Inspirasi: untuk Sebuah Cita-Cita


abi kig3

Sebagaimana rencana yang telah kami susun dan sesuai arahan kepala sekolah, saya masuk pada gabungan kelas 5 dan 6. Jumlah siswa adalah 38 anak. Kelas V terdiri dari 24 anak, sedangkan kelas VI 15 anak. 1 siswa yang tidak masuk dari kelas V. 
Suasana cukup heboh dan hingar bingar saat saya masuki ruang kelas. Sebelumnya panitia telah terlebih dahulu masuk dengan memberi pengantar. Mulailah saya buka dengan ucapan salam dan sebuah game kecil. Game yang memang sudah biasa saya mainkan saat kegiatan outbound dengan anak-anak. 

Mengalirlah aktivitas ‘mengajar’ saya. Ditingkahi berbagai sikap usil, yang menurut Bu Kus tadi mungkin di Indonesia hanya bisa ditemui di sini. He…he…he… Mungkin para pembaca dapat bayangkan, apa yo tumon murid berantem beneran saat pelajaran. Ini tidak hanya satu kejadian. Tapi 3 kejadian di saat yang bersamaan. 
Kaget? Pasti sempat kaget. Kok bisa situasi seperti ini terjadi di dalam kelas. Makanya guyonan ‘uji nyali’ cukup tepat untuk menggambarkan situasi seperti ini. Tapi untunglah saya sudah mengantispasinya. Malah menjadi titik masuk materi yang saya sampaikan. Dengan sedikit improvisasi, reposisi tempat duduk saya lakukan. Hal yang biasa yang dilakukan oleh seorang personalia untuk memindah atau menukar unit kerja bagi karyawan yang sudah terlihat jenuh pada bagian atau unit kerjanya. 
Protes? Jelas! Namun dengan membuat kesepakatan bareng hal itu bisa diredakan. Plus mengikat mereka dengan semangat yel-yel ‘cita-cita setinggi langit’. Maka jika suasana ‘memanas’ yel-yel itu saya gunakan untuk ‘mendinginkan’ suasana. Membangun suasana simpatik menjadi perkerjaan yang cukup menarik. Menciptakan suasana dialogis menjadi salah satu pilihan yang tak sia-sia. 
Dari dialog itulah akhirnya muncul rasa syukur luar biasa di hati saya. Ada hikmah saya mendapatkan penempatan di sekolah ini. Bahwa begitu luar biasa para ibu serta bapak guru di sekolah ini. Kesabaran merekalah yang insyaalloh nantinya mengantar anak-anak ini untuk menggapai cita-citanya. Berbagai tindakan provokatif yang tak terbayangkan dilakukan oleh anak seusia mereka. 
Sempat beberapa saat mulut tercekat. Saat seorang siswa menyatakan diri ingin menjadi perampok. Subhanalloh, semoga bukan itu yang ada dalam hati kecilnya. Menurut beberapa guru memang demikian kondisi sehari-hari mereka. Kondisi keluarga yang sebagian besar sebagai kaum urban, kadang tidak begitu menghiraukan bagaimana seharusnya mendukung anak dalam bersekolah. Kondisi yang paling mencolok adalah siswa kelas V. 
Ada satu lagi yang cukup membuat senyum mengembang. Ada seorang siswa yang ingin menjadi ‘marjinal’. Saat saya tanya,”Marjinal itu apa?” 
“Nggak tahu, Pak,” jawabnya dengan polos dan terbengong-bengong. 
Derasnya informasi yang beredar, kadang memerlukan filter dari orangtua untuk memahamkannya. Ini yang mungkin mereka ‘kurang beruntung’, mendapatkan pendampingan. Jadilah saya menggambarkan bagaimana cara untuk membangun cita-cita. Menumbuhkan, memupuk serta agar menjadi buah. Sebab sudah menjadi hak mereka untuk membangun cita-cita mereka setinggi langit.

abi kig4

Kelas Inspirasi akan memperoleh banyak kenyataan seperti ini. Suatu fenomena yang kita tak dapat menolaknya. Tinggal kita mencari formulasi yang tepat untuk menjembatani kesenjangan informasi yang cukup fatal akibatnya jika tidak diarahkan sesuai dengan proporsinya.
Anak-anak Indonesia yang sudah seharusnya memperoleh pendidikan yang layak. Apapun latar belakang kehidupan keluarga mereka. Memberikan makna yang indah atas masa kecil, masa keemasan anak yang menjadi haknya. Mengabadikan senyum untuk sebuah cita-cita yang mungkin suatu saat membuat mereka tersadar. Bahwa menjadi manusia yang berguna untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat serta bangsa dan negara, adalah sesuatu yang pernah mereka gambar di dinding hati di masa kecilnya. (Bersambung)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s