Ketika Koruptor Ketemu Batunya


kontes blog anti korupsi

Korupsi. Satu kata tapi begitu dahsyat efeknya. Berapa banyak rakyat teraniaya dalam kefakiran sebab biaya pembangunan digarong secara brutal oleh aparatur negara. Berapa banyak anak yatim yang terpinggirkan nasibnya, akibat negara tak mampu menafkahi mereka. Meskipun undang-undang dasar sudah memerintahkan negara untuk memelihara mereka.

Efek-efek lain yang secara sistemik membuat rapuhnya negara dalam hal ini pemerintahan untuk melindungi rakyat. Uang negara dinikmati hanya oleh segelintir manusia-manusia rakus yang bersembunyi di balik ‘kebijakan’ dan siasat culas membuat aturan-aturan yang pada akhirnya demi kepentingan kantong mereka sendiri.

Rakyat hanya dijadikan alibi. Kepentingan rakyat dijadikan topeng diri untuk melegitimasi  kepentingan diri, kelompok, organisasi atau partai untuk ‘menyikat’ modal pembangunan dengan sebersih-bersihnya. Tsumma na’udzubillah.

Prof. Dr. Nur Syam, MSi., menjelaskan bahwa dalam Islam korupsi sama dengan rishwah atau uang suap. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dinyatakan : “Allah melaknat orang yang memberi suap, penerima suap, dan broker suap yang menjadi penghubung di antara keduanya”.  Korupsi dapat dinisbahkan dengan tindakan melakukan penyuapan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Memberikan suap berarti melakukan korupsi.

Kemudian beliau melanjutkan bahwa di dalam pengertian tindakan merusak, maka korupsi dikaitkan dengan istilah fasad.  Didalam Al-Qur’an (QS. 7: 55) Allah berfirman: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya”. Di dalam Al-Qur’an (QS. 7:85) Allah berfirman: “janganlah kamu menipu manusia sedikitpun dan janganlah berbuat kerusakan sesudah sebelumnya Tuhan memperbaikinya”. Melakukan korupsi berarti merusak atau menodai terhadap kejujuran atau merusak proses yang seharusnya berlangsung dengan cara memberikan sesuatu untuk mencapai tujuan sesuatu.

Berangkat dari sinilah Mahkamah Agung (MA) melalui ‘trio’ hakim agung Artidjo, MS Lumme dan Mohammad Askin berani memberikan hukuman telak kepada Angelina Sondakh. MA memperberat hukuman terpidana kasus korupsi Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Pemuda dan Olahraga, dari empat tahun enam bulan penjara menjadi 12 tahun penjara.

Foto koleksi VOA/Fathiyah Wardah.
Foto koleksi VOA/Fathiyah Wardah.

Putusan kasasi tersebut menyatakan juga bahwa Mantan Anggota DPR dari Fraksi Demokrat itu diwajibkan membayar uang pengganti senilai Rp12,58 milliar dan 2,35 dolar Amerika atau sekitar Rp27,4 milliar.

Artidjo Alkotsar saat ini cukup menjadi momok bagi para koruptor. Sebagai seorang muslim yang taat, pembawaan pria keturunan Madura yang sangat low profile dan sederhana ini cukup diseganai oleh praktisi hukum maupun para dosen hukum di Indonesia. Jabatan tidak membuatnya tergiur dengan mewanfaatkan fasilitas mewah yang memang sudah sepantasnya didapatkannya.

Hakim Artidjo Alkotsar. (Foto koleks Rimanews dot com)
Hakim Artidjo Alkotsar. (Foto koleks Rimanews dot com)

Masih setia mengajar di alamamaternya di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada mata kuliah Etika Profesi dan Hukum Acara Pidana pada tiap akhir pekan.

Konsistensinya menunjukkan dedikasinya yang luar biasa pada dunia pendidikan. Menebarkan harapan akan lahirnya kembali sosok Artidjo baru, Baharudin Loppa baru, Mahfud MD baru dan hakim-hakim yang memiliki hati. Memiliki nurani keberpihakan terhadap negeri dan nasib anak negeri yang terpinggirkan oleh sejarah.

Cercaan, hinaan, sikap sinis terhadapnya sudah bukan barang baru sejak dia menjadi pengacara di Yogyakarta. ‘Sok mencari popularitas’ demikian julukan dari para ‘lawan mainnya’. Artidjo tetaplah Artidjo, selalu memberikan fatwa hukum yang jelas dan telaah mendalam. Hal itu pula yang menjadikan beberapa keputusan Pengadilan Tinggi Tindak Korupsi (Tipikor) Jakarta beberapa kali dipatahkan, bahkan makin memperberat keputusan hukumnya.

Negeri ini memerlukan sosok seperti ini, sebagaimana sosok Gus Dur yang dengan segala kontroversialnya mampu meretas batas antara sosok seorang presiden dan rakyatnya.  Memotong jalur protokoler yang membatasi suaranya untuk dapat berdialog langsung dengan rakyat.

Buku ‘Peradilan HAM, Indonesia dan Peradaban’ karyanya menggambarkan apa yang di batinnya, pikirannya serta tindakan nyatanya dalam memberikan kontribusi postif bagi dunia peradilan di Indonesia. Meski dalam berbagai sisi, masyarakat sudah terlanjur sinis terhadap ‘korp pemegang palu’ di negeri ini.

Rupanya pernyataan beliau dalam sebuah seminar di Surabaya bulan Pebruari lalu bahwa akan menjadi orang (hakim) pertama yang akan menjatuhkan vonis mati terhadap seorang koruptor bukan hal yang main-main. Langkah ke arah situ pun mulai jelas terbaca. Hal ini seharusnya dijadikan momentum yang baik untuk dunia peradilan Indonesia.

Upaya-upaya untuk mempersulit gerak koruptor. Termasuk memberikan putusan hukuman yang sangat berat patut dijadikan contoh nyata. Tidak perduli siapa atau status apa yang disandangnya. Meskipun itu bukalah seperti pekerjaan menyapu sampah dedaunan dari halama rumah kita. Kita juga secara berani harus membentuk diri sebagai insan yang anti korupsi sebagaimana pribadi dari seorang ahli sunnah wal jama’ah (aswaja). Selalu menegakkan kebenaran meski itu kadang menyakitkan bagi diri sendiri.

Paling tidak, kita masih percaya ada harapan untuk menuju Indonesia yang lebih baik dan berkeadilan. Termasuk keadilan dalam pengadilan yang merupakan salah satu proses sosial untuk menumbuh rasa percaya diri masyarakat terhadap pemerintahannya.

[Artikel disertakan dalam Kontes ‘Mari Perbaiki Bersama’.]

Iklan

12 thoughts on “Ketika Koruptor Ketemu Batunya

  1. sebagai salah satu pemduduk dari negara yang mempunyai peringkat korupsi cukup baik, kayaknya udah ga herean klo di media banyak banget koruptor yang bergentayangan 😦
    semenjak ada KPK jadi banyak koruptor yg ketangkep. dl sebelum ada KPK, koruptornya pada kmn ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s