Masjid Tempat Favorit Ngabuburitku


Puasa Ramadhan adalah satu bulan yang begitu istimewa. Setiap muslim wajib menjalankan ibadah tersebut. Jika pun ada yang diperbolehkan tidak melaksanakan kewajiban tersebut tentulah harus dengan alasan syar’i. Menaha haus dan lapar adalah menjadi bagiannya. Tapi yang lebih utama lagi adalah kita harus mampu menahan segala hawa dan nafsu.

Di era moderen, mulai terjadi berbagai pergeseran kebiasaan. Hal ini erat hubungannya dengan peningkatan kemampuan sosial ekonomi masyarakat. Semua ingin dilakukan dengan praktis. Tinggal beli, tinggal menikmati. Sebagaimana kebiasaan untuk menikmati hidangan berbuka.

Berbuka biasa pada saat masih anak-anak dan rema sekitar 30 tahunan yang lalu, semua dilakukan sendiri. Mulai dari menyiapkan menu, membeli bahan, mengolah bahan hingga menyediakan. Demikian juga saat akan menjadi hantaran buka puasa bersama di surau atau masjid. Semua makanan adalah produk olahan sendiri.

Suasana sore jelang buka di depan GOR Merdeka Jombang. (Foto kolpri)
Suasana sore jelang buka di depan GOR Merdeka Jombang. (Foto kolpri)

Berbeda dengan saat ini, masyarakat pada umumnya lebih suka dengan membeli. Berbagai aneka masakan dan jajanan sudah tersedia untuk ditawarkan. Kita tinggal menyiapkan uang dan membeli sesuai dengan selera kita. 2 atau 3 menu bisa kita pilih, bahkan terkadang bisa lebih dari itu. Inilah yang membedakan gaya menyiapkan berbuka tempo dulu dan sekarang.

Kesempatan untuk memilih makanan yang dijajakan di sepanjang jalan ini sekaligus menambah kebiasaan baru. Orang biasa menyebutnya dengan ‘ngabuburit’. Istilah dari Bahasa Sunda yang asal katanya adalah ‘burit’ yang artinya senja/sore. Kemudian diberi awalan [nga] dan sisipan [bu] menjadi ‘ngabuburit‘, yang artinya ‘ngalantung ngadagoan burit‘. Terjemahnya adalah bersantai-santai untuk menunggu waktu senja. Selanjutnya lebih dikenal dengan menunggu waktu berbuka puasa sambil melakukan aktivitas ringan berupa jalan-jalan sambil melupakan perut yang lapar.

Nah, berbagai macam tempat eksotik akhirnya menjadi pilihan. Termasuk diantaranya adalah jalan-jalan raya atau jalan sekitar perumahan atau taman kota yang dipenuhi dengan para pedagang tadi. Maka muncullah satu tren baru di masyarakat untuk melakukan aktivitas baru menjelang berbuka puasa. Ngabuburit, demikian istilah yang kini kita kenal.

Tempat Favorit Ngabuburit Kami adalah Masjid

Inilah tempat favorit ngabuburiku. (Foto kolpri)
Inilah tempat favorit ngabuburiku. (Foto kolpri)

Tradisi dalam keluarga kami adalah memakmurkan masjid baik di bulan-bulan biasa, apalagi di Bulan Ramadhan. Jika di bulan-bulan biasa, menjelang sore hari saya dan bapak saya dulu biasanya membersihkan halaman dan serambi masjid. menyiram halaman agar terasa segar saat menjelang Sholat Maghrib. Kemudian jika hari Senin dan Kamis, kami menyiapkan air putih, teh manis hangat dan makanan kecil untuk menyambut jamaah dan musafir yang menunaikan puasa sunnah tersebut.

Masjid kami bernama Al-Muqorrobin, yang mempunyai arti orang-orang yang taqarrub. Pasrah diri memohon keridhaan dan berkah hidup dari Alloh Ta’ala. Diresmikan oleh Bupati Mojokerto pada tahun 1989. Terletak tepat di utara Pasar Brangkal/Kedungmaling di sebuah desa pinggiran Kota Mojokerto. Berjarak kurang lebih 200 meter dari jalan raya poros Surabaya – Madiun – Solo. Banyak macam kegiatan kajian taklim di masjid ini.

Kesibukan akan bertambah jika Bulan Ramadhan tiba. Menyambut Maghrib atau jelang buka puasa, selain menyiapkan tempat juga harus menyiapkan jadual para dai pengisi kuliah jelang buka puasa. Belum lagi ditambah dengan menyiapkan menu takjil dan menu makan untuk berbuka. Menu takjil biasanya berupa kurma atau makanan kecil plus teh manis hangat atau air putih. Kami menyiapkan berkisar antara 70 hingga 100 porsi.

Dahulu, kami menyiapkan itu semua biasanya hanya dengan 2 atau 3 orang saja. Alhamdulillah, saat ini sudah mulai tumbuh kesadaran dari beberapa jamaah untuk meluangkan waktu ngabuburitnya di masjid. Ikut membantu kami menyiapkan makanan yang jumlahnya memang cukup lumayan. Jika dahulu kami biasanya mengambil sumbangan takjil atau berbuka, kini para donatur sudah mulai tumbuh kesadaran untuk mengantarkan sendiri ke masjid. Sebab memang butuh waktu cukup panjang untuk mengajak mereka sadar, bahwa sedekah itu lebih baik jika diantarkan, bukan dijemput.

Tumbuhnya kesadaran masjid sebagai tempat favorit yang paling baik untuk ngabuburit, alhamdulillah juga menurun pada anak-anak kami. Biasanya saat mereka di rumah saat libur 10 hari menjelang Idul Fitri, masjid menjadi tempat favorit. Karena setiap ba’da Ashar, acara muroja’a (mengulang hafalan) Al-Qur’an mereka lebih suka melakukan di masjid. “Enak, sejuk karena ada AC,” demikian setengah bercanda mereka memberi alasan. Kemudian pulang sebentar ke rumah, lalu kembali ke masjid untuk membantu kami.

Masjid Tempat Paling Mulia

Suasana kajian jelang bukber. (Foto kolpri)
Suasana kajian jelang bukber. (Foto kolpri)

Alloh Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 18 yang artinya:

”Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Alloh hanyalah orang-orang yang beriman kepada-Nya dan hari kemudian, serta (tetap) mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun), kecuali kepada Alloh. Maka, mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Nah, begitu jelasnya Alloh Ta’ala menerangkan tentang kemuliaan masjid. Apakah kita masih mau mengingkarinya? Kebiasaan untuk ngabuburit atau membunuh waktu dengan ‘cuci mata’ bukanlah satu tuntunan yang dicontohkan Rosululloh. Lalu jika kita masih melakukannya, apakah justeru menjadi sia-sia ibadah puasa kita. Karena kita melupakan satu keutamaan untuk mengisinya dengan perbuatan baik. Meramaikan masjid dengan sholat jamaah, tholabul ‘ilmi dengan kajian-kiajian ilmu, berdzikir, membaca Al-Qur’an dan aktivitas positif lainnya.

Maka marilah mulai saat ini, kita mencoba untuk mengubah kebiasaan kita yang mubadzir itu dengan kebiasaan baru. Memfavoritkan masjid sebagai tempat untuk ngabuburit. Sekaligus mengisi tempat favorit itu dengan acara-acara yang menarik. Jika kita mampu mengadakan, kita bisa mengisi juga dengan menu-menu menarik untuk acara takjil ataupun buka puasa bersama.

Kita bisa menambah saudara dengan hadirnya jamaah-jamaah baru di saat buka puasa bersama. Selain itu, kita berharap dapat meraih berkah Ramadhan dengan mengharapkan keridhaan Alloh Ta’ala. Sekaligus sebagai sarana untuk menjadikan diri kita menjadi orang yang bertakwa. Sebagaimana tujuan dari tujuan Alloh mewajibkan puasa Ramadhan bagi kita tersebut (QS. Al-Baqarah:183). Semoga Alloh Ta’ala memudahkan….

[“Artikel ini diikutsertakan dalam #EmEmCe : Ngabuburit dimana?“]

Iklan

4 thoughts on “Masjid Tempat Favorit Ngabuburitku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s