Kini Kau Beranjak Remaja


Ketika mata penat, tubuh kuyu dan pakaian lusuh. Harusnya segera beranjak untuk bersihkan diri dan beristirahat. Demikian yang seharusnya dilakukan. Tapi tidak demikian denganku. Saat seorang anak dikabarkan sakit di perantauan, maka segera berangkat menengok. Itulah yang pasti akan dilakukan.

Tak terasa, hal seperti itu sudah 9 tahun aku lakukan. Sejak puteri pertamaku masuk pondok pesantren di 6 tahun usianya. Kemudian disusul dengan kedua adiknya. Meski dengan tempat yang berbeda. Sebab mereka memilih tempat mondok yang disukainya sendiri-sendiri.

Alhamdulillah, meski cukup berat bagi kami berlima. Perjalanan waktu cukup membuktikan, begitu kuatnya cinta kasih diantara kami. 6 tahun masa kecil mereka, begitu kuat melekat di hati kami. Homeschooling membuat kami menjadi tangguh. Siap menghadapi kemungkinan apapun.

Cita-cita mereka sebagai ustadz dan ustadzah begitu mulia. Meski terkadang kami mencoba ‘menggoyahkan’ keinginan mereka. Dengan tawaran pendidikan plus lainnya di kota kami. Ya, kami coba ‘bujuk’ untuk lebih dekat dengan kami. Tapi rupanya niat sudah terpancang penuh di hati dan jiwa mereka.

editan

Tak sedikitpun bergeming untuk menerima tawaran kami. Meski kadang terbersik rasa kangen setiap saat kepada mereka. Sebab merekalah anak-anak kami yang sangat kami sayangi dan cintai. Jarak ratusan kilo meter semakin menguji kasih dan sayang kami.

Peristiwa-peristiwa berjajar yang mengharu-biru. Saat mereka sakit berat pun, mereka tak mau pulang. Ada tanggungjawab mereka untuk tak mau kehilangan hafalan. Ya, anak-anak kami adalah hafidz dan hafidzah. Keinginan kami sejak pertama kali menikah. Agar diberikan anak yang sholih dan sholihah.

Bermain sepeda elektrik di Taman Kota Kebonrojo.
Bermain sepeda elektrik di Taman Kota Kebonrojo.

Justeru jarak dan waktu yang memisahkan, membuat kami semakin tangguh. Begitu kuat dan lekat jiwa-jiwa mereka disetiap hisapan nafas kami. Penyemangat kami untuk bekerja dan beribadah. Memberikan seluruh kasih kami lewat rangkaian doa-doa. Selalu kami alirkan dalam tiap kesadaran kami.

Anak-anak kami adalah generasi yang mandiri. Berusaha untuk selalu kuat di setiap peristiwa. Yang menjadi bahan candaan saat masa liburan mereka datang. Berkumpul kembali berlima mengisi hari-hari penuh keceriaan. Membuat indah dan  terang rumah kami dengan bacaan dan lantunan merdu hafalan mereka.

Ya Alloh, terima kasih. Kau berikan anugerah terindah dalam hidup kami. Bukan dengan harta berlimpah. Atau jabatan yang berderet dan setinggi langit. Namun dengan jiwa-jiwa suci anak kami. Yang senyumnya selalu menghiasi relung jiwa kami, abi dan umminya. Serta kasih sayang dan cinta yang selalu mengikat diantara jiwa kami.

 

[berpartisipasi dalam B Blog]

Iklan

4 thoughts on “Kini Kau Beranjak Remaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s