Jangan Pernah Takut


Sumber: http://arzuhan.deviantart.com/art/Darkness-100010629
Sumber: http://arzuhan.deviantart.com/art/Darkness-100010629

“Ini sudah ke berapa kali? Kamu lakukan hal ini berulang-ulang, Mas?” tangis Tian pun akhirnya pecah tanpa bisa dibendung.

Aku hanya terdiam. Kemudian ku coba meraih bahu kecil istriku. Dan kami pun berpelukan. Guncangan tubuh mungilnya begitu kuat aku rasakan.

“Maafkan aku Tian. Aku harus jujur pada diriku sendiri,” lirih kata-kata itu aku bisikkan. Masih saja isak-tangis itu riuh mengiring.

“Ya, Mas. Aku tahu. Memang seharusnya demikian. Tapi apatah kita harus hidup terus di bawah bayang-bayang idealismemu? Aku sudah lelah, Mas.”

Masih saja air mata berderai membasahi bajuku. Aku biarkan Tian menangis sepuasnya. Seperti pernah dia lakukan sebelumnya dan sebelumnya. Biarlah sumbatan di dadanya menjadi hilang. Hingga lubang kelegaan kembali menghias dinding hatinya.

“Bu Indah sudah terlalu baik kepada kita, Mas. Kepada anak-anak kita dan Mas Tatok sendiri. Apakah Mas tega membuat beliau bersedih dengan cara seperti ini?”

Aku masih saja diam.

“Kenapa mas? Lalu kita akan makan apa setelah ini?”

“Astaghfirulloh….istighfar Tian… Alloh masih ada di hati kita. Kamu sudah tak percaya kalau Dia pasti menolong kita…?” tiba-tiba aku tersentak dengan pertanyaan itu. Aku jauhkan badan Tian. Lalu aku pandang lekat kedua matanya.

“Aku melakukan hal ini juga karena takutku pada Dia, Tian. Dosa penyuap, sama dengan yang disuap. Tak tahukah kamu dengan hal itu?” ku guncang pelan-pelan tubunya. Mencoba memberikan pengertian atas sikapku.

“Tapi akankan seperti ini terus, Mas. Setiap pekerjaan yang kau geluti, pasti kau tinggalkan jika menemui hal seperti itu?” rasa penasaran itu kembali menghujam telingaku.

Aku hanya bisa diam. Kami pun terdiam. Hanya isakan kecil yang mengalun mengiringi kesunyian kami.

“Ya Alloh, ampuni dosa kami. Ampuni ketakberdayaan kami untuk melewati takdir hidup ini dengan baik. Apakah aku harus gadaikan kejujuran dan nurani hanya untuk seonggok harta dunia? Maafkan aku, ya Alloh…,” lirih aku lantunkan doa penyesalan atas segala dosa yang pernah aku lakukan.

Ya, untuk yang ke-sekian kali aku harus keluar dari pekerjaanku.

“Benar Pak Tatok? Gila ah…berapa puluh orang staff yang dengan segala cara berusaha mencapai jabatan seperti yang Bapak capai kali ini?” demikian anak buahku setengah tak percaya atas keputusanku meninggalkan perusahaan.

Manajer operasional, demikian jabatan itu aku jalankan dengan baik hampir dua tahun. Sampai pada saat aku harus pertaruhkan jabatanku demi sebuah idealisme. Menyuap aparatur pemerintah agar tender proyek dapat diraih perusahaanku. Kebetulan aku ditunjuk oleh Bu Indah, direktur utama yang sedang berada di luar negeri untuk mewakilinya.

Aku berusaha memberikan penjelasan agar bukan aku yang menjadi wakilnya. Tapi masih saja dipaksa, dengan alasan bahwa aku telah ratusan kali memenangkan tender serupa. Hingga aku pun akhirnya menyerah. Memilih mundur, daripada menjalankan keharusan untuk memberikan suap itu. Saat aku berpamitan, tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari mulut beliau.

“Maafkan aku, Mas,” tiba-tiba Tian menghampiriku dan bergerak untuk mencium tanganku.

Aku pun tersentak,”Sungguh Tian? Kamu ikhlas menerima ini semua kan? Yakinkan dirimu, karena di balik hitam kau akan menemukan terang. Alloh sedang menguji ketaatan kita lagi sayang…”

Lalu kami pun kembali berpelukan dalam damai. Meski gelayut mendung itu masih nampak begitu angkuh bergelayut di depan.

Iklan

6 thoughts on “Jangan Pernah Takut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s