Sang Patriot: Antara Keringat, Air Mata dan Darah


Cover luar novel SANG PATRIOT karya Irma Devita
Cover luar novel SANG PATRIOT karya Irma Devita

Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan

Sesosok jasad terbujur kaku di meja yang sengaja diltekakkan di pelataran musala. Terbaring dalam hening. Tampak agung walau beberapa waktu lalu tersungkur bergenang darah mengering dari luka menganga di wajah yang bola matanya raib tercabut dari tempatnya… Tubuh berperawakan sedag namun berisi itu menjadi saksi bisu kekejaman tangan-tangan yang pernah mendera, penuh lubang peluru dan cabikan bayonet.

Satu paragraf dari prolog membuka kisah novel epos kepahlawaan ‘Sang Patriot’. Letkol. Mochamad Sroedji (alm.) menjadi sosok sentral dalam kisah tersebut. Kisah tentang seorang anak manusia yang dibesarkan dalam era pergolakan kebangsaan. Keterbatasan ekonomi dan kondisi sosial tak memungkinkan seorang anak pribumi untuk maju. Namun karena semangat, tekad dan iman yang tumbuh di hati, dia berhasil menepis dogma tersebut.

Strata sosial ‘kelas rendah’ tak membuat Sroedji rendah hati dan patah arang. Hal inilah yang membuat sang bapak luluh juga. Memberikan kesempatan menempuh pendidikan tinggi ‘khas Belanda’ yang diidamkan. Kecerdasan, kepandaian, kejujuran dan ditunjang ketampanannya itu pula yang akhirnya mampu tundukkan hati Rukmini. Seorang anak ningrat yang akhirnya mampu disunting menjadi pendamping hidupnya.

Rukmini inipun bukanlah perempuan biasa. Dengan posisi yang ‘menguntungkan’ dari sang bapak, berhasil memperoleh pendidikan Belanda sekaligus priyayi khas keraton. Meski memiliki cita-cita sebagai Meester in de Rechten (Sarjana Hukum), namun luluh juga karena kepatuhannya kepada orang tuanya. Apalagi setelah dijodohkan dengan sesosok laki-laki yang ternyata sesuai dengan ‘kriterianya’ juga.

Maka skenario Alloh berjalan begitu indah, meski di sana-sini perjalanan duka dan suka mewarnai. Perjalanan seorang istri prajurit yang sedang meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Kecerdasan, ketulusan dan semangat juang yang mendukung perjuangan sang suami di garis depan peperangan.

Sroedji muda yang dewasa di medan pertempuran, menjelma menjadi sosok yang begitu dicintai pasukannya. Dicintai oleh siapa saja yang mengenal sepak terjangnya. Namun sebaliknya, menjadi sosok yang amat dibenci oleh Belanda karena kegigihan dan semangat pantang menyerahnya. Hingga segala daya upaya digunakan untuk melumpuhkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan tanah airnya.

Antara Keringat, Air Mata dan Darah

“Wajah-wajah usia belasan. Mereka masih belia tapi terpaksa memanggul senjata. Kasihan mereka, perang sudah merampas masa muda mereka,” batin Sroedji.

Demikian sebuah kutipan kalimat yang terdapat di halaman 168. Kemasygulan seorang Sroedji melihat kenyataan. Perang memang begitu kejam. Tapi lebih kejam lagi jika para remaja atau pemuda tak mampu angkat senjata demi bumi pertiwinya. Hal ini sekaligus mengingatkan saya kepada sosok bapak saya. Di usia 15 tahun sudah berjuang bersama lasykar Hizbulloh. Berjalan kaki bergerak dari Ponpes Asysyafi’iyyah Salafiyyah Asembagus  hingga Surabaya.

Novel yang disajikan secara apik oleh Irma Devita ini seolah menyeret kita pada sosok Sroedji. Memberikan banyak pemahaman baru dan detail peristiwa yang tak kita dapatkan dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Suasana psikologis yang dibangun dalam rangkaian cerita, cukup menguras emosi kita. Gambaran kehidupan sejak masa kecil hingga beliau gugur tersaji runtut dan disampaikan dengan bahasa sederhana.

Juga nilai budaya dan agama yang cukup kental tergambar pada beberapa fragmen cerita. Bagaimana seorang Rukmini yang memiliki cita-cita tinggi, namun karena ‘keterpaksaan adat’ harus merelakan untuk dipinang oleh Sroedji. Pun demikian saat momen ‘perkenalan’ mereka berdua. Ditata begitu rapi dan halus, hingga Rukmini tak tahu bahwa sang pemuda yang mengintipnya di pasar adalah calon suaminya. Mari sejenak kita renungkan dengan model pergaulan remaja zaman sekarang. Begitu jauh perbedaannya bukan?

Sholat dan mengaji menjadi suatu harga mati bagi setiap muslim. Ini sekaligus menjadi pembentuk karakter yang kuat bagi calon patriot bangsa. Tergambar dari setiap adegan yang mempertaruhkan nyawa mereka. Maka tak pelak, frasa “hanya kepada Alloh semua ini aku pasrahkan” menjadi penyemangat diri untuk tetap bertahan.

Kecakapan Sroedji dan Rukmini bertutur dalam Bahasa Belanda sekaligus Bahasa Madura sebagai bahasa ibu mereka, tak mejadikan mereka jumawa untuk berbicara dalam bahasa tersebut. Bahkan Sroedji meminta Rukmini untuk menggunakan percakapan dalam Bahasa Jawa dalam lingkungan keluarga. Ini sekaligus menunjukkan nilai moral nasionalisme dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Mendidik keluarga untuk menghargai nilai-nilai kemasyarakatan termasuk dalam hal bahasa.

Nilai profesionalisme pun nampak begitu nyata ditunjukkan oleh dr. Soebandi. Demi keselamatan sang pasien, beliau rela dihukum dan dijadikan tawanan. Seorang dokter yang tak hanya ‘bermain’ di belakang meja operasi. Beliau pun rela berpeluh-peluh dan berdarah-darah hingga maut menyongsong di ujung peluru. Meskipun dengan profesi langkanya saat itu, bisa saja beliau nikmati fasilitas menjadi dokter perusahaan atau onderneming milik Belanda. Jiwa nasionalisme beliau lebih kuat dibandingkan untuk sekedar menjadi ekstrimis yang menggadaikan jiwanya demi harta dan kedudukan.

Membentuk karakter seorang patriot ternyata juga melewati seruang proses yang tak mudah. Banyak pertaruhan di dalamnya, tak hanya jiwa dan raganya sendiri. Anak, isteri hingga keluarga yang lain pun harus sejiwa. Sebagaimana ditunjukkan dengan keikhlasan Rukmini, tak surut hati dan langkah untuk mendukung perjuangan suaminya. Sekaligus perjuangan dari anak bangsa. Merelakan seluruh harta benda, kebahagiaan hidup bersama, hingga janin yang sedang dikandungnya untuk meniti jalan sejarah. Memenuhi kewajiban bangsa dan agamanya untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih dengan susah payah.

Banyak dialog-dialog heroisme yang seharusnya juga dibaca oleh para politisi, generasi muda dan para pelajar penerus perjuangan bangsa. Seperti apa yang diungkapkan oleh Kolonel Sungkono pada paragraf ke-dua,”….Meski hanya tinggal seorang diri, saya akan tetap memepertahankan Surabaya”. Kata-kata ini pula yang seolah menghipnotis Sroedji untuk lebih membulatkan tekad memperjuangkan kemerdekaan tanah air yang dicintainya.

Diantara adegan perang yang tersaji pada novel ini, beberapa adegan romantisme pun muncul. Sebagaimana tergambar begitu utuh di halaman 162 dan 163. Juga di beberapa adegan saat para pejuang diminta untuk mengungsi. Mereka tetap gigih untuk menyertakan isteri dan anak tercintanya karena khawatir tak mampu lindungi mereka saat ditinggalkan bergerilya. Meski hal ini menjadi pilihan sulit, Sroedji pun amat memahami kekhawatiran mereka. Sebab beliau pun memiliki perasaan yang sama.

Namun Demikian, diantara apik dan rancaknya penyajian alur dan rangkaian kata, masih saja terselip satu dua hal yang mengganggu. Diantaranya adalah penyebutan ‘pulau Kagean’ yang seharusnya adalah ‘Pulau Kangean’ (hlm. 14). Demikian juga untuk penyebutan ‘Bandhi’ yang seharusnya ‘Bandi’ (hlm. 92). Kemudian terdapat sebuah flash back yang cukup ‘mengganggu’ yang menceritakan tentang sosok Karjo (hlm. 225). Akan lebih ‘nyaman’ jika tidak dibuat dalam sub bab, tapi ditulis sebagaimana rangkaian cerita biasa.

Novel Wajib Baca

Secara keseluruhan, saya merekomendasikan ‘Sang Patriot‘ menjadi referensi wajib baca bagi semua usia. Sebab belum banyak buku pelajaran atau buku referensi sejarah yang menceritakan pahlawan daerah dengan gaya penulisan fiksi. Begitu empuk dan renyah disajikan. Sehingga begitu mudah dicerna dan dinikmati oleh semua kalangan.

Patung Sroedji (Cortesy of letkolmochsroedji dot com).
Patung Sroedji (Cortesy of letkolmochsroedji dot com).

Alangkah elok, jika setiap perpustakaan sekolah atau perpustakaan lainnya memiliki koleksinya. Harga yang terjangkau, warna cover yang penuh semangat dan memikat serta jumlah halaman yang cukup proporsional menjadikannya ‘layak baca’ dan ‘layak punya’. Menumbuhkan sikap bangga bertanah air Indonesia dan menjadi Bangsa Indonesia dapat ditumbuhkan dengan bacaan-bacaan seperti ini.

Oh ya, edisi eksklusif perlu juga disediakan menurut hemat saya. Hard cover dan jenis kertas yang lebih baik, tentu akan menjadi cindera mata. Layak disejajarkan dengan buku-buku ensiklopedia atau buku tentang tokoh-tokoh pahlawan nasional lainnya. Sekaligus bisa menjadi salah satu ikon dari Kota/Kabupaten Jember dalam bentuk buku.

Jangan lupa, novel ini akan lebih mengharu biru lagi jika mampu dikemas dalam satu film. Sehingga karakter dan perjalanan waktu dapat terlihat begitu nyata. Bagaimana perjalanan seorang Letkol. Mochammad Sroedji (alm.) dan Letkol. dr. Subandi (alm.) dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan yang tak akan sia-sia dan akan menginspirasi seluruh anak bangsa. Bahwa akan tumbuh lebih banyak sosok ‘Sang Patriot’ itu di seantero nusantara.

Begitu banyak pengorbanan, begitu banyak keringat bercucuran, begitu banyak air mata berderai, begitu banyak darah tertumpah, namun tak akan pernah menyurutkan nyali. Mati hina, seperti matinya para penghianat perjuangan. Hidup mulya dengan mempertahankan dan memberi kebaikan pada kemeerdekaan. Atau gugur sebagai bunga bangsa, yang harumnya akan tercium sepanjang masa. Selamat jalan pahlawanku. Semoga Alloh berikan jannah untukmu.

“Baiklah pak,…aku ijinkan dengan satu syarat, kau harus berjanji untuk kembali ke kami dengan selamat. Engkau harus tetap hidup demi aku…demi anak-anak kita,” dengan suara tercekat, Rukmini berkata sambil menatap suaminya dalam-dalam dengan penuh harap.

“Aku akan kembali demi kamu dan anak-anak kita, bu,” Sroedji menjawab dengan mantap untuk menepis kekhawatiran istrinya.

banner sang patriot

[Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot‘]

Keterangan Buku

Judul Buku : SANG PATRIOT (Sebuah Epos Kepahlawanan)

Penulis      : Irma Devita

ISBN         : 978-602-14969-0-9

Penerbit    : Inti Dinamika Publishers, Jakarta

Editor        : Agus Hadiyono

Desain cover: Windu UKMJem

TahunTerbit  : Pebruari 2014 (Cetakan I)

Harga          : Rp. 30.000,- (Wayang)

Tebal           : xiv + 280 halaman

Iklan

15 thoughts on “Sang Patriot: Antara Keringat, Air Mata dan Darah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s