Kata Siapa Ikhlas Itu Mudah?


Sebuah perjalanan diri sebagai kalifatulloh fil ardl bukanlah suatu perjalanan yang mudah. Sebagaimana sunatulloh dari manusia bahwa manusia diberi akal dan pikiran. Itu sebagai pembeda dibadingkan mahluk Alloh yang lainnya. Sampai-sampai pada saat awal diciptakannya manusia, jin amatlah marah ketika diperintahkan sujud kepada Adam alayhissalam.

Sebagai mahluk yang diciptakan Alloh Ta’ala dari api, jin merasa lebih tinggi derajatnya. Inilah kisah ketidakikhlasan pertama yang dibuat oleh mahluk ciptaanNya. Satu sifat yang juga pada akhirnya melekat pada manusia karena perilakunya sendiri. Sebagaimana janji jin/iblis kepada Alloh Ta’ala bahwa akan menganggu setiap anak manusia. Sehingga manusia tersebut akan mengikutinya. Kemudian bersama-sama untuk masuk neraka.

Sombong modal dasar tak mau ikhlas

”Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh al-Mahfu^) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira (yang melampaui batas dan menyebabkan kesombongan) terhadap apa yang diberikannya ke-padamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS :Al-Hadid: 22-23)

Kisah perjalanan awal manusia di atas menceritakan bahwa kesombongan telah membakar jiwa iblis. Hingga tak mau patuh pada perintah Alloh Ta’ala. Banyak juga kisah dalam Al-Qur’an. Kisah tentang umat terdahulu yang tidak patuh terhadap risalah yang dibawa oleh para nabi dan rosul Alloh. Tidak mau ikhlas dalam menerima takdir buruk dan baik. Sehingga pembangkangan terhadap hukum-hukum Alloh pun terjadi.

Ini juga terjadi dalam kehidupan Keluarga Pak Fulan, sebut saja demikian. Sebuah keluarga terpandang karena kekayaan dan jabatan yang dimilikinya. Kebetulan beliau ini adalah tetangga satu kampung dengan saya. Kekayaan yang diperolehnya memang hasil jerih payahnya yang luar biasa. Sepulang merantau dari Kalimantan, dia memelihara sapi perah yang dari tahun ke tahun usahanya bertambah maju.

Rupanya kemajuan usahanya tak dibarengi dengan keikhlasannya untuk berbagi. Perintah untuk mengeluarkan zakat maal pun, seringkali disiasati. Maklumlah, sebagai seorang pembesar parpol, segala kegiatan yang bersifat amal seringkali dilabeli dengan kepentinga parpol. Hingga zakat maal, zakat fitrah dan qurban pun diberi embel-embel kegiatan parpol. Tsumma na’udzubillah.

Hubungan dengan masyarakat sekitar rumahnya pun semakin jauh, pasca diangkatnya beliau sebagai sebagai pemimpin daerah. Hingga pernah terjadi saat ada kunjungan RI-1 di tempat kami, masyarakat sekitar pun apatis. Kesombongan beliau rupanya telah membakar keikhlasan masyarakat sekitar untuk membantu berpartsipasi. Tak heran, lapangan yang begitu luas, tak begitu nampak masyarakat kampung saya yang menghadiri. Dahsyat sekali bukan?

Ikhlas tumbuh karena jatuh

Hari demi hari berlalu. Hingga saat pemilihan kepala daerah, beliau gagal meski sebagai incumbent. Bantuan-bantuan jelang pilkada pun sempat dipertanyakan kepada orang-orang yang diserahinya. Ini yang membuat sebagian tim suksesnya meradang. Mereka sudah berusaha seoptimal mungkin untuk membantu. Alih-alih mendapatkan ucapan terima kasih, malah dituduh tidak loyal dan semaunya. 

“Wong kok gaknok ikhlase (Orang kok tak mengerti ikhlas),” demikian mereka menggerutu.

Ikhlas jangan tunggu jatuh!
Ikhlas jangan tunggu jatuh!

Modal banyak yang dikeluarkan rupanya cukup memukul mentalnya. Rasa sedih, kecewa, jengkel, marah bercampur jadi satu. Hingga suatu hari, beliau terkena stroke. Sebagai tetangga tentu saja kami serta merta bersimpati atas musibah tersebut. Meski beberapa orang menggerutu dan mensyukuri kejadian itu.

“Astaghfirulloh, aduh bapak, jangan begitu ah. Ini juga salah satu bentuk ujian dari Alloh. Apakah kita ikhlas menerima rasa sakit, seikhlas kita saat menerima rasa suka. Saat diberi nikmat dengan harta melimpah, atau jabatan yang tinggi,” saya mencoba untuk mengajak ikhlas menerima sikapnya selama ini.

“Kita coba doakan beliau, ke depannya agar semakin ikhlas jika memberi sesuatu. Ketidakikhlasan itu sendiri, mungkin telah menampar kesadaran beliau. Ini pelajaran bagi kita semua juga sebenarnya sih,” kembali saya setengah bergumam menasehati diri sendiri.

Yuk, jadikan ikhlas sebagai gaya hidup!

Sebagaimana video yang saya tayangkan di atas dan kisah yang saya sebutkan tadi. Ikhlas itu memang tak mudah untuk dilakukan bukan? Perlu perjalanan panjang dan pengalaman panjang untuk dapat meraihnya. Perjalanan yang mungkin mempertaruhkan keringat, air mata, bahkan darah. Sungguh berat sebab kita juga memerlukan sabar sebagai ‘bumbu’ penyedapnya. Sabar dan ikhlas menjadi satu bagian utuh yang tak terpisahkan.

”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. QS Ar-ra’d (13):11.

Nah, di atas itu ada ayat ‘penghibur’ yang diberikan Alloh Ta’ala kepada kita. Yakinlah rasa menerima semua kenyataan hidup itu semata-mata karena ingin mencari ridhoNya. Jadi mengapa takut untuk menerima sesuatu yang pada hakikatnya bukan miliki kita? Harta, tahta, keluarga dan lainnya pada hakikatnya hanyalah ‘titipan’ dari Alloh. Sepenuhnya nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas ‘kepemilikan’ kita itu.

Ikhlas adalah jiwa merdeka untuk menerima semua coba.
Ikhlas adalah jiwa merdeka untuk menerima semua coba.

Sebab ke-empat hal itu tak akan mempengaruhi timbangan kita di akhirat kecuali 3 hal: ilmu yang bermanfaat, harta yang digunakan untuk amal jariyah dan anak sholih yang mendoakan orang tuanya. Nah, kalau kita mengingat itu, insyaalloh pasti akan termotivasi untuk bersikap ikhlas. Menerima cobaan duka maupun suka dari Sang Maha Pemilik. Menjadikan sikap ikhlas sebagai gaya hidup yang wajib kita miliki.

 

[Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS.]

Iklan

9 thoughts on “Kata Siapa Ikhlas Itu Mudah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s