Kampung Fiksi, Gaya Kampung Tapi Tak Kampungan


capture KAMPUNG FIKSI2

Tak kenal, maka tak sayang. Tak rindu, maka tak cinta. Dari kenal jadi sayang. Dari rindu jadi cinta. Cieeehh…. tapi asli begitu kok. Pepatah kuno yang tak lapuk dimakan hujan, tak lekang ditikam panas. Sumprit kecethit weleh-weleh.

Demikian pula sepenggal kisahku dengan Kampung Fiksi. Sebuah kampung dengan pernak-pernik cerita warganya. Sebuah kampung yang merupakan role model dari globe. Hlooh…apalagi ini? Tidak percaya kan? Ayo bareng-bareng kita bukan postingan pertama Kampung Fiksi yang berjudul ‘Tentang Kami: Penulis Kampung Fiksi‘.

Di postingan pertama itu, tampil delapan orang founder yaitu:

  1. Deasy Maria,
  2. Endah Raharjo,
  3. Gratcia Siahaya aka G (baca: Ge bukanย Ji).,
  4. Indah Wd,
  5. Meliana Indie Zhong,
  6. Sari Novita,
  7. Winda Krisnadefa, dan
  8. Ria Tumimomor.

Ada beberapa kalimat yang begitu mak dhezz saat kita coba renungkan. Begitu menohok hati dan pikiran sehat kita. Mohon maaf, bagi yang merasa pikiran dan hatinya belum sehat. Ehg…

  • Awalnya dunia saya adalah musik. Tapi sekarang sepertinya saya telah jatuh cinta didunia yang satu ini, apalagi sejak mengenal para perempuan ceria ini (yang namanya ada di beranda blog ini ๐Ÿ˜€ ). –Deasy Maria
  • Di negeri fiksi segala yang saya maui bisa terjadi. –Endah Raharjo
  • Jadi, dua proyek besar saya pada tahun ini adalah menuntaskan Prosa Evaluna dan Pintu Warna Oranye. –G
  • mari meninggalkan sesuatu yang masih tetap tertinggal lama setelah jiwa dan raga kita udah ngga ada lagi di dunia ini. –Indah Wd.
  • Bagiku, huruf-huruf itu seperti mempunyai mantra. Mereka berloncatan begitu saja, berputararan serupa lebah yang berjumpalitan di udara. –Meliana Indie Zhong
  • Tidak hanya buku yang saya baca, tapi membaca di sekitar saya, ekspresi wajah manusia, peristiwa, dan lain-lain deh pokoknya.. –Sari Novita
  • Sehari nggak nulis itu kayak mandi nggak pake sabun. Sehari nggak nulis itu kayak masak nggak pake kompor. –Winda Kresnadefa
  • Suatu kepuasan bagi gue ketika melihat orang membacanya dan berkata,”Iya! Gue juga mengalami hal ini!” Rasanya seneng melihat orang lain menikmatinya juga ๐Ÿ™‚ –Ria Tumimomor

Sangat beragam bukan? Cuplikan kalimat yang begitu membekas di hati saya. Begitu utuh dan bulat menggambarkan pergolakan hati manusia. Dengan buraian ragam warna yang menghias di atasnya. Bak globe yang bisa kita putar di segala sisi, saat kita ingin menyimak sisi tertentu.

Gaya sapaan warga kampung yang fiksioner. Sapaan khas kampung, tapi sungguh tak kampungan. Menyapa siapa saja dengan ketulusan. Untuk tak melewatkan bertamu di Kampung Fiksi. Sebuah perjamuan pun selalu disiapkan untuk para tamu. Tak lupa, penghuni lama pun tetap mendapatkannya.

Segelas rindu dengan air kehidupan. Sebungkus kisah yang siap disuguhkan kepada siapa saja. Sepotong roti tawar manis cinta untuk siapa saja yang mengharpkannya. Serta olesan senyum ramah yang tak lelah menyapa siapa saja. Jamuan sederhana khas Kampung Fiksi untuk siapa saja yang ingin mengenalnya.

capture KAMPUNG FIKSI LOGO

“Ikut memeriahkan ultah Kampung Fiksi yang ke-3 bersama Smartfren, Mizan, Bentang Pustaka, Stiletto Book dan Loveable.”

Iklan

4 thoughts on “Kampung Fiksi, Gaya Kampung Tapi Tak Kampungan

  1. Saya harus berfikir dua tiga empat kali jika dihadapkan pada keharusan untuk menulis fiksi … entah mengapa saya sulit mengungkapkannya …
    akhirnya … biasanya malah … cerita nyata … tapi tokohnya diganti-ganti sedikit … hehehe …

    Salam saya Mas Nuz

    (5/3 : 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s