Aku Bukan Pembunuh


Gambar koleksi Deviantart.
Gambar koleksi Deviantart.

Saat melihat mereka berdua yang sedang berasyik-masyuk, tiba-tiba saja dada ini bergelegak.

“Semua drama ini harus segera diakhiri, Tomi! Harus segera diakhiri!” begitu keras bisikan itu, hingga memekakkan telingaku.

“Tidaaaaaak. Tidaaak……!” aku berteriak sekuatnya. Lalu segera berlari menjauh. Entah menjauh untuk apa sebenarnya. Semakin cepat, semakin cepat, sampai aku rasakan seolah dunia ini gelap.

“Engkau tak akan selamanya bisa lari, Tim,” suara bisikan itu seolah menyadarkanku.

“Semakin kamu lari, bayangan Viona dan adik tirimu itu semakin nampak jelas di hadapanmu.”

“Sudahlah, diam!  Aku tahu yang menjadi pilihanku. Aku tahu apa yang terbaik…,” dengan suara lirih, ku coba melawan suara misterius itu.

“Ha…ha…ha… Kamu mimpi, Tom. Hatimu sakit bukan? Istri yang kamu cintai, tak lebih baik dari seorang pelacur. Sementara adik yang begitu kau sayangi, menghujami tusukan pedang di hatimu. Kamu sakit, Tom. Kamu sakit…” suara itu masih saja jelas terdengar. Namun perlahan-lahan lirih hingga hilang dari pendegaran.

Tak terasa, tiba-tiba bulir-bulir bening ini meluncur deras membasahi pipiku. Ku usap dengan telapak tanganku, tapi makin bertambah perih mata terasa.

“Ya Tuhan!” dadaku berdegup kencang. Tanganku berlumuran darah. Saat ku perhatikan pakaianku pun tak luput dari lumuran darah.

“Oh Tuhan. Darah siapakah ini?” masih saja aku tak mengerti. Mengapa tubuh ini tiba-tiba penuh lumuran darah.

Aku mencoba mengingat kembali peristiwa demi peristiwa yang telah ku lalui. Sebab seolah ada ruang hampa waktu yang terserak sejak kemarin. Tak ada yang mampu ku ingat lagi. Sejak terakhir aku dibawa ke rumah sakit jiwa di kotaku.

“Sabar, Tomi. Cobaan itu adalah sesuatu yang tak kita rencanakan,” begitu pesan Dokter Harly yang begitu bijak. Tapi amat tidak bijak bagiku, yang telah dikhianati oleh 2 orang yang begitu aku cintai dan sayangi.

Aku hanya terdiam membisu. Menatap langit-langit ruang konsul dokter spesialis jiwa yang ku kenal sejak dua minggu yang lalu.

“Sementara untuk beberapa hari ke depan, kamu istirahat dulu di sini,” dengan suara yang mantab, beliau menepuk-nepuk pundakku. Aku pun hanya bisa mengangguk pasrah.

Setelah itu, aku tak mampu mengingat apa-apa lagi. Mungkin suntikan itu yang membuat ingatanku lumpuh. Bahkan seolah aku sendiri tak tahu siapa diriku sebenarnya.

“Ha…ha…ha… Timothius Chandra. Kau bertanya tentang darah itu bukan?” suara misterius itu kembali lagi tanpa bisa ku cegah.

Aku mencoba diam, tenang dan mengingat apa yang sesungguhnya terjadi.

“Engkau berhasil sobat. Menyingkirkan duri dalam daging yang menyiksamu. Vicky, adik tirimu yang licik itu, berhasil kau putus urat lehernya…”

“Apa? Gila! Yang benar saja kau bicara,” aku tak lagi mampu diam.

“Sabar dulu Tomi sayang. Jangan kau marah dulu. Itu masih belum seberapa.”

“Lalu apa?” rasa penasaran ku pun semakin bertambah.

“Kamu tahu Viona bukan?” nada ejekan seolah mengiringi suara itu.

“Kau hujami jantungnya dengan puluhan bahkan ratusan tusuka pisaumu. Kau hebat Tomi. Ha…ha…ha…,” suara itu pun menghilang dan meninggalkan gema yang begitu menyayat.

“Ini tidak betul. Sungguh ini tidak betul, Tuhan! Aku amat menyayangi mereka berdua,” lirih aku bergumam.

Lalu, kembali aku rasakan dunia begitu gelap.

[Monday Flash Fiction Prompt #55]

 

Iklan

5 thoughts on “Aku Bukan Pembunuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s