Ustadzah Chayatun, Ibu Para Yatim yang Tangguh


Kupercepat langkah kaki untuk segera menemui beliau. Setelah sekitar satu jam sebelumnya saya membuat janji untuk bisa bertamu. Setelah mengucap salam di ruang tamu, alhamdulillah Ifah menyambutku. Bersegera memanggilkan ibunya yang rupanya sedang sibuk di dapur. Tak lama kemudian, Ustadzah Chayatun pun mempersilahkan saya untuk langsung masuk. Alhamdhulillah, Ustadz Anas, suami Ustadzah Chayatun sedang rehat di rumah. Tentu atas seizin beliau juga saya bisa langsung masuk ke dapur.

Kantor Panti Asuhan Al-Muqorrobin.
Kantor Panti Asuhan Al-Muqorrobin.

Senja itu, Ustadzah Chayatun sedang menyiapkan menu takjil dan buka puasa. Dengan dibantu oleh beberapa orang anak asuh, suasana dapur nampak begitu ceria. Kondisi dapur yang luas setelah direnovasi membuat pandangan mata menjadi lega. Setelah kelar renovasi sejak 2 bulan yang lalu, baru kali ini saya melihat perubahan cukup mencolok. Dapur lama yang biasanya hanya muat antara 3 – 4 orang kini telah berganti suasana. 20 orang juga mungkin muat jika dikehendaki.

Ustdzah Chayatun dan anak-anak menyiapkan menu buka puasa.
Ustdzah Chayatun dan anak-anak menyiapkan menu buka puasa.

Itulah gambaran sekilas kedatangan saya di Panti Asuhan Al-Muqorrobin, Dusun Santren, Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Panti asuhan yang berdiri sejak tahun 1988 ini, kini mengasuh 32 santri. Mereka terdiri dari yatim/piatu, anak-anak terlantar maupun tidak mampu. Berasal dari berbagai daerah kini sepenuhnya diasuh oleh seorang ustadzah yang luar biasa. Siti Chayatun, itulah nama beliau. Anak-anak panti asuhan dan masyarakat sekitar panti biasa memanggil dengan ‘ustadzah’.

Siti Chayatun Sebagai Ibu Kandung dan Ibu Asuh

Menyimak perjalanan hidup beliau, mungkin bagi manusia normal seperti saya pasti akan membuat geleng-geleng kepala. Masyaalloh, Alloh mengirimkan seorang bidadari di panti asuhan itu untuk membimbing jiwa-jiwa lugu dan tanpa dosa. Beliau lahir di Sragen 45 tahun yang lalu. Menamatkan studi di IAIN (UIN) Sunan Kalijaga pada Jurusan Sastra Arab di tahun 1995. Setelah lulus, setahun kemudian dipersunting oleh Drs. A. Anas (Ustadz Anas) dan langsung diajak ‘berbulan madu’ di Panti Asuhan Al-Muqorrobin.

Ustadzah Chayatun dan Ifah, putrinya (membelakangi lensa).
Ustadzah Chayatun dan Ifah, putrinya (membelakangi lensa).

Menjadi pengasuh anak panti asuhan, satu hal yang tidak pernah diimpikannya dahulu. Namun Alloh menghendaki jalan itu. Jalan seorang pejuang sejati, yang mengesampingkan keinginan-keinginan duniawi. Meski jalan ke arah situ sebenarnya mudah. Sebab beliau termasuk mahasiswa yang cukup berprestasi sekaligus termasuk satu diantara dua wisudawan yang lulus tercepat di jurusannya. Takdir mulia telah menjemputnya.

Sepasang pengantin baru, menjadi pengasuh panti asuhan dengan jumlah anak asuh puluhan. Hanya kekuatan ikhlas dan iman sajalah yang mampu mengikat semangat untuk menjalaninya. Selama 17 tahun menjadi pengasuh panti asuhan, 4 orang anak, 3 orang putra dan seorang putri kini telah dihadiahkan oleh Alloh Ta’ala. Namun ujian kesabaran, ketabahan dan iman rupanya belum berhenti. Ifah, putri ketiga beliau menderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Bercengkerama dengan Ustdz Anas di dapur baru panti.
Bercengkerama dengan Ustdz Anas di dapur baru panti.

Rupanya hal itu seolah semakin menambah keyakinan beliau. Anak kandung maupun anak-anak asuh adalah titipan Alloh yang harus dijaga dengan sebaik mungkin. Bahkan terkadang, nada protes mengalir dari putra-putri beliau sebab ada perasaan ‘pilih kasih’. Seolah mereka ‘dikalahkan’ kepentingannya oleh anak panti.

“Maklum, namanya juga anak-anak, Mas Arifin,” demikian beliau menceritakan kepada saya.

Jika anak kandung merasa ‘pilih kasih’, pun sebaliknya. Protes anak-anak asuh pun kadang dilayangkan kepada beliau. Pembawaan sabar dan tenang membawa suasana yang sejuk. Karena anak-anak panti pun seolah menganggap Ustadzah Chayatun seperti ibu kandung sendiri. Apalagi bagi anak yang diasuh sejak usia balita. Kedekatan itu terlihat begitu alami dan terkadang membuat saya iri.

Ibu Luar Biasa Bagi Anak (Asuh)-nya

Maaf, untuk mejaga etika, foto saya ambil secara candid.
Maaf, untuk mejaga etika, foto saya ambil secara candid.

Saya sebagai ‘orang luar’ saja sudah menganggap luar biasa, apalagi bagi anak asuh maupun mantan anak asuhnya (biasa disebut dengan ‘alumni’). Seperti diketahui bahwa dalam rentang waktu 17 tahun pengasuhan bersama sang suami, sudah ratusan alumni yang berhasil hidup mandiri. Bahkan sebagian dari mereka telah menjadi pengusaha sukses, PNS, dan pejabat yang memegang jabatan penting di berbagai perusahaan. Kebetulan puluhan diantara mereka saya sudah cukup akrab.

Selasa besok (22/7), insyaalloh akan dihelat reuni tahunan alumni yang bertempat di Aula Komplek PA Al-Muqorrobin. Jika para pembaca berkenan bisa hadir dipersilahkan. Sekaligus bisa bertatap muka dengan Ustadzah Chayatun. Reuni yang dikemas dalam acara buka bersama, sudah dirintis sejak tiga tahun terakhir. Kebetulan para inisiator adalah alumni (kami menyebut demikian) yang memiliki tingkat penghidupan cukup mapan. Sehingga rasa kangen terhadap ‘rumah lama’ mereka selalu membara. Ada rasa kangen terhadap adik-adik lama maupun baru mereka. Apalagi kepada Ustadzah Chayatun dan Ustadz Anas yang tak pernah lelah, mengasuh dan membimbing mereka. Demikian seperti yang diungkapkan oleh Sugianto, salah seorang alumni kepada saya dalam satu kesempatan.

Kini putra pertama Ustadzah Chayatun, Hamzah, sedang menempuh pendidikan ponpes di Kota Malang. Haidar, putra kedua menempuh pendidikan ponpes di Kota Solo. Ifah, putri pertama (anak ke-tiga) menempuh pendidikan di sekolah anak berkebutuhan khusus di Kota Mojokerto, sedangkan putra bungsunya masih duduk di kelas 2 SD. Sebuah perjuangan panjang, 1/3 hidupnya dan seluruh masa pernikahannya diabdikan untuk kemaslahatan ummat. Di saat para perempuan lain berlomba-lomba untuk mengejar karir dunianya, beliau dengan istikomah, menjaga karir dunia anak-anak dan anak asuhnya.

Sholat Maghrib berjamaah di mushola komplek PA Al-Muqorrobin.
Sholat Maghrib berjamaah di mushola komplek PA Al-Muqorrobin.

Beliau memegang prinsip bahwa manusia yang berguna adalah manusia yang bisa mengabdikan hidupnya di dunia untuk kepentingan akhiratnya kelak. Subhanalloh, sepenggal pengalaman hidup itu seolah menohok kesadaran saya. Bahwa saya belumlah apa-apa dibandingkan dengan pasangan pejuang anak yatim itu. Ada rasa malu tersisip di hati saat melihat ketabahan beliau menjalani perjuangan sebagai ‘ummul yataama‘ (ibu anak-anak yatim). Belum lagi membagi konsentrasi untuk membimbing dan mendidik putrinya yang memiliki kebutuhan khusus. Maka sungguh Maha Benar Alloh dengan firmanNya tentang ciri orang yang bertakwa.

Kamu sekali-kali tidak sampai pada ketakwaan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui. (QS. Ali Imron:92)

——————————————————-

Bersama Kita Sebarkan Kebaikan dengan #SemangatBerbagi. Ikuti acara puncak Smarfren #SemangatBerbagi tanggal 19 Juli 2014 di Cilandak Town Square Jakarta.

Smartfren Peduli

Iklan

10 thoughts on “Ustadzah Chayatun, Ibu Para Yatim yang Tangguh

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb….

    Ibu yang hebat, penuh perihatin dan berjiwa kasih yang tinggi. Saya mengkagumi sosok wanita seperti ini. Semoga beliau dan suami diganjari Allah SWT atas segala usaha yang tidak semua orang mampu melakukannya. Aamiin.

    Salam kenal dari Sarikei, Sarawak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s