Sepotong Maaf untuk Modal Bahagia


Beberapa tahun telah berlalu. Saat aku tinggalkan sebuah kampus yang kami bangun dengan susah payah. Tak ada tangis, tak ada kesedihan atau suasana yang mengharu biru saat aku meninggalkannya. Kenangan indah tentu tak akan terhapus begitu saja. Sebab hampir enam tahun aku mempertaruhkan apa saja demi eksistensi kampus itu.

Bermodal uang pinjaman sebesar 78 juta. Kami mulai mengurus berbagai persyaratan untuk ijin pendirian. Bukan pekerjaan yang mudah memang. Apalagi saat itu aku yang menyiapkan berbagai  proposal perijinan beserta kelengkapannya. Pekerjaan sebagai pekerja penuh waktu di sebuah rumah sakit, terkadang harus aku korbankan. Sehingga sempat dua kali aku terkena peringatan lisan dari pemilik rumah sakit. Tapi resiko itu sudah aku perhitungka sebelumnya.

Hampir delapan bulan kami siapkan semuanya. Tentu saja modal finansial pribadi pun tak luput harus aku keluarkan. Sehingga gaji dari rumah sakit, harus aku relakan untuk urusan pendirian itu. Inilah sebuah perjuangan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Demikian pikirku saat itu.

Resiko terburuk dalam bekerja pun akhirnya aku tempuh. Saat aku mengundurkan diri dari rumah sakit tempatku bekerja. Aku sudah terlalu sering ijin. Bahkan terkadang menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan menyusun proposal. Kesalahan yang cukup fatal telah aku perbuat. Mau bagaimana lagi, untuk ke rental, tentu akan semakin menambah pengeluaran pribadiku.

“Abi, bagaimana sih ini. Cari pekerjaan di sini kan susah. Apalagi di posisi abi yang sudah cukup mapan?” demikian protes isteriku saat aku beritahukan keputusanku itu.

“Maaf ya mi’. Abi tak bisa terus-menerus izin saat ada keperluan ke Jakarta. Apalagi dalam dua bulan kemarin, sudah sepuluh hari waktu izin yang abi gunakan. Belum lagi fasilitas kantor yang beberapa kali aku gunakan,” aku mencoba memberi penjelasan realistis atas kondisi yang ada.

Alhamdulillah, isteriku dapat mengerti kondisi yang ada. Aku jelaskan juga prospek ke depan kampus yang sedang kami rintis. Apalagi para sahabat perintis ini berasal dari bidang yang sudah sangat dikuasai. Sementara untuk menutupi biaya bulanan keluarga kecil kami, aku, isteriku dan dua buah hatiku, aku terima tawaran sebagai pemandu wisata paruh waktu. Cukup lumayan hasilnya, namun pekerjaan itu sangat tak disukai isteriku.

Saat yang dinanti itu pun tiba. Kami sudah diizinkan untuk menerima mahasiswa baru, meski kampus yang kami gunakan masih berstatus sewa. Satu setengah bulan waktu pendaftaran, kami sudah dapat memeperoleh mahasiswa untuk dua kelas. Ada rasa lega menyusup, meski ada juga rasa khawatir sebab izin prinsip belum turun. Dalam bahasa saya saat itu, saya istilahkan semi ilegal. Kami terpaksa lakukan itu sebab kami butuh tambahan dana.

Biaya untuk pengurusan izin dan tetek bengeknya tidaklah sedikit. Maka dari biaya uang pendaftaran, uang SPP, sumbangan pembangunan dan sumbangan sukarela itulah, kami gunakan untuk menopang operasional kami. Operasional pembalajaran sekaligus untuk merampungka izin prinsip yang masih melewati beberapa pintu lagi. Namun sekali lagi, tak ada satu kesuksesan yang diperoleh dengan cara yang mudah. Semua butuh proses dan tantangan.

Untuk operasional proses pembelajaran, terpaksa kami harus tambal sulam. Aku menjadi dosen untuk beberapa mata kuliah. Sekaligus mengerjakan proses administrasi kemahasiswaan dan umum. Demikian juga untuk kolegaku yang ada. Gaji sebagai dosen dan staf pun dijadikan satu macam. Tak ada tunjangan macam-macam. Sebab diantara kami berlima, hanya gaji direktur saja yang lebih tinggi sedikit. Sementara pekerja khusus, hanya seorang cleaning service yang merangkap sebagai tenaga keamanan.

Pelatihan yang kuikuti diadakan oleh Kopertis VII. (Foto kolpri)
Pelatihan yang kuikuti diadakan oleh Kopertis VII. (Foto kolpri)

Beberapa tenaga profesianal pun kami ambil. Sekaligus sebagai pembangun image bagi sebuah perguruan tinggi baru. Kadang ada perasaan lucu saat membayangkan tahun-tahun pertama aktivitas perkuliahan. Semua terasa serba darurat. Sampai akhirnya kami dapatkan tempat sewa yang lebih layak pada sebuah kampus yang sudah lama berdiri. Kami nebeng dengan biaya sewa yang cukup lumayan tinggi tentunya.

Waktu berjalan begitu cepat. Penerimaan mahasiswa tahun berikutnya berjalan dengan sangat atraktif. Mengapa aku katakan demikian? Maklumlah jurusan yang kami buka termasuk jurusan yang sangat favorit. Serapan lulusan pada dunia kerja masih terbuka lebar di tahun-tahun itu. Tapi hal itu justeru mulai menjadi ganjalan bagiku. Mulai banyak ketimpangan-ketimpangan terjadi yang tak selayaknya terjadi di lingkungan kampus.

Tarif masuk tak resmi seringkali menjadi pembicaraan para orag tua yang akan memasukkan anaknya. Biaya masuk resmi saja sudah cukup lumayan ‘wah’. Ditambah dengan ‘permintaan khusus’ dari beberapa oknum pengurus bahkan karyawan pun terjadi. Mereka berharap bahwa dengan tamabahan biaya khusus itu menjadi jaminan agar anaknya diterima di kampus kami. Meski yang aku tahu banyak dari mereka yang secara fisik maupun kemampuan kognitif tak memenuhi syarat.

Rupanya harum semerbak bunga rupiah membuat para pengurus mabuk kepayang. Segala akal daya digunakan agar dapat menerima ‘kompensasi tak resmi’ tersebut. Maka hal yang tak masuk akal pun dilakukan. Menerima mahasiswa yang jumlahnya melampaui batas ketidakwajaran. Ketidakwajaran yang bagiku masuk ranah ‘haram’, tak seharusnya dilakukan. Mengingat proporsi media penunjang belajar termasuk laboratorium yang belum layak. Ditambah lahan praktik yang belum diperoleh sesuai dengan jumlah mahasiswa yang ada.

Kegeramanku tak mampu melawan kebijakan yang tak manusiawi menurutku. Maka beberapa kali pula aku banyak berseberangan dengan kebijakan pimpinan. Hal ini mulai menimbulkan rasa tidak tenang dan tidak senang tentu saja pada beberapa pengurus. Sementara dosen atau karyawan yang lain menjadi ‘bapak turut’. Mereka khawatir jika kelangsungan kerjanya akan berakhir jika berbuat macam-macam.

Hal ini berlangsung semakin parah sejak direktur dipegang oleh seorang perempuan yang progresif dan idealis. Bukannya pengurus sungkan dengan direktur yang baru tersebut. Justeru keberadaan direktur tersebut seolah dijadikan ‘kartu truf’ secara politik untuk menghadapi kegamangan stake holder. Gempuran ketakpercayaan dari masyarakat yang sudah mulai mendera. Direktur kekuasaannya dikebiri hanya sekedar untuk memutar uang SPP saja. Sementara semua uang sumbangan yang bermacam-macam masuk ke tangan pengurus.

Kesedihanku ini rupanya cukup terbaca oleh sang direktur. Sehingga beberapa kali beliau curhat tentang sulitnya duduk dalam posisinya. Terus terang, aku salut kepadanya meskipun seorang perempuan, beliau cukup tagguh. Meski berkali-kali diintimidasi atau diagitasi oleh pengurus, beliau tetap istikomah untuk menjalankan amanah jabatannya itu. Pun demikian, saat beberapa mahasiswa tingkat akhir mencoba untuk mempertanyakan janji-janji fasilitas yang pernah terpampang dalam brosur. Karena mereka berhitung dengan logika, seharusnya dengan uang puluhan juta itu, seharusnya semua fasilitas itu bisa disediakan. Beliau menjawab semua keluhan itu dengan penuh rasa keibuan dan persahabatan.

Namu, tak berapa lama  menjelang kepindahan ke gedung baru, direktur tangguh itu pun luruh juga. Berusaha untuk menghindari fitnah, akhirnya mengundurkan diri. Entahlah, kesedihanku saat itu amatlah dalam. Kehilangan seorang sahabat untuk berbagi empati. Seorang pemimpin yang mampu menjadi kawan bagi karyawan atau dosen yang ada. Berkata dan berbuat jujur apa adanya. Tanpa berpikir terhadap kepentingan politis atau apapun yang tak berhubungan dengan kampus.

Di tahun ke-empat, kami pindah menuju gedung sendiri. Gedung yang dibangun dengan ‘acakadul’, sehingga saat hujan pun masih banjir di sana-sini. Di tempat baru ini pun aku semakin menjadi orang tersisih. Berbagai jabatan dibuat untukku silih berganti. Hingga aku sendiri merasakan adanya ketakwajaran itu. Karena aku masih saja menyuarakan janji-janji mulai para perintis saat dulu berjuang bersama-sama.

Sampai tibalah saat itu, aku mendapatkan SP-2 akibat berbuat tidak disiplin. Padahal baru tiga bulan sebelumnya aku diangkat sebagai karyawan teladan. Kesabaranku pun meledak, emosiku pun memuncak. Mereka mungkin sudah lupa siapa aku. Bersusah payah menyusun proposal, menyiapkan semua keperluan administratif hingga membiayai itu semua dengan uangku sendiri. Aku tak lebih dari karyawan yang patut disingkirkan karena tak segaris dengan nafsu para pengurus.

Namun berangsur-angsur kekerasan hatiku luruh. Memang tak seharusnya aku bekerja di lingkungan para ‘penghisap darah’ ini. Sejak tiga tahun yang lalu seharusnya sudah aku tinggalkan tempat ini. Meski peluh dan air mata serta karirku sudah aku pertaruhkan di sini. Hanya karena desakan isteriku saja yang membuat aku bertahan. Aku sadari, bahwa dia pun ikut merasakan perjuangan itu. Saat gaji dari rumah sakit tak ku serahkan semuanya kepadanya. Sebab sebagian telah aku gunakan untuk keperluan pengurusa izin kampus.

******

Sedih. Demikian apa yang dirasakan oleh isteri dan ibuku, saat aku putuskan untuk mengundurkan diri dari kampus itu. Tanpa kompensasi apapun. Rasa pedih, marah, gusar berkecamuk jadi satu di pikirannya. Hingga coba aku tenangkan, bahwa semua ini sudah Alloh atur. Tak usah takut, tak usah sedih, Alloh pastilah mengganti dengan yang lebih baik.

Restu ibuku, cukup menghibur saat itu. Mulailah aku dengan pekerjaan baruku sebagai apa saja. Yang penting aku mendapatkan nafkah untuk keluargaku dengan cara yang baik dan barokah. Itu sangat penting bagi kami, sebab kami khawatir akan rejeki yang bercampur dengan keharaman. Dimana nanti pasti akan mempengaruhi tumbuh dan kembang anak kami. Apalagi kami sedang giat-giatnya untuk mendidik dengan nilai-nilai qur’ani. Semua perbuatan harus sejalan dengan perintahNya. Demikian juga kami harus menjalani apa saja yang telah dilarangnya.

Kami telah lupakan aset yang bernilai miliaran. Meski seharusnya kami mendapatkan jatah pembagian itu, walau secuil. Biarlah semua aku kembalikan kepada Alloh, Sang Pemilik Hidup dan Pembagi Rejeki. Karena sekecil apapun perbuatan kita di dunia, pastilah akan mendapatkan  setimpal kelak di akhirat. Aku memberikan dorongan kepada isteriku untuk memaafkan semua kedholiman pengurus itu kepadaku. Anggap saja sebagai riak-riak kehidupan yang smestinya kita hadapi.

Tinggalkan dunia mimpi. Segera songsong dunia baru yang lebih cerah. Gelimangan harta tak akan menjamin bahwa sesorang itu akan hidup bahagia. Justeru pintu maaf yang kita buka lebar bagi siapa saja yang menyakiti kita, akan menjadi kebahagiaan dan keberkahan hidup. Belajar memaafkan bagiku, adalah proses untuk belajar hidup bahagia. Meski sulit, tapi hal itu harus kita lakukan.

Ternyata Alloh memberi hadiah langsung atas kerelaanku membuka pintu maaf itu. Aku diterima bergabung di sebuah rumah sakit baru, dimana pemiliknya adalah mantan direktur di kampusku. Jabatanku pun bahkan lebih tinggi dibandingkan saat aku tinggalkan kampus. Kebahagiaan itu pun sungguh begitu nyata. Hanya bermodal sepotong maaf, untuk meraih harapan kebahagiaan dalam hidup.

Hingga tahun kemarin, kami dapat meluangkan waktu berlibur ke Pulau Dewata. Hal yang tak pernah dapat kami lakukan saat berada di kampus dulu. Meski kami membuka ‘kelas jauh’ di Bali. Maka beberapa destinasi wisata dan hotel terjangkau  mulai kami catat. Termasuk destinasi kuliner yang cukup ‘mak nyus’ coba kami gali lewat keponakanku yang tinggal di Kuta.

Promo menu Bebek Bengil. (Courtesy of The Bay Bali)
Promo menu Bebek Bengil. (Courtesy of The Bay Bali)

Salah satu tujuan wisata kuliner itu adalah ‘Bebek Bengil’. Menu khas dari The Bay Bali. Menurut kabarnya sih, menu ini adalah menu wajib khas Bali yang harus dinikmati oleh setiap wisatawan yang ke Bali. Belum ke Pulau Bali rasanya jika belum menikmati menu ‘Bebek Bengil’. Apalagi menikmatinya di tempat yang seeksotis The Bay Bali. Dengan harga sekitar seratus ribuan, tentu menu ini menjadi menu andalan dengan harga yang terjangkau.

Menu wajib Bebek Bengil. (Courtesy of The Bay Bali)
Menu wajib Bebek Bengil. (Courtesy of The Bay Bali)
Nasi Campur Bebebk. (Courtesy of The Bay Bali)
Nasi Campur Bebebk. (Courtesy of The Bay Bali)

Selain menu wajib ‘Bebek Bengil’, Nasi Campur Bebek atau Nasi Campur Bali dapat menjadi pilihan alternatif. Semua menu tersedia dengan lauk yang cukup banyak menurut ukuran porsi orang Jawa. Oh ya, lokasi The Bay Bali ini berada di kawasan Nusa Dua. Cukup dengan GPS atau bertanya pada polisi lalu lintas, dengan mudah akan ditunjukkan lokasinya. Cukup startegis dengan sudut-sudut yang berpemandangan indah.

Kita dapat foto narsis di sini juga. (Courtesy of The Bay Bali)
Kita dapat foto narsis di sini juga. (Courtesy of The Bay Bali)
Kita dapat bernarsis ria di sini. (Courtesy of The bay Bali)
Kita dapat bernarsis ria di sini. (Courtesy of The bay Bali)
Berbagi sudut nan eksotis. (Courtesy of The Bay Bali)
Berbagi sudut nan eksotis. (Courtesy of The Bay Bali)

Begitulah kebahagiaan mengalir. Berawal dari membuka pintu maaf, segala macam rejeki dan kesempatan emas akan masuk. Jadi jika anda merasa kurang atau tidak bahagia, cobalah tanya pada diri anda sendiri. Sudah seberapa lebarkah pintu maaf anda yang sudah dibuka? Hingga tak banyak rasa culas, iri, dengki, tamak, serakah yang dapat bersamayam di dalamnya.

 ————- Bumi Majapahit, Medio April 2014 —————-

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Iklan

4 thoughts on “Sepotong Maaf untuk Modal Bahagia

    1. Apapun hasil kerja kita, tetap alhamdulillah. Walau kadang hasilnya tak berbanding lurus dengan jerih payah kita. Tetap tersenyum, tetap menikmati hidup dengan ikhlas dan sabar. 🙂

  1. Subhanallah,,,cerita yg paling atas mengharu biru mas,,,hidup memang tidah semudah yg kita bayangkan ya,,butuh usaha besar,,,dan akhirnya bisa berlibur ke Bali untuk menikmari rezeki yg tiada tara itu,,,saya juga pengen kalau begitu,,,

    1. Ke Bali sama nyonya juga kayak mimpi sih mbak. Nggak ada rencana. Kebetulan nyonya ada libur 2 hari kerja aktif. Tiba-tiba saja pingin berangkat. Mampir ke rumah mbak di Asembagus Situbondo sambil minta referensi. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s