Cinta Tak Harus Memilih


Masih saja kami terdiam. Menghitung satu dua kemungkinan yang akan terjadi. Meski aku sendiri tak akan lakukan hal ini tanpa alasan yang kuat. Seperti kata Azhari, kawan sekantorku kemarin. Bahwa hanya orang gila saja yang membuat keputusan untuk resign. Meninggalkan sebuah jabatan wakil direktur yang butuh waktu berpuluh tahun untuk merintisnya.

“Aku…aku…,” terasa berat aku mau lanjutkan.

Sementara Aida masih saja begitu nanar saat ku pandang. Entah sudah berapa puluh menit kami saling berdiam diri. Setelah ku sampaikan keputusanku yang sulit juga baginya untuk menerima.

“Aku mohon maaf dinda,” setengah tercekat aku menyampaikan permintaan maaf itu. Ku lirik, bulir-bulir bening mulai menuruni pipi lembut itu.

“Oh, ya Alloh. Jika Engkau menghendaki hal ini terjadi pada kami. Maka demi ibuku, aku ikhlas ya Alloh,” ucapku lirih dalam hati.

Untuk kali ini, jebol juga pertahananku. Tiba-tiba begitu deras air mata ini menetes tanpa bisa ku tahan lagi.

Ibu, permintaan terakhirmu saat aku pulang ke rumahmu kemarin begitu menyayat hatiku. Tidakkah ini satu pertanda bagiku? Aku harus pulang. Merajut asa kembali demi kesembuhan ibuku yang terserang stroke untuk ke-tiga kalinya.

“Win… ibu sudah tak inginkan apa-apa lagi. Ibu bahagia melihatmu bahagia,” dengan lirih dan nafas tersengal beliau membisikkan kata-kata itu di telingaku.

“Ibu ingin kamu temani untuk kali ini saja. Kamu tidak keberatan kan?”

Ibuku memang tipe orang yang tak suka meminta kepada siapapun. Pun pada anak-anaknya. Apalagi kepada 4 orang kakakku. Hanya kepadaku saja beliau ‘berani’ meminta sesuatu. Karena memang akulah, anak bungsunya yang biasa untuk menawarkan sesuatu.

“Maaf bu. Jangan berpikir demikian. Untuk ibu, apapun insyaalloh akan Windra lakukan. Bagi Win, yang penting ibu dapat pulih kembali,” hiburku.

Kata-kata terakhirku itulah yang selalu terngiang. Hingga pada satu pencapaian yang sulit dalam perjalanan karirku. Aku harus mengundurkan diri dari perusahaan yang telah besarkan kaririku.

Sekaligus memberi pilihan yang sulit untuk Aida. Sebab kami harus menikah 3 minggu lagi. Jarak antara Singapura dan Jogja bukanlah jarak yang dekat. Sementara karir Aida pun sedang bagus-bagusnya di sebuah perusahaan jasa konstruksi di negeri ini.

“Kanda insyaalloh sudah bermunajat din…,” pelan coba aku kembali membuka pembicaraan.

“Permintaan ibu untuk tak mau lagi dirawat di rumah sakit itu seperti amanat yang tak bisa ku tolak.”

Ku lihat wajah tirus nan sembab itu memandangku lekat.

“Kanda… dinda mohon maaf,” dan tanpa tersadar dirinya telah bersimpuh di hadapanku. Begitu kuat bergetar badannya menahan isak.

Lalu pelahan, aku beringsut untuk memapahnya. Sambil sesekali menyeka wajahnya yang telah basah oleh uraian air mata.

“Dinda… tak usahlah minta maaf. Justeru kanda yang harus meminta maaf. Atas permakluman ini semua.”

“Alloh pasti akan berikan jalan yang terbaik. Pekerjaan pasti akan bisa cari lagi nantinya. Tak usah dinda gundah,” aku coba yakinkan. Meski dalam hati juga masih diliputi kegamangan dengan keputusanku ini. Satu keputusan yang tak mudah memang.

Kembali lagi kami saling terdiam. Sebab rangkaian kata mungkin sudah tak mampu lagi kami untaikan. Masih saja isak lirih ditingkah rintik hujan yang masih saja belum berhenti di luar.

Kami sadar, cinta kami mungkin sudah tak berikan lagi pilihan.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam “Birthday Giveaway “When I See You Again”

di blog: http://itshoesand.wordpress.com

Iklan

One thought on “Cinta Tak Harus Memilih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s