sama tahu. Ada rasa yang selama 6 tahun kita simpan bersama.

Saat kita tahu setahun kemudian, ternyata kita sudah terpisah oleh jarak dan waktu. Ada rasa kecewa luar biasa saat kita sama-sama terbuka. Semua sudah terlambat. Meski semangat ‘Musashi’ menyala di dadaku saat itu, tapi tak mungkin aku lakukan demimu. 

Kini hanya permintaan maaf yang terlambat ku sematkan. Dan tak perlu lagi kamu sembunyi diantara tumpukan kertas dan buku. Sebab masing-masing dari kita telah menempuh jalan yang berbeda. Dan…cinta ini bukan milik kita.

Iklan

6 thoughts on “Buku Ini Aku Pinjam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s