Patriot Itu adalah Bapakku


Aku dalam gendongan bapakku. (Foto kolpri)
Aku dalam gendongan bapakku. (Foto kolpri)

Begitu banyak kisah tentang para pahlawan yang pernah kita baca atau pernah dengar. Bahkan sejak dalam kandungan pun kita sudah disuguhi berbagai cerita tentang pahlawan. Seperti kisah ibuku yang menceritakan kebiasaanku saat masih dalam kandungan. Kata ibu, aku adalah bayi yang over aktif. Tak pernah lelah untuk selalu bergerak. Untuk tidur malam pun ibuku harus mencari trik jitu agar aku mau diam.

Kisah para nabi dan rosul serta para sahabat Rosululloh yang akhirnya sering dilantunkan. Ternyata tips itu cukup jitu untuk meredam tingkahku. Maka tak heran, koleksi buku saku bapakku cukup banyak yang menceritakan tentang kisah patriotik pahlawan Islam itu. Apalagi saat beliau menjadi kurir pribadi mantan Perdana Menteri M. Natsir yang ditahan di LP Lowokwaru Malang.

Kisah Masa Kecilku

Menurut ibu, tiap buku yang habis dibaca oleh Pak M. Natsir (alm.), seringkali diberikan kepada bapakku. Apalagi bapakku memang seorang tentara yang gila baca. Saat ditanya oleh sang mantan perdana menteri Republik Indonesia Serikat (RIS) tentang apa yang akan diminta kepada beliau, maka bapakku mesti menjawab ‘buku’. Sebuah permintaan yang amat sederhana kepada seorang pembesar negeri.

Kenyataannya demikianlah yang terjadi. Saat aku buka koleksi perpustakaan mini miliki bapak, sebagian besar adalah buku lama yang bertandatangan M. Natsir. Bapakku seorang tentara, tapi beliau pun seorang Masyumi militan. Meski harus berhadapan dengan sang komandan batalyon, beliau tetap bersikukuh untuk membela M. Natsir. Dimana pada tahun 1960 – 1962 beliau ditahan di LP. Lowokmaru Malang oleh pemerintahan Orde Lama.

Buku-buku souvenir dari M. Natsir. (Foto kolpri)
Buku-buku souvenir dari M. Natsir. (Foto kolpri)

Menurut bapak, M. Natsir adalah patriot bangsa. Mempertaruhkan apa saja demi eksistensi negeri. Meski jasadnya dipenjara, jiwa patriotismenya tak pernah mampu dipenjara. Seorang pemimpin muslim yang mampu menjadi jembatan politik bagi berbagai potensi kekuatan bangsa. Namun karena akal jahat kaum komunis, semua perjuangan beliau terlihat menjadi sia-sia. Berbagai propaganda politik untuk menjatuhkan kekuasaan pemerintahan yang mayoritas dipegang oleh Partai Masyumi.

Mulai saat aku mengenal buku beliau lewat bapakku, mulai kenallah aku dengan apa yang dinamakan patriotisme. Sebuah jiwa yang dipertaruhkan dan dikorbankan demi kepentingan bangsa dan negara. Sebagaimana juga kisah ibuku tentang bapakku yang luar biasa. Tentara yang ahli sandi, sehingga seringkali ibu ditinggal sendirian karena bapak harus bertugas di garda depan. Pasukan belum bertempur, bapakku sudah satu bahkan tiga bulan sebelumnya di daerah musuh.

Bapakku Bukanlah Pahlawan

Hingga aku tumbuh remaja, sebutanku adalah ‘anak kolong’. Anak tentara yang terkenal bengal dan tiada takut. Sebagaimana remaja di awal tahun 1980-an, aku bukanlah remaja yang hidupnya bergelimang kemewahan. Bapak dan ibuku mendidik dengan penuh kedisiplinan dan penuh kejujuran. Menanamkan semangat berani jika berbuat jujur. Segera meminta maaf kepada siapapun jika berbuat salah.

Selalu menekankan untuk belajar ilmu agama di atas segalanya. Sehingga tak heran, meski aku selalu bersekolah di sekolah umum, untuk membaca ‘Kitab Gundul’-pun, sejak kelas 5 SD aku sudah bisa. Sebab secara khusus, bapak meminta seorang kyai untuk mendidik kami ilmu agama. Belajar kitab dan balaghah menjadi ‘makanan khas’ kami sehari-hari. Aku dan ke-empat kakakku.

Bapakku bukanlah seorang yang amat kubanggakan saat itu. Sebab saat aku nakal, tak segan bapak memukulku dengan alat apa saja. Sehingga tetangga sekampung pun menjuluki bapakku ‘Sakerah’. Seorang pahlawan Madura yang terkenal karena kejujuran, kedisplinan dan kegalakkannya. Ya, bapakku saat itu juga merupakan pembina Hansip tingkat kabupaten.

Ada kontradiksi memang yang ku rasakan. Di satu sisi aku sangat terkesan dengan jiwa beliau, namun di sisi lain, aku sangat membencinya. Maklumlah, seorang anak atau remaja pasti menginkan perlakuan yang lemah lembut dari kedua orangtuanya. Saat ketahuan aku mencuri bersama kawan-kawan sekolah SD-ku, tak segan-segan beliau menghukumku mulai dari lepas Shubuh hingga jelang sholat Dzuhur. Sungguh suatu kenangan yang tak mengenakkan. Masih banyak hukuman-hukuman lain yang tak lazim.

Hingga suatu kali aku berpikir bahwa bapakku bukanlah pahlawanku. Tak seharusnya seorang pahlawan bersikap demikian kepada anaknya. Meski kadang ada saudara dari bapak yang memberitahu bahwa aku sedang dilatih ‘kanuragan’. Ilmu beladiri yang tak diajarkan secara sengaja. Membentuk jiwa dan fisik agar mejadi kuat, sebagaimana dilakukan oleh para pendekar Madura tempo dulu. Untuk menyiapkan diriku agar dapat menyongsong masa depan dengan ketangguhan jiwa dan ragaku.

Berjuang Tak Harus Diukur dengan Pangkat

Waktu demi waktu berlalu, hingga suatu kali saat aku pulang libur kuliah, Pakdhe ZM memintaku untuk menguruskan beberapa kelengkapan administrasi. Beliau memintaku menguruskan berkas-berkas arsip veteran dan pensiun bapakku. Kata beliau, bapak selalu menolak untuk diuruskan sejak masa persiapan pensiun tahun 1970-1971 dahulu.

“Orang berjuang untuk negara itu gak usah neko-neko le. Kalau memang merasa sudah berjuang ya sudah. Nggak usah nuntut yang macam-macam. Semuanya nanti Alloh yang membalas,” begitu bapak berpesan kepada kami dalam tiap kesempatan.

“Bapakmu itu memang rodho’ sempel (agak gila, pen.). Pensiun dan pangkat itu kan memang haknya. Lha begitu kok nggak mau ngurus,” beberapa kali juga Pakdhe MZ menggerutu kepada ibuku.

Namun dasar ibuku juga seorang yang sabar dan patuh pada suami, beliau pasti diam menunduk saat pakdhe berkata demikian. Sampai kesempatan itu datang, bapak bersedia diuruskan untuk tetek bengek urusan pensiunnya. Tentu saja dibantu oleh pakdhe yang pernah menjabat sebagai perwira tinggi di Mabes AD. Maka ditunjukkanlah prosedur dan kepada siapa saja saya harus menemui petugas tertentu.

Sekitar tiga bulan kelar juga urusan administrasi yang sungguh ribet dan melelahkan. Hingga harus mondar-mandir, Surabaya-Malang-Jakarta dan beberapa kali izin untuk tidak mengikuti perkuliahan. Setelah SKEP turun dan pengambilan Piagam Bintang Gerilja cukup lega juga akhirnya. Tinggal menunggu panggilan dari PT. Taspen via Kantor Pos demikian pemberitahuan yang disampaikan petugas Ajendam.

Di zaman seperti itu, masih saja saya kurang paham. Mengapa pangkat yang cukup tinggi tak segera diurus. Bahkan menurut Pakdhe MZ, beliau mengundurkan diri dengan MPP yang dipercepat gara-gara diminta untuk menjadi salah satu fungsionaris parpol di era Orde Baru. Sementara kawan seangkatan bapak, minimal sudah berpangkat Kolonel atau Brigadir Jenderal.

Oh bapakku, ini pulakah yang membuat kami dilarang untuk menjadi tentara atau polisi. Hingga kakak ke-dua ku yang sudah tiga bulan memasuki masa pendidikan di Akpol Semarang harus mengundurkan diri. Uang jutaan rupiah pun harus dikeluarkan untuk mengganti biaya pendidikan sebagai denda.

“Sudahlah, cukup bapak saja yang susah. Jadi militer di zaman ini banyak godaannya. Bapak khawatir dengan godaan itu. Perjuangan hanya diukur dengan pangkat dan jabatan. Uang menjadi raja. Negara banyak dirongrong oleh orang-orang yang menyebut dirinya sebagai pejuang bangsa. Padahal yang bapak tahu, mereka dulunya tak lebih dari pengecut. Yang selalu menghindar saat ditugaskan ke medan yang sulit. Para patriot sejati justeru dituduh sebagai pecundang,” begitu bapak memberikan alasan kenapa kami tak boleh memasuki dunia kemiliteran.

Bapakku, Patriot Sejatiku

Masih kuat dalam ingatanku, saat rapelan pensiun selama puluhan tahun itu datang. Bukan untuk membeli perhiasan atau tanah, malah dibuat untuk membeli batu bata dan besi cor masjid. Sedangkan sisanya untuk melunasi hutang-hutang keluarga. Maklumlah, selama masa pensiun bapak juga bekerja sebagai pegawai honorer di pemerintahan kota sebagai pembina petugas sandi. Sedangkan ibu, berjualan kue-kue pesanan di rumah. Kata bapak, itulah penghasilan yang barokah.

Sampai suatu saat, bapak beberapa kali jatuh sakit dan harus masuk rumah sakit. Kebiasaan merokoknya dahulu yang luar biasa menyebabkan kanker jantung. Maklumlah, saat bergerilya di hutan dahulu, hiburan satu-satunya adalah merokok, demikian dalihnya. Namun pasca rawat inap pertama kali di rumah sakit, beliau total menghentikan kebiasaan merokoknya. Apalagi spesialis jantung yang merawatnya adalah kakak misanku sendiri, puteri Pakdhe ZM.

Bapakku memang sangat disiplin. Apa saja yang dilarang oleh dokter, pasti ditaati. Namun ada satu hal yang kadang membuat aku dan ibu susah, bapak tak bisa menghentikan kebiasaannya untuk membersihkan masjid. Meski beliau berdalih bukan pekerjaan fisik yang melelahkan. Dan itu adalah hiburan di masa tuanya. Mumpung masih diberikan kesempatan untuk mengabdi kepada sesama.

Bintang Gerilja ini lah yang cinderamata beliau untuk kami. (Foto kolpri)
Bintang Gerilja ini lah yang cinderamata beliau untuk kami. (Foto kolpri)

Hingga saat stroke ke-tiga menyerang, selama seminggu alhamdulillah aku diberikan kesempatan untuk merawat. Tepat 20 Januari 2006, pukul 06.06 Wib beliau hembuskan nafas terakhirnya. Dengan seulas senyum bahagia menghiasi bibirnya. Senyum bahagia seorang patriot sejati. Yang tak pernah berhitung dengan perjuangan yang pernah dilakukannya untuk negara.

Kebanggaanku yang tumbuh saat aku dewasa. Tempaan masa kecil dan remajaku, menjadikan aku seorang dewasa yang tangguh. Menghadapi berbagai macam cobaan massa dengan hati teguh dan belajar untuk jujur. Meski justeru dengan kejujuran itu seringkali berbenturan dengan kenyataan pahit. Tapi aku sudah banyak belajar kepada sesok patriot sejati. Dialah bapakku.

Semoga Alloh Ta’ala berikan jannahNya untukmu bapakku. Pahlawanku, patriot kehidupan sejatiku. Meski jasadmu tersimpan di TMP Mojokerto, jiwamu tetap bersemayam di hatiku, anakmu dan para cucu dan cicitmu.

[Artikel untuk Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami.]

Iklan

6 thoughts on “Patriot Itu adalah Bapakku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s