Balada Aku dan Isteriku


abi-guru

Aku dan isteriku adalah guru. Mengajar anak-anak setingkat SD. Kami sama-sama guru non-PNS. Meski aku sendiri dulu pernah jadi PNS. Bagi kami, guru adalah suatu hobi. Bukan pekerjaan. Sebab kami memang tidak digaji. Ada honor dari negeri, tapi entahlah. Datangnya mesti tak pasti. Malah kadang sama sekali.

Sebagai penghobi guru, kami tak boleh bodoh. Teknologi informasi harus kami ketahui. Tentu saja agar tak sampai kalah dengan siswa tercinta. Pertanyaan mereka kadang menohok kami. Sepintar reporter saat dengan keponya tanya pada nara sumber ahli. Untunglah aku sendiri sejak lama penghobi komputer. Jadi tukang servis komputer malah.

Namun tidak bagi istireku. Teknologi komputer seperti momok. Megang keyboard saja takut. Takut rusak, sebab harganya cukup mahal. Demikian katanya. Rasa trauma itu rupanya tak pernah hilang. Ketika 2005 yang lalu sempat menumpahkan air di keyboard laptop baruku.

Meski coba aku bujuk betapa pentingnya mengenal dan bisa komputer. Tak perlu mahir. Masih saja dia bergeming. Sampai saat ketemu batunya kemarin. Mengerjakan proposal tesis berbarengan dengan PLPG. Laptop baru yang hampir menjamur. Disentuh juga akhirnya. Dalam hati pun aku berkata,”Baru tahu dia…”

Keluhan guru yang usianya di atas 40 tahun. Bagiku dapat dimaklumi. Bagi mereka (seperti isteriku) informasi tak selalu harus didapatkan dari internet. Apalagi dia adalah seorang kutu buku. Namun tak lelahnya aku mencoba memberi motivasi. Mengenal komputer adalah salah satu gerbang utama menuju kekayaan informasi. Secepat apapun kita membaca manual book. Akan lebih cepat jika kita membuka lewat elektronik glosari dan katalog.

Inipun seringkali aku sampaikan pada siapa saja. Apalagi kawan atau sahabat guru. Betapa pentingnya kita mengenal pembelajaran elektronik. Dinamika itu begitu deras. Menuntut kita untuk mau tidak mau harus mau. E-learning, e-library, e-educatin dan e-learning adalah istilah-istilah yang harus kita akrabi. Jika mau meningkatkan kualitas dan kuantitas pembelajaran.

Bayangkan, jika ada anak seusia kelas 1 SD bertanya,”Bu, wifi itu apa sih?”

Lalu karena kegagapan kita terhadap teknologi, akhirnya jawaban kita ngawur. Tentu malu bukan? Hal-hal yang terlihat sepele seperti ini, akan menjadi masalah bagi kita. Jika kita tak mau belajar lebih keras lagi untuk tahu.

Oleh karena itu, marilah kita memotivasi seluruh sahabat kita. Bahwa dengan mengenal dan belajar teknologi informasi dan komputer, maka selangkah kita lebih cerdas.

Mau bukti? Setelah 6 bulan belajar secara otodidak. Isteriku sekarang tak bisa lepas dari laptop atau internet.

ga2-javalamp

Iklan

15 thoughts on “Balada Aku dan Isteriku

  1. Keren pak…mengabdi mencerdaskan anak bangsa. Seharusnya guru seperti anda ini yang patut diberi penghargaan. Anyway, ikut seneng akhirnya sang istri bisa pakai laptop πŸ™‚

  2. Mantap pak… semoga makin lancar ber-teknologi komputer bersama istri tercinta. Tertarik dengan komentar : Dalam hati pun aku berkata,”Baru tahu dia…”
    Sudah tercatat sebagai peserta. Makasih atas partisipasinya …. πŸ˜€

  3. zaman kini memang tak lepas dari kemajuan teknologi..segalanya terkait dengan hal itu, mau tak mau kita harus mempelajarinya agar tak ketinggalan jaman, alhamdulillah akhirnya istri mas Nuzulul bisa juga melek teknologi.sehingga tak mau lepas dari laptop…setelah belajar hanya dalam 6 bulan …sungguh luarbiasa,
    selamat berlomba, semoga menjadi yang terbaik…keep happy blogging always…salam dari Makassar πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s