Ka’bah, Di Sisimu Aku Ingin Selalu Kembali


Bercerita tentang sebuah tempat atau lokasi yang tak terlupakan, maka setiap orang pasti punya pilihan yang beragam. Namun ada sebuah tempat, dimana setiap muslim yang pernah ke sana, pasti mengingat dan merindukannya tuk kembali. Ya, itulah Baitulloh, atau kita biasa menyebutkannya dengan Ka’bah. Sebuah prasasti sejarah nubuwah (kenabian) yang telah diukir oleh Alloh Ta’ala sejak Nabi Adam alayhissalam, hingga kini.

 

Setiap orang yang pernah berhaji atau berumroh pastilah akan mengunjunginya. Sebuah bangunan sederhana yang menjadi tujuan ritual utama saat kita melaksanakan umroh. Sebagaimana rukun (kewajiban) yang harus dilakukan saat melakukan prosesi umroh, salah satunya adalah thawaf. Berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh (7) kali. Dimana pada tiga putaran pertama, kita diharuskan untuk melakukannya dengan berlari-lari kecil.

Suasana Ka'bah pada pk. 05.50 waktu Makkah, 10/42014 (gambar diambil dari Thawaf Track lantai II).
Suasana Ka’bah pada pk. 05.50 waktu Makkah, 10/4/2014 (gambar diambil dari Thawaf Track lantai II).

Sebagaimana terlihat pada video dan gambar di atas, Masjidil Haram yang terdapat Ka’bah di tengahnya, masih saja dipenuhi oleh para peziarahnya. Suasana tersebut terekam sekitar 40 menit ba’da (setelah) Sholat Shubuh. Berbagai doa dilantunkan, berbagai dzikir dilangitkan hanya dengan satu tujuan, mencapai ridho Alloh Ta’ala. Ketundukkan total menjadi satu acuan atas diri. Hingga kesabaran dituntut untuk mencapai level tertinggi.

'Berebut' tuk mencium Hajar Aswad.
‘Berebut’ tuk mencium Hajar Aswad.

Semua sifat dan watak terlihat saat Thawaf dijalankan. Apalagi saat berusaha untuk menghujami Hajar Aswad dengan ciuman. Maka tak pelak, dorongan, himpitan bahkan cakaran, tamparan atau tendagan akan mendarat di sekujur tubuh. Kita pun tetap dituntut untuk bersabar dan jangan membalasnya. Sebab kalau Alloh Ta’ala kehendaki, kitapun dapat mencium Batu Hitam tersebut.

Di Multazam ini juga kesabaran dan ketelatenan kita diuji.
Di Multazam ini juga kesabaran dan ketelatenan kita diuji.

Perjuangan meraih afdholnya umroh pun berlanjut. Saat ribuan ummat berusaha untuk mendekatkan tangan dan wajahnya ke Multazam. Sebuah tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Sebagaimana Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

Kalau dia ingin mendatangi multazam –yaitu antara hajar aswad dan pintu ka’bah- dan dia menaruh dada, wajah, lengan dan kedua tangannya dan berdoa kepada Allah Ta’ala keperluannya, dia (diperbolehkan) melakukan itu. Hal itu boleh dilakukan sebelum thawaf wada’, karena (posisi) penempelan ini tidak ada bedanya waktu wada’ (perpisahan) maupun yang lainnya. 

Al-Hijr atau lebih dikenal dengan Hijr Ismail.
Al-Hijr atau lebih dikenal dengan Hijr Ismail.

Berlanjut untuk mencari keafdholan berikutnya adalah di sebuah bangunan setengah lingkaran. Sebuah ruang dengan tembok setinggi badan (Al Hatim) yang berada di sisi timur laut dari Ka’bah. Konon (karena tak ada hadis yang marfu’) yang menyatakan bahwa Ismail alayhissalam atau ummi Hajar dimakamkan di situ. Sebagian yang lain menganggap bahwa Hijr ismail adalah ‘pintu sorga’. Kita dapat melakukan sholat sunnah, berdoa dan bila perlu berdzikir jika tak terlalu banyak yang antre. Hal ini kita lakukan agar semua dapat merasakan ‘kebahagiaan’ saat melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan. Ingat, sebesar mungkin egoisme harus kita tekan. Sebab seringkali dijumpai, seseorang yang berada terlalu lama di situ, sehingga harus ‘diusir’ oleh jamaah yang lain.

Maqam Ibrahim yang selalu sesak dengan peziarah yg akan lakukan sholat sunnah Thawaf.
Maqam Ibrahim yang selalu sesak dengan peziarah yg akan lakukan sholat sunnah Thawaf.

Tempat berikutnya yang masih berada di seputaran Ka’bah adalah Maqam Ibrahim. Bagi sebagian yang kurang paham saat manasik, dikira tempat ini adalam makam (kuburan) Ibrahim alayhissalam. Maqam Ibrahim adalah batu tempat ia berdiri di saat membangun Ka’bah. Karena membangun Ka’bah adalah amalan yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia menjadikan jejak kaki Ibrahim sebagai suatu hal yang patut diperingati dan diambil pelajaran oleh anak dan cucunya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyetujuiku dalam 3 hal; aku berkata “Wahai Rasulullah! Andai engkau menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, lalu turun ayat,

Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS. Al-Baqarah: 125)

Sedemikian istimewanya Ka’bah yang merupakan kiblat seluruh ummat Islam se-dunia. Sedemikian pentingnya sampai-sampai Alloh Ta’ala mensyaratkan keislaman kita pada lima perkara. Kita biasa menyebutnya dengan Rukun Islam, dimana Rukun Islam terakhir (ke-lima) adalah menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Umroh sebagai rukun (kewajiban) dari prosesi haji yang mengambil Ka’bah sebagai sentralnya. Sebab di situlah Thawaf, Sai’i dan Tahallul (bercukur) dilakukan.

Desain dan ukuran Ka’bah. (Courtesy of Indonesia Faith Freedom)

Gambar di atas, menggambarkan ukuran dari bangunan Ka’bah. Nampak kecil secara fisik, namun begitu besar dan dahsyat energi putaran Thawaf yang dilakukan oleh para kaum muslimin yang menziarahinya. Tak akan pernah sama gambaran setiap orang yang pernah bordoa di dekatnya. Setiap orang akan memiliki kesan yang beberbeda meski berada pada saat yang sama. Pun demikian saat orang tersebut mendatanginya kembali di lain waktu.

Bagi saya pribadi, seindah apapun pemandangan di muka bumi, tak akan bisa kalahkan keindahan Ka’bah saat saya dekat atau jauh darinya. Bukan keindaha fisik semata, namun keindahan RahmatNya yang teramat dekat saat dapat memandangnya. Keindahan yang begitu agung saat memasrahkan diri atas segala khilaf dan dosa dihadapanNya. Hingga tak ingin sekejap pun kehilangan sholat lima waktu berjamaah di Masjidil Haram saat berada di Kota Makkah Al-Mukarromah (Makkah yang Bercahaya).

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Kupenuhi panggilanMu Ya Alloh, kupenuhi panggilanMu. Kupenuhi paggilanMu, tiada sekutu bagiMu, kupenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian, nikmat dan kekuasaan hanyalah milikMu semata. Tiada sekutu bagMu.

 

 

 

 

 

 

 

Banner GA

 

[Artikel disertakan dalam GA “A Place to Remember Giveaway”.]

 

Iklan

16 thoughts on “Ka’bah, Di Sisimu Aku Ingin Selalu Kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s