50 Ribu Bikin Asyik


Tongkrongan keren Yamaha Fino F1.
Tongkrongan keren Yamaha Fino F1.

Siapa sih yang tak kepingin punya Yamaha Fino F1? Apalagi kalau dapatnya cuma dengan nulis. Kalau tidak kepingin, kebengetan deh rasanya. Nah, biar tidak masuk golongan yang kebengetan itu, maka menulis lah diriku. Topiknya ringan, tapi menggigit lho. Nggak percaya? Coba cek ceritaku di bawah ini.

Pesiar Berdua

Pesiar? Modal 50 ribu rupiah? Yang bener nih… Beneran kok. Bisa lebih hemat sih sebenarnya. Tapi tidak aku lakukan itu. Jika aku lakukan, maka sungguh ter…la…lu. Masak pesiar nggak pakai makan-makan. Lho, ada acara makan-makannya juga?

Singkat cerita, Kamis (12/6) kemarin siang, aku dan anak ke-duaku tiba-tiba saja ingin jalan-jalan. Maklumlah, anakku yang biasa kami panggil dengan Obit, sehari-hari tinggal di pesantren. Masa liburan begini saja, kami bisa bersama untuk berpetualang yang mengasyikkan. Berhubung biaya registrasi kenaikan kelas untuknya dan adiknya ditambah biaya her-rigistrasi kakaknya yang cukup wah, maka kami harus berhemat.

2 orang petualang paket hemat. (Foto koleksi pribadi)
2 orang petualang paket hemat. (Foto koleksi pribadi)

Anggaran untuk jalan-jalan liburan akhir tahun pelajaran ini pun kami pangkas secara signifikan. Uhh…menyedihkan kali ya? Eits… tunggu dulu. Meski dengan anggaran terbatas, kami tetap berusaha menciptakan liburan yang berkesan. Nah, berhubung siang hari, maka hanya Obit yang aku ajak. Akhirnya kami memilih untuk ‘cuci mata’ di wana wisata Sumberboto Jombang. Sekaligus cuci badan (renang), agar sampai rumah tak perlu mandi lagi. Modus kayaknya, he…7x.

2000-0
Buktri struk pembelian bensin. (Foto koleksi pribadi)

Maka dengan mengendarai motor bebek yang kami punya. Sambil berdoa, semoga dengan tulisan ini agar dapat motor matik. Berangkatlah kami dari rumah, daerah Sooko Mojokerto sekitar pukul 13.15. Dengan kecepatan bak Rossi atau Lorenzo, kami berpacu dengan waktu. Sampai tak sadar, bahwa motor minim bensin. Akhirnya kami mampir dulu ke SPBU Jatipasar Trowulan Mojokerto. Cukup isi Rp. 10.000,- saja, kami perkirakan cukup untuk pulang pergi.

Papan petunjuk lokasi diambil dari arah Ngoro Jombang. (Foto koleksi pribadi)
Papan petunjuk lokasi diambil dari arah Ngoro Jombang. (Foto koleksi pribadi)

Lanjut, dengan kecepatan mendekati ‘kecepatan normal’ pembalab keren Yamaha itu, sampailah kami di pertigaan terminal Mojoagung. Langsung ambil arah kiri, jalan raya menuju Ngoro via Mojoduwur. Sekira 7 kilometer, sampai juga ke jalan arah menuju Wana Wisata dan Pemandian Sumberboto. Namun, harus cukup waspada, sebab papan penunjuk menuju lokasi, hanya terpasang satu arah. Papan hanya bisa terbaca jika berjalan dari arah Ngoro (selatan). Sementara kami berkendara dari arah utara.

Lokasi camping. (Foto koleksi pribadi)
Lokasi camping. (Foto koleksi pribadi)

Lokasi wisata ini tepat berada di Desa Japangan, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Berjarak kurang lebih 21 kilometer dari rumahku. Jika berkendaraan motor mirip kecepatan Mas Rossi atau Mas Lorenzo, cukup 20-30 menit saja. Kalau mau santai, bisa sehari semalam. Sambil berkemah semalam di wana wisata. Kalau mau lho….

Jalan awal 800 meter yang mulus. (Foto koleksi pribadi)
Jalan awal 800 meter yang mulus. (Foto koleksi pribadi)

Memasuki jalan yang cukup mulus, jarak menuju lokasi sekitar 2 kilometer lagi. Sayangnya, jalan mulus itu hanya sekitar 800-an meter. Lepas itu, jalan berkerikil akibat aspal yang telah mengelupas. Mohon maklum saja deh. Tapi untunglah, di sisi kiri dan kanan kita masih bisa terhibur dengan hamparan sawah yang menghijau. Indonesia banget pokoknya.

Pos penjagaan utama. (Foto koleksi pribadi)
Pos penjagaan utama. (Foto koleksi pribadi)
Tarif tiket masuk wana wisata. (Foto koleksi pribadi)
Tarif tiket masuk wana wisata. (Foto koleksi pribadi)
Tiket masuk wana wisata. (Foto koleksi pribadi)
Tiket masuk wana wisata. (Foto koleksi pribadi)
Karcis masuk roda 2. (Foto koleksi pribadi)
Karcis masuk roda 2. (Foto koleksi pribadi)

Sekitar pukul 14.10 Wib, sampailah kami di pos penjagaan. Dengan santun, petugas menghentikan kami dan menyobekkan 3 lembar karcis. 2 lembar karcis tanda masuk wana wisata dan 1 lembar karcis masuk (kendaraan) roda dua. Setelah membayar sebesar Rp. 11.000,-, segera ku geber lagi menuju lokasi kolam renang tujuan kami. Eits…tunggu dulu (lagi), ternyata kami harus memarkir motor di luar area perkemahan dan kolam renang. Bayar lagi Rp. 3.000,- tapi tanpa bukti karcis retribusi parkir. Lagi-lagi Indonesia banget.

Jalan menuju kolam renang. (Foto koleksi pribadi)
Jalan menuju kolam renang. (Foto koleksi pribadi)
Tarif tiket kolam renang. (Foto koleksi pribadi)
Tarif tiket kolam renang. (Foto koleksi pribadi)
Tiket masuk kolam renang. (Foto koleksi pribadi)
Tiket masuk kolam renang. (Foto koleksi pribadi)

Jalan kaki sekitar 300 meter, nyampai juga kami di pintu kolam renang. Ingat, di sini bayar lagi lho. Untuk 2 orang kami bayar Rp. 10.000,-. Dengan hati riang-gembira, kami berenang ke sana ke mari. Airnya cukup ‘mak nyuss’, menyegarkan tubuh kami yang tengah kegerahan karena kepanasan akibat perjalanan. Ada tiga pilihan kedalaman kolam, 80 cm., 120 cm. dan 200 cm. Tinggal pilih bagi yang bisa atau tidak bisa berenang.

Penampakan kolam renang utama. (Foto koleksi pribadi)
Penampakan kolam renang utama. (Foto koleksi pribadi)
Mas Obit yang menghitam. (Foto koleksi pribadi)
Mas Obit yang menghitam. (Foto koleksi pribadi)

Sekitar 1,5 jam kami berenang. Maklum, pukul 16.00 Wib, kolam renang sudah ditutup. Ditambah dengan waktu sebegitu sudah membuat kami lelah tak ketulungan. Setelah ke luar kolam, kami sempatkan narsis-narsisan dulu. Pemandangan cukup asri, meski pohon-pohon besar seperti yang saya foto itu sudah bertumbangan. Terjadi pembalakan liar besar-besar pada saat euforia reformasi 1998 yang lalu.

Pohon 'raksasa' yang tersisa. (Foto koleksi pribadi)
Pohon ‘raksasa’ yang tersisa. (Foto koleksi pribadi)

Mengingat waktu sudah rembang petang, kami putuskan untuk segera beranjak pulang. Setelah Sholat Ashar di mushola sekitar pukul 16.15 Wib, kami tinggalkan wana wisata. Oh ya, wana wisata dan pemandian ini dikelola oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Di sana sini nampak tumbuhan baru aneka macam untuk pemulihan hutan.

Soto daging Cak Ipul. (Foto koleksi pribadi)
Soto daging Cak Ipul. (Foto koleksi pribadi)

Kembali kecepatan mirip Mas Lorenzo motor aku pacu. Sambil berpacu dengan reriungan bunyi perut yang minta diisi. Hallow efect dari bermain air. Maka Soto Daging Cak Ipul di Japan Sooko menjadi tujuan kami. Alhamdulillah warung buka, sehingga kami tak perlu mencari warung favorit yang lain. Kami pesan dua mangkok soto daging dan satu gelas jeruk hangat manis. Maklumlah, kami harus berhemat. Toh, air masak dari rumah masih ada di tumbler yang aku bawa.

Daftar harga yang ditempel di tembok. (Foto koleksi pribadi)
Daftar harga yang ditempel di tembok. (Foto koleksi pribadi)

Puas makan, cukup membayar dengan Rp. 16.000,- untuk makan dan minum. Rasa soto yang asli enak plus daging yang lumayan banyak dan empuk. Kalau nggak percaya? Bisa lihat daftar harga sederhana yang tertempel di tembok. Harga yang murah, tapi rasa beneran tidak murahan. Makanya kalau ke Mojokerto, harus makan di sini juga. Makan se-RT-pun dijamin nggak bakalan kelimpungan. Hi…7x

Cukup Rp. 50.000,- Menikmati Hidup Menjadi Lebih Sipp

Perjalanan pesiar siang sampai sore itu, cukuplah membuat kami puas. Rasa lelah tertutup dengan sensasi makan enak, murah dan meriah (meski tidak pakai makan krupuk). Tak banyak uang yang harus aku keluarkan. Sebab memang cukup dengan jumlah segitu sudah membuat kami puas. Cukup Rp. 50.000,- kami bisa membuat perjalanan yang begitu indah.

Kalau masih kurang yakin, berikut rincian uang yang harus aku keluarkan dari dompet:

  1. Rp. 10.000,-  untuk bayar bensin (lihat nota),
  2. Rp. 10.000,-  untuk 2 lembar karcis masuk wana wisata (lihat tiket),
  3. Rp.   1.000,-  untuk 1 lembar karcis roda dua (lihat tiket),
  4. Rp.   3.000,-  untuk bayar parkir roda dua (tak ada karcis/pungli),
  5. Rp. 10.000,-  untuk 2 lembar karcis masuk kolam renang (lihat tiket),
  6. Rp. 14.000,-  untuk 2 mangkok soto daging (lihat daftar harga),
  7. Rp.   2.000,-  untuk 1 gelas teh hangat manis (lihat daftar harga).

Betul Rp. 50.000,- saja kan? Kalau masih tidak percaya, silahkan nanti bisa kontak saya untuk saya antar seperti rute yang saya sebutkan. Tapi jangan lupa, siapkan uang lelah juga untuk saya lho. Hi….7x, memang enak diminta ngantar gratisan. Ups, guyon lho ini. Tapi bila beneran, saya pasti lebih suka. Nah, modus lagi kan?

Kalau mau lebih OK lagi, bisa nyimak video berikut. Pasti ngejoss dengan Rp. 50.000,- akan lebih terasa asyik.

—Artikel disertakan dalam lomba artikel Dengan Mio Fino Kemanapun Asyik.—

Iklan

3 thoughts on “50 Ribu Bikin Asyik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s