Gadisku yang Luar Biasa


Abi, aku kangen sekali. Ustadzah tadi sempat meng’iqob aku. Adik menggoda Nabila. Terus dia nangis. Salah Nabila duluan sih. Dia menggoda adik duluan. Jadi aku membalasnya. Adik tadi ngepel tempat wudhu mushola sama Binti. Itu lho, anaknya Ustadzah Ufi. Binti dihukum juga. Seharian dia tidak mau setor hafalan. Habis ngepel pegel. Terus aku nangis. Jadi ingat abi dan ummi.

Tak terasa air mata ini meleleh. Membaca penggalan diary anakku yang di pesantren. Ana anakku, semoga Alloh selalu melindungimu, nak. Kau begitu luar biasa. Kenaikan kelas kemarin aku coba membujukmu. Rupanya hatimu begitu teguh. Tak mau meninggalkan ma’hadmu yang telah kamu tinggali 4 tahun terakhir.

abi ana-uk kecil

“Sudahlah Bi, aku nggak mau pindah. Abi nggak senang ya adik di sana. Abi kangen ya? Hayo…,” kata-kata meluncur dari mulut mungilnya seolah meledekku.

“Bukan begitu, Ana. Abi kan tetap memberikan pilihan. Mau menuntaskan hafalan Al-Qur’annya, atau pindah ke sekolah umum,” aku mencoba untuk bernegosiasi.

Maklumlah, usia 6 tahun saat masuk ke pesantren khusus hafalan. Itu pun pilihan yang aku tak bisa menolaknya. Sebab begitu bersemangatnya dulu saat dia memilih tempat itu. Satu pilihan yang memang sebelumnya aku sudah tahu.

“Abi, aku besok nggak mau sekolah sama ummi. Aku mau sekolah sama aa’ (panggilan sayang ke kakaknya). Aku kalau besar ingin jadi ustadzah,” demikian ucapnya penuh semangat saat masih TK A.

“Aamiin…,” demikian aku mensyukurinya. Sebuah keinginan mulia yang keluar tulus dari hati seorang bocah.

“Semoga Alloh membimbingmu, nak,” demikian kami selalu berdoa.

Akhirnya, anak ke-tiga kami pun kami lepas dengan doa dan harapan. Meraih cita-cita sebagai pendakwah di masa yang akan datang. Ada perasaan sedih sedikit yang menyelinap. Sebab kami tak bisa memeluknya sesering tahun-tahun kemarin.

Kejadian sama berulang seperti pada ke-dua kakaknya. Mereka pun memilih untuk menjadi penghafal di usia 6 tahun. Perasaan sedih itu akhirnya tertutupi saat mereka begitu riang gembira saat memasuki komplek ma’had.

Selamat berjuang anak-anakku!

[Naskah Flash Fiction Prompt #56 – 306.]

Iklan

10 thoughts on “Gadisku yang Luar Biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s