Kalah Bukan untuk Dicaci, Menang Bukan untuk Disajung


Timnas Indonesia di gelaran Sea Games Myanmar. (Foto koleksi Prasetyo Utomo/ANTARA)
Timnas Indonesia di gelaran Sea Games Myanmar. (Foto koleksi Prasetyo Utomo/ANTARA)

Kekalahan tim sepak bola U-23 Indonesia dari tim Thailand dengan skor telak 1-4 (12/12)  rupanya begitu menyesakkan dada. Sehingga tokoh sepak bola yang biasa jarang berkomentar dan santun jika menyampaikan penilaiannya, tiba-tiba menjadi garang dalam memberikan komentar.

Tentu hal ini ada sebabnya. Kegusaran dan kegalauan hati atas prestasi Timnas U-23 di gelaran Sea Games 2013 Myanmar ini rupanya begitu memuncak. Pemusatan latihan, menciptakan mini games internasional dan fasilitas penunjang lainnya ternyata masih saja belum dapat mengubah ‘nasib’ tim tersebut. Bandingkan dengan Timnas U-19 yang dengan fasilitas sekedarnya, mampu menjuarai Piala AFF dan berhasil menggulingkan juara dunia U-19 tahun 2013, Korea Selatan.

Banyak pelajaran sebenarnya dapat kita petik dari peristiwa di atas. 2 kejadian yang kontras itu hendaknya dapat menjadi perhatian kita bersama. Ada satu perbedaan yang jelas. Juga ada persamaan yang jelas.

Perbedaan yang jelas itu adalah mereka bermain di level yang berbeda dan dengan hasil yang berbeda pula. Sedangkan persamaannya juga jelas. Mereka adalah representasi pemuda-pemuda Indonesia yang memiliki talen dan skills yang terbaik dalam bidang sepak bola.

Dari perbedaan dan persamaan yang begitu jelas tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa: jika mereka adalah yang terbaik dari pemuda Indonesia di bidang sepak bola, mengapa bermain di level yang berbeda hasilnya juga berbeda?

Ini menjadi satu pekerjaan yang harus diselesaikan secara holistik dan integral oleh seluruh insan persepakbolaan Indonesia tentunya. Pujian yang melambung atas Timnas U-19 ternyata berbanding terbalik dengan cacian terhadap Timnas U-23. Rasa kecewa seringkali terlupakan atas perjalanan demi mencapai prestasi itu sendiri.

Banyak faktor yang menjadi penyebab kekalahan. Demikian juga banyak faktor yang menyebabkan kemenangan. Kemudian, sudahkah ada sinkronisasi antara faktor-faktor tersebut untuk membangun sebuah Timnas yang bagus di semua level?

Sekali lagi. Kita harus mau untuk kembali belajar dari peristiwa kemenangan. Kita juga harus mau belajar dari setiap peristiwa kekalahan. Sebab tak seharusnya kekalahan berbuah cacian. Sebaliknya, tak seharusnya setiap kemenangan berbuah sanjungan.

Bisakah kita?

[Mari kita bersama untuk segera beranjak tunaikan Sholat Jumat di Masjid.]

Iklan

2 thoughts on “Kalah Bukan untuk Dicaci, Menang Bukan untuk Disajung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s