UMK Naik: Bisnis Juga Naik


Buruh berangkat demo di NIP Mojokerto. (Foto koleksi pribadi)
Buruh berangkat demo di NIP Mojokerto. (Foto koleksi pribadi)

Sebagaimana yang terjadi pada tahun 2013 ini. Tahun 2014 nanti diprediksi akan terjadi banyak gejolak yang menyangkut penerapan Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK). Sebagaimana diketahui upaya mediasi lewat tripartit seringkali mengalami ‘deadlock’. Di satu sisi, buruh menghendaki adanya ‘kelayakan’ terhadap sistem pengupahan yang mereka terima. Sementara di sisi pengusaha. Mereka tentu akan mengupayakan bagaimana caranya agar upah buruh tetap dapat dikondisikan dalam sistuasi yang ‘normal’ (seminim mungkin).

Adanya dua kepentingan yang bertolak belakang ini, seringkali menjadikan pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja setempat dalam posisi yang dilematis. Apalagi seringkali kepentingan politis mewarnai diputuskannya UMK oleh gubernur sebagai pihak yang meneken ketentuan tentang pemberlakuan UMK.

Apindo sebagai pihak yang menanggung akibat dari penerapan UMK tentu aka seoptimal mungkin menjembatani kepentingan para anggotanya. Meski seringkali di lapangan, tak semua anggota atau yang belum jadi anggota Apindo akan mentaati keputusan yang diteken oleh gubernur itu.

Kenaikan UMK tentu akan berimbas secara signifikan terhadap kelangsungan perusahaan. Bagi perusahaan yang memiliki modal tetap dan lancar yang tidak tergantung kepada hutang bank, mungkin efeknya tak sebesar jika perusahaan itu memiliki hutang modal yang besar kepada bank.

Maka seberapa besar hutang modal pada bank ditambah dengan ekspansi pemasaran produk akan berpengaruh terhadap pemberlakuan UMK yang baru.

Untuk itu ada beberapa trik atau upaya-upaya cerdas dalam menghadapi kenaikan UMK yang harus dilakukan oleh pengusaha. Upaya-upaya itu diantaranya adalah seperti di bawah ini:

  1. Pekerja. Dari sektor pekerja hendaknya lebih menekankan pada manajemen pengelolaan kinerja. Kompetensi dan skills pekerja benar-benar dapat dilihat secara proporsional sehingga dapat mengefisiensikan kinerja dan proporsi upah yang seharusnya diterima. menyesuaikan dengan beban kerja dan produktivitas yang sebenarnya. Penambahan tenaga kerja harus memperhatikan prinsip utilitas.
  2. Produk. Meningkatkan kualitas produk dengan menghindari sekecil mungkin sisa produk atau gagal produk. Sisa produk yang berlebihan dan tidak termanfaatkan akan mengurangi hasil produk. Sedangkan gagal produk akan mengurangi nilai efisiensi kerja. Oleh karena itu perusahaan agar menerapkan standar produk yang benar aplikatif. Tidak sekedar berhenti pada perolehan sertifikat-sertifikat kualitas produk dan lainnya.
  3. Pemasaran. Promosi dan penetrasi pasar harus lebih ditingkatkan seiring dengan daya saing produk yang sama dengan harga murah dari luar negeri. Kebijakan AFTA seringkali justeru menjadi bumerang bagi pengusaha dalam negeri. Sebab serbuan barang dari luar seringkali ditawarkan dengan harga yang tak masuk akal. Hal ini bisa berlangsung salah satu sebabnya adalah adanya pemberlakuan sistem dumping dari negara pengirim.
  4. Regulasi. Hendaknya pemerintah dapat membuat aturan-aturan yang tak menyulitkan para pengusaha dalam rangka peningkatan jumlah ekspor. Kebijakan bidang pajak dan fiskal seringkali dikeluhkan oleh para pengusaha. Sehingga seringkali dijumpai pengusaha yang melakukan ‘upaya damai’ dengan para petugas pajak atau pabean demi meloloskan bahan impor atau produk impornya. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menekan biaya bahan atau dapat menjual barang di luar negeri dengan harga yang terjangkau.

4 upaya di atas adalah cara bagaimana agar kelesuan dunia usaha dapat dicegah seiring dengan kenaikan UMK yang diteken oleh pemerintah (baca: gubernur). Bagaimana pengusaha dapat membayar dengan UMK sesuai dengan ketentuan kalau pada akirnya membuat perusahaan itu bertambah kolaps akibat biaya modal yang tinggi.

[Artikel untuk Lomba Esai 2 Ciputra ”Bagaimana Cara Meningkatkan Kinerja Bisnis Ketika Terjadi Kenaikan Upah Buruh?”]

Iklan

12 thoughts on “UMK Naik: Bisnis Juga Naik

  1. Saya pernah dengar talkshow di TV yang membahas masalah tuntutan kenaikan upah buruh ini yang mengatakan kalau sebenarnya pengusaha sebenarnya tidak masalah menaikkan buruh, asal pungli itu tidak ada. Karena katanya pungli di indonesia itu justru sangat besar.

  2. Saya setuju bahwa pemerintah seharusnya menjadi katalis dan stabilisator bagi dunia usaha. Curhat dari temen-temen, sekarang ini biaya modal tinggi sekali, terutama di sektor “damai”. Belum lagi ditambah kalau UMK naik. Mo jadi apa pengusaha? Bisa-bisa yang cita-citanya jadi pengusaha malah pengen jadi buruh saja. πŸ˜€

    1. …. πŸ˜€ . betul mas iwan. apalagi wirausahawan yang berkantong cekak seperti saya. urusan administratif seringkali tidak bisa menghindari dari yang damai.
      ‘damai tapi menyakitkan’.
      matur nuwun. πŸ™‚

  3. terkadang buruh memang tidak mau tau kemampuan perusahaan dalam menggajinya, yang penting naik ! karena kebutuhan bahan pokok yang meninggi. saya rasa 4 solusi di atas memang sangat membantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s